Serangan brutal terhadap jemaat gereja di negara bagian Kaduna Utara Nigeria awal tahun ini menculik lebih dari 160 umat dari tiga gereja berbeda. Insiden ini memicu respons keras dari pejabat senior Departemen Luar Negeri Amerika Serikat yang menuntut Nigeria “berbuat lebih banyak untuk melindungi umat Kristiani”. Narasi ini semakin menguat ketika Presiden Trump menyebut serangan udara pada hari Natal sebagai “hadiah Natal” bagi umat Kristiani, seraya memperingatkan akan ada serangan militer tambahan jika pembunuhan terhadap orang Kristen berlanjut.
Namun realitas konflik di Nigeria jauh lebih kompleks dari sekadar perang agama sederhana. Karakterisasi Washington terhadap pemberontakan ini sebagai penganiayaan terhadap umat Kristiani mengabaikan fakta bahwa kelompok ekstremis juga menargetkan Muslim dalam jumlah besar. Sejak 2009, tercatat 54.000 kematian terkait kekerasan di Nigeria dan kawasan Danau Chad, dengan korban berasal dari berbagai latar belakang agama.
Kompleksitas konflik melampaui dimensi agama
Wilayah utara Nigeria yang mayoritas Muslim menjadi pusat aktivitas Boko Haram, namun kelompok ini tidak membedakan sasaran berdasarkan agama semata. Pasar tradisional, masjid, dan rumah penduduk sama-sama menjadi target serangan oportunistik mereka. Penelitian lapangan di Maiduguri, Borno State menunjukkan bahwa kekerasan ini justru menyatukan warga Nigeria lintas identitas agama melawan musuh bersama.
Akar permasalahan melibatkan berbagai faktor yang saling terkait :
- Ketegangan antara petani dan penggembala akibat sengketa lahan dan air
- Perubahan iklim yang memperburuk kompetisi sumber daya alam
- Persaingan etnis yang mengakar dalam sejarah panjang
- Kemiskinan struktural yang memfasilitasi rekrutmen militan
- Kelompok kriminal terorganisir yang disebut “bandit”
Kelompok seperti Ansaru yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan Islamic State – West Africa Province memiliki agenda politik dan ekonomi yang kompleks. Respons pemerintah Nigeria yang dianggap tidak memadai bukan semata-mata kelalaian, melainkan hasil dari korupsi sektor keamanan, taktik gerilya yang sulit dilacak, dan kemungkinan keterlibatan politisi lokal dengan kelompok penculik. Meski demikian, serangan Boko Haram telah menurun 50% sejak puncaknya pada 2014-2016, menurut Africa Center for Strategic Studies.
| Kelompok Militan | Target Utama | Motivasi |
|---|---|---|
| Boko Haram | Negara, Muslim, Kristiani | Politik, ideologi |
| Ansaru | Kristiani, pemerintah | Afiliasi al-Qaeda |
| ISIS-WA | Aparat, Kristiani | Ekspansi kekhalifahan |
Upaya perdamaian antaragama terancam retorika Trump
Organisasi masyarakat sipil dan asosiasi perempuan telah membangun jembatan kepercayaan lintas iman selama bertahun-tahun. Women of Faith Peacebuilding Network, gerakan antaragama yang didirikan 2011, kini beranggotakan lebih dari 10.000 perempuan Kristiani dan Muslim. Mereka menyelenggarakan pelatihan vokasional dan mempromosikan dialog untuk mengurangi konflik.
Setelah penculikan lebih dari 300 siswi di Chibok tahun 2014, koalisi organisasi hak perempuan dari kedua agama memobilisasi protes massal. Seorang anggota Federation of Muslim Women’s Associations in Nigeria (FOMWAN) yang diwawancarai di Maiduguri menjelaskan bahwa krisis Boko Haram telah menyatukan perempuan lintas keyakinan agama lebih erat dari sebelumnya. Seperti yang juga terjadi dengan kelompok ekstrem kanan memanipulasi Kristen sebagai senjata, narasi keagamaan sering dieksploitasi untuk kepentingan politik sempit.
Seorang penginjil Kristiani bernama Mary menegaskan bahwa kolaborasi antaragama telah mengurangi ketakutan dan ketidakpercayaan mutual secara signifikan. “Kami memahami bahwa orang-orang yang melakukan pembunuhan ini bukan Kristiani maupun Muslim sejati. Mereka bekerja untuk kepentingan egois pribadi, bukan kepentingan religius,” ungkapnya. Aktivis Mama Pro menambahkan filosofi sederhana namun kuat : “Kami selalu menjadi penjaga satu sama lain.”
Intervensi militer AS dengan dalih melindungi umat Kristiani berisiko memperburuk situasi dengan memberikan legitimasi pada narasi sempit yang mengeksploitasi korban Kristiani untuk tujuan politik. Pendekatan ini dapat merusak kerja keras pembangunan perdamaian yang telah dicapai komunitas lokal melalui solidaritas lintas agama.




