Nicholas Tom Wright, yang lebih dikenal sebagai N.T. Wright, merupakan salah satu ahli Perjanjian Baru paling berpengaruh di era modern. Mantan uskup Durham ini telah mengabdikan hidupnya untuk menganalisis tulisan-tulisan rasul Paulus, menghasilkan lebih dari 80 buku yang mengeksplorasi dimensi mendalam dari teks-teks kuno tersebut. Melalui karyanya yang terbaru tentang surat kepada jemaat Efesus, Wright menghadirkan perspektif segar tentang bagaimana gereja kontemporer harus memahami dan menerapkan ajaran Paulus dalam konteks abad ke-21.
Visi gereja sebagai model penciptaan baru menurut Wright
Wright menegaskan bahwa tujuan utama gereja bukanlah sekadar menjamin jiwa-jiwa masuk surga setelah kematian, melainkan mewujudkan Kerajaan Allah di bumi. Pemahaman ini berakar pada ajaran Yesus yang mengajarkan agar kehendak Tuhan terjadi “di bumi seperti di surga”. Menurut Wright, kebanyakan umat Kristen Barat modern telah salah memahami inti dari kekristenan alkitabiah, yang sebenarnya menekankan transformasi dunia melalui kehidupan yang berpusat pada panggilan spiritual ketimbang ambisi duniawi semata.
Dalam analisisnya terhadap surat Efesus, sarjana yang pernah mengajar di Universitas Oxford dan St. Andrews ini menjelaskan bahwa gereja seharusnya menjadi komunitas demonstratif. Artinya, jemaat harus menjadi model kerja kecil dari penciptaan baru yang Tuhan sedang lakukan. Komunitas ini terdiri dari orang-orang biasa yang melakukan hal-hal luar biasa, menunjukkan kepada dunia bahwa Allah yang terlihat dalam diri Yesus memang hidup dan aktif. Wright menekankan bahwa komunitas seperti ini harus menarik perhatian orang luar, membuat mereka bertanya-tanya tentang perbedaan yang mereka lihat.
| Aspek ajaran Paulus | Pemahaman tradisional | Interpretasi N.T. Wright |
|---|---|---|
| Tujuan kekristenan | Jiwa masuk surga | Kerajaan Allah di bumi |
| Fungsi gereja | Tempat ibadah mingguan | Model penciptaan baru |
| Peran umat | Menunggu keselamatan | Agen transformasi aktif |
Multikulturalisme sebagai fondasi identitas Kristen
Salah satu tema sentral dalam interpretasi Wright terhadap Paulus adalah multikulturalisme sebagai elemen fundamental dari pesan Injil. Dalam konteks zaman Paulus, perpecahan besar yang ada adalah antara Yahudi dan non-Yahudi. Wright menjelaskan bahwa Paulus mengajarkan bagaimana Yesus telah meruntuhkan tembok pemisah ini untuk menciptakan kemanusiaan tunggal yang baru dari elemen-elemen yang berbeda.
Wright mengkritik praktik gereja modern yang masih mempertahankan segregasi berdasarkan etnis atau warna kulit. Menurutnya, ketika gereja-gereja Kristen memisahkan jemaat berdasarkan ras—membiarkan orang kulit hitam beribadah di gereja mereka sendiri, orang Asia di gereja lain, dan orang kulit putih di tempat terpisah—hal ini merupakan pengingkaran fundamental terhadap pesan inti kekristenan. Praktik semacam ini, tegasnya, tidak ada hubungannya dengan agenda politik tertentu, melainkan merupakan panggilan alkitabiah yang telah ada sejak abad pertama.
Dalam Kekaisaran Romawi, melihat budak dan tuan berada dalam kelompok yang sama, menyebut satu sama lain sebagai saudara, adalah sesuatu yang sangat mengejutkan. Wright mendorong umat Kristen masa kini untuk mempertanyakan batas-batas tersirat dalam masyarakat mereka yang mungkin telah diikuti oleh gereja mereka tanpa disadari. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan kunci yang menurutnya harus direnungkan setiap jemaat :
- Batasan sosial apa yang secara tidak sadar dipertahankan oleh gereja kita ?
- Bagaimana kita bisa melampaui pembagian etnis dalam komunitas gereja ?
- Apakah struktur ibadah kita mencerminkan keragaman ciptaan Tuhan ?
- Bagaimana kita bisa menjadi model persatuan lintas budaya yang autentik ?
Perspektif Wright tentang kepemimpinan perempuan dan peran gender
Wright memberikan pandangan nuansa terhadap teks-teks kontroversial Paulus tentang perempuan, khususnya dalam Efesus 5. Ia berpendapat bahwa ayat-ayat tentang “istri tunduk kepada suami” telah disalahgunakan selama generasi untuk membungkam perempuan. Namun, Wright mengingatkan bahwa bagian tersebut juga memberikan instruksi kepada suami untuk mengasihi istri mereka sebagaimana Kristus mengasihi gereja—yaitu dengan pengorbanan diri total.
Sarjana yang menghasilkan terjemahan Perjanjian Baru sendiri ini menunjukkan bahwa sikap Paulus terhadap perempuan jauh lebih progresif daripada yang sering dipahami. Ia mencontohkan bagaimana Paulus mempercayakan Febe, seorang diaken perempuan, untuk membawa dan kemungkinan menjelaskan surat Roma—salah satu surat paling penting dalam sejarah manusia. Ini menunjukkan bahwa Paulus tidak memiliki masalah dengan kepemimpinan perempuan dalam konteks yang lebih luas.
Terkait pengangkatan Sarah Mullally sebagai Uskup Agung Canterbury, Wright mengakui bahwa beberapa tempat akan mengalami kesulitan menerima kepemimpinan perempuan. Namun, ia optimis bahwa pengalaman langsung dengan kepemimpinan perempuan yang berkualitas dapat mengubah pandangan orang, sebagaimana yang terjadi ketika Gereja Anglikan pertama kali menahbiskan pendeta perempuan. Wright menekankan bahwa penolakan terhadap kepemimpinan perempuan sering kali lebih didasarkan pada konstruksi ideologis ketimbang ajaran Paulus yang sebenarnya.
- Mayoritas pemilih Katolik dukung Trump dan deportasi meski uskup khawatir - 13 Desember 2025
- Leo dan Bartholomew di Nicaea : kisah pertemuan bersejarah dua tokoh penting - 11 Desember 2025
- Katolik Timur di Amerika Serikat : tinjauan statistik dan jumlah umat - 3 Desember 2025




