Tiga tahun lalu, Sara Cabral, 26 tahun, tidak berbeda dari kebanyakan remaja Eropa Selatan — tumbuh sebagai Katolik nominal tanpa praktik nyata. Hidupnya di Kepulauan Canary, Spanyol, tak punya banyak ruang untuk urusan gereja. Kemudian sebuah lagu dari kelompok iman muda mengubah segalanya. “Tuhan yang pertama mencarimu, tapi kamu harus pergi menemuinya,” katanya. Kini Cabral mempersiapkan diri dengan antusias untuk menghadiri Misa Paus Leo XIV di Gran Canaria bersama teman-temannya.
Fenomena ini bukan kebetulan. Kebangkitan minat iman Katolik di kalangan anak muda Spanyol terjadi di tengah paradoks yang menarik : negara dengan hampir 23.000 paroki aktif, namun hanya 16% umat Katolik yang menghadiri Misa mingguan, menurut survei Pew Research Center tahun 2024. Dari 80% orang Spanyol dewasa yang dibesarkan Katolik, kini hanya 47% yang masih mengidentifikasi diri demikian.
Gerakan iman muda tumbuh di luar tembok gereja
Hakuna, komunitas iman muda yang kini beranggotakan sekitar 35.000 orang, bermula di sebuah paroki Madrid awal 2010-an. Sekelompok mahasiswa mengadakan adorasi Ekaristi mingguan sederhana, diikuti ceramah singkat, lalu kumpul bersama di bar lokal. Sederhana, tapi nyata. Gerakan ini resmi menjadi organisasi awam Gereja Spanyol pada 2017 dan telah meluncurkan tujuh album musik Kristen.
“Ini karya Roh Kudus, kami sendiri yang paling terkejut,” kata Maca Torres, juru bicara Hakuna. Mayoritas anggotanya adalah mereka yang sempat berhenti berpraktik, bukan mualaf baru. Pola serupa terlihat di Prancis : 13.000 orang dewasa dibaptis pada Malam Paskah tahun ini, dengan 42% di antaranya berusia 18 hingga 25 tahun — tiga kali lipat dibanding satu dekade lalu, menurut Konferensi Uskup Katolik Prancis.
| Negara | Baptisan dewasa (terbaru) | Kelompok usia dominan |
|---|---|---|
| Spanyol | 13.300+ (usia di atas 7 tahun) | Remaja dan dewasa muda |
| Prancis | 13.000 (Malam Paskah 2026) | 18–25 tahun (42%) |
Apa yang mendorong mereka ? Para peneliti menyebut dua faktor utama : kekecewaan terhadap institusi lain dan kejenuhan dengan kesepian yang tumbuh di media sosial, serta gereja yang sejak era Paus Fransiskus lebih berfokus pada keadilan sosial daripada doktrin ketat.
Sagrada Familia dan kunjungan bersejarah Paus Leo XIV
MarÃa Salazar, 23 tahun, memimpin cabang Barcelona dari gerakan Katolik global Effetá. Parokinya kebetulan adalah salah satu monumen paling dikunjungi di Eropa — Sagrada Familia, mahakarya arsitek Antoni GaudÃ. Sekitar 120 anak muda aktif dalam adorasi dan retret spiritual akhir pekan di sana. “Kami hidup di masyarakat microwave — segalanya harus instan — tapi Tuhan tidak bekerja seperti itu,” katanya dengan tegas.
Pada 10 Juni, Paus Leo XIV akan merayakan Misa di Sagrada Familia dan meresmikan menara Yesus Kristus yang baru. Kunjungan ke Spanyol ini dimulai 6 Juni, dengan vigili doa bersama pemuda di alun-alun besar Madrid, dilanjutkan kunjungan ke pusat pengungsi di Canary Islands dan penjara dekat Barcelona. Ini adalah fenomena yang juga relevan dengan kebangkitan Katolik di kalangan Gen Z yang dipimpin pria muda, tidak hanya di Eropa tapi juga lintas benua.
- Vigili doa pemuda di Madrid, 6 Juni
- Kunjungan pusat migran di Canary Islands
- Misa di Sagrada Familia, 10 Juni
- Peresmian menara Yesus Kristus, Barcelona
Bagi Salazar, momen ini sangat personal. “Kami akan menyambut beliau di rumah sendiri,” katanya. Romo Josetxo Vera dari Konferensi Uskup Katolik Spanyol menyebutnya sebagai kesempatan yang datang dari surga, bukan dari gereja. Sementara itu, profesor Mónica Cornejo Valle dari Universitas Complutense Madrid mengingatkan agar tidak terburu-buru menyimpulkan : profil pemuda Katolik memang makin berkomitmen, tapi jumlahnya belum tentu bertumbuh signifikan.
- Kaum muda Spanyol merangkul Katolisisme dengan antusias - 1 Juni 2026
- Startup ChatGPT untuk Katolik : inovasi terbaru - 31 Mei 2026
- Penemuan arkeologi Turki ungkap asal kristianitas - 31 Mei 2026




