Paulus dari Tarsus menulis sekitar 13 surat dalam Perjanjian Baru, namun ia tidak pernah menyebut langsung seorang penulis Injil sebagai sumber inspirasinya. Pertanyaan ini memang membuat para teolog berdebat selama berabad-abad. Siapa, di antara Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, yang paling memengaruhi cara Paulus memahami dan mengajarkan Injil Kristus ?
Lukas dan Paulus : sebuah kemitraan teologis yang luar biasa
Lukas bukan sekadar penulis Injil. Ia adalah rekan perjalanan Paulus, seperti yang terlihat jelas dalam Kisah Para Rasul 16 :10, di mana narasi tiba-tiba berubah ke kata ganti “kami”. Fakta historis ini membedakan Lukas dari ketiga penulis Injil lainnya. Ia menulis berdasarkan apa yang ia saksikan bersama Paulus secara langsung.
Persamaan teologis antara keduanya sangat mencolok. Keduanya menekankan anugerah Allah yang melampaui batas etnis, keselamatan bagi orang-orang yang terpinggirkan, dan peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Dalam Lukas 15, misalnya, perumpamaan anak yang hilang mencerminkan secara kuat doktrin pembenaran oleh anugerah yang Paulus uraikan panjang lebar dalam Roma 3-5.
Berikut perbandingan tema-tema utama yang muncul pada keduanya :
| Tema teologis | Injil Lukas | Surat Paulus |
|---|---|---|
| Keselamatan universal | Lukas 2 :32, 24 :47 | Roma 1 :16, Galatia 3 :28 |
| Pembenaran oleh iman | Lukas 18 :14 | Roma 3 :28, Galatia 2 :16 |
| Peran Roh Kudus | Lukas 4 :1, 11 :13 | Roma 8 :9-11, Galatia 5 :22 |
Bagi saya, hubungan Lukas-Paulus bukan sekadar kebetulan historis. Ini adalah sinergi teologis yang terencana, di mana pengalaman misi bersama membentuk cara pandang keduanya tentang Kristus dan Gereja.
Matius dan Markus : pengaruh tidak langsung yang tetap nyata
Markus sering disebut sebagai Injil yang paling awal ditulis, sekitar tahun 65-70 M. Meskipun Paulus tidak mengutip Markus secara eksplisit, tradisi lisan yang sama menjadi sumber bagi keduanya. Markus menekankan Yesus sebagai hamba yang bertindak, bukan sekadar berbicara. Pola ini beresonansi dalam surat-surat Paulus, terutama dalam Filipi 2 :5-8, yang menggambarkan Kristus yang “mengosongkan diri-Nya.”
Matius, di sisi lain, menulis terutama untuk pembaca Yahudi. Ia menunjukkan bagaimana Yesus menggenapi hukum Taurat, bukan menghapusnya. Paulus bergelut dengan topik yang persis sama, terutama dalam Roma 7-8 dan Galatia 3. Bahkan, latar belakang Matius 11 :25-30 tentang kerendahan hati dan ajaran Yesus mencerminkan sikap rendah hati yang juga Paulus serukan dalam 1 Korintus 1 :26-29.
Perlu dicatat beberapa poin penting tentang hubungan Paulus dengan penulis Injil :
- Paulus menerima Injil melalui wahyu langsung (Galatia 1 :12), bukan melalui teks tertulis.
- Tradisi lisan tentang Yesus sudah beredar sebelum Injil ditulis.
- Pertemuan Paulus dengan Petrus (Galatia 1 :18) kemungkinan besar menjadi jembatan ke tradisi Markus.
- Pengaruh Matius terlihat pada cara Paulus mendefinisikan ulang hubungan antara iman dan Taurat.
Frankly, menyimpulkan satu penulis Injil sebagai satu-satunya inspirasi Paulus terlalu menyederhanakan kenyataan. Teologi Paulus lahir dari pertemuan antara wahyu ilahi, tradisi apostolik, dan dialog terus-menerus dengan komunitas-komunitas yang ia layani. Namun jika harus memilih, hubungan personal dan kesamaan misi dengan Lukas memberikan fondasi yang paling kuat. Mereka berdua, bersama-sama, membentuk apa yang kita sebut hari ini sebagai inti dari teologi Perjanjian Baru.
- Teologi Paulus : inspirasi penulis injil mana ? - 6 September 2026
- Attention Required : panduan tindakan segera - 4 September 2026
- Vaksin agama Florida : Gereja Katolik tolak pengecualian - 28 Agustus 2026




