Lebih dari 95.000 umat Katolik telah mendaftarkan diri untuk mengikuti sebuah inisiatif doa yang luar biasa : Global Rosary for Peace, dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober 2026, tepat pada pesta Santo Yohanes Paulus II. Angka ini saja sudah berbicara tentang betapa besarnya kerinduan akan perdamaian di tengah dunia yang terus bergolak.
Acara ini bukan sekadar doa bersama biasa. Ini adalah respons nyata terhadap seruan Paus Leo XIV agar seluruh Gereja bersatu dalam doa Rosario demi perdamaian global. Inisiatif ini diorganisir oleh Holy Cross Family Ministries (HCFM), sebuah lembaga yang lahir dari semangat Beato Patrick Peyton, imam Irlandia yang dikenal sebagai “imam Rosario” dan pencipta ungkapan terkenal “a family that prays together stays together”.
Rosario global : lebih dari sekadar tradisi doa bersama
Pada edisi pertama tahun lalu, 67.000 orang berdoa Rosario secara langsung dalam satu waktu yang sama. Inisiatif itu mendapat berkat langsung dari Paus, dan dampaknya terasa nyata. Tahun ini, jumlahnya melonjak signifikan. Untuk memahami mengapa acara ini begitu penting, perhatikan tujuan yang mendasarinya :
- Menyatukan keluarga, paroki, sekolah, komunitas religius, dan individu dari seluruh dunia
- Memperbarui kepercayaan pada kekuatan doa kolektif
- Mendorong kebiasaan berdoa Rosario secara rutin dalam keluarga
- Merespons berbagai krisis global yang masih berlangsung hingga hari ini
Pastor Fred Jenga, CSC, presiden HCFM, menegaskan bahwa momen ini lahir dari kebutuhan nyata. “Selalu ada krisis global yang memanggil kita untuk lebih banyak berdoa,” katanya kepada EWTN News. Tahun lalu konflik bersenjata mendominasi, dan tahun ini pun situasinya tidak jauh berbeda. Baginya, Rosario bukan ritual usang, melainkan jalur langsung menuju perubahan nyata dalam keluarga dan dunia.
Yang menarik adalah cara Jenga menjelaskan misteri Rosario sebagai cermin kehidupan manusia. Setiap rangkaian misteri, dari sukacita hingga kemuliaan, merangkum pengalaman manusia di berbagai musim kehidupan. Ini bukan teori, ini pengalaman yang bisa dirasakan siapa saja.
| Detail acara | Informasi |
|---|---|
| Tanggal pelaksanaan | 22 Oktober 2026 |
| Momen liturgi | Pesta Santo Yohanes Paulus II |
| Penyelenggara | Holy Cross Family Ministries (HCFM) |
| Pendaftar saat ini | Lebih dari 95.000 orang |
| Link pendaftaran | hcfm.org/pray-for-peace/ |
Cara bergabung dan apa yang bisa kamu harapkan
Mendaftar sangat mudah. Kunjungi situs resmi HCFM di hcfm.org/pray-for-peace/ dan isi formulir pendaftaran. Tidak ada biaya, tidak ada syarat rumit. Cukup niat dan koneksi internet untuk mengikuti siaran langsung doa bersama.
Jenga berharap para peserta pulang, secara metaforis, dengan sesuatu yang konkret : titik awal untuk membangun kebiasaan doa dalam keluarga mereka sendiri. Bukan berhenti setelah 22 Oktober, tapi justru mulai dari sana. Ini selaras dengan semangat doa komunal umat Katolik yang terus menguat dalam berbagai momen penting Gereja.
Frankly, kalau kamu ragu apakah satu doa bisa membuat perbedaan, Jenga punya jawabannya : sepanjang sejarah, setiap krisis besar disambut Gereja dengan seruan doa Rosario. Bunda Maria sendiri, dalam setiap penampakannya, meminta hal yang sama. Para santo hampir semuanya berbagi dua ciri khas : cinta pada Ekaristi dan cinta pada Rosario. Itulah formula yang sudah terbukti, dan 22 Oktober adalah kesempatanmu untuk masuk ke dalamnya.
- Gugatan bias terhadap Kristen dan Yahudi di Dearborn - 23 September 2026
- Rosario global untuk perdamaian : ajakan ke umat Katolik - 23 September 2026
- Pete Hegseth’s Unholy War : analisis mendalam - 18 September 2026




