Donald Trump kembali melancarkan serangan verbal terhadap Paus Leo, kali ini dengan tuduhan serius : sang paus, menurutnya, sedang membahayakan jutaan umat Katolik karena dianggap tidak menentang program nuklir Iran. Pernyataan ini muncul tepat dua hari sebelum Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dijadwalkan bertemu langsung dengan Leo di Vatikan.
Dalam wawancara dengan Hugh Hewitt, presenter radio konservatif terkemuka di jaringan Salem News, Trump mengungkapkan kekecewaannya secara blak-blakan. “Dia lebih suka membicarakan fakta bahwa tidak apa-apa bagi Iran memiliki senjata nuklir, dan saya rasa itu tidak baik,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa paus meletakkan banyak nyawa dalam bahaya, termasuk umat Katolik di seluruh dunia.
Tuduhan Trump versus posisi nyata Paus Leo
Satu fakta penting sering terlewat dalam debat ini : Paus Leo tidak pernah menyatakan Iran berhak memiliki senjata nuklir. Yang ia lakukan adalah berulang kali menentang eskalasi konflik bersenjata di Iran, Lebanon, dan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Leo menyerukan gencatan senjata dan dialog — bukan legitimasi senjata nuklir.
Perbedaan ini sangat krusial. Trump tampaknya menyamakan penolakan terhadap perang dengan dukungan terhadap nuklir Iran — dua hal yang secara logis tidak berhubungan. Frankly, ini adalah distorsi posisi yang disengaja atau sebuah kesalahpahaman yang serius terhadap kebijakan Vatikan.
Berikut adalah kronologi utama ketegangan diplomatik ini :
- April 2026 : Trump menyebut Paus Leo “lemah” dan mengkritik kinerjanya sebagai paus.
- Trump membagikan gambar buatan AI yang menggambarkan dirinya seperti Yesus, lalu menghapusnya.
- Mei 2026 : Trump menuduh Leo membahayakan umat Katolik terkait sikap Iran.
- 5 Mei 2026 : Rubio dijadwalkan bertemu Leo di Istana Apostolik, Vatikan.
Misi Rubio ke Vatikan : diplomasi atau pemadam kebakaran ?
Brian Burch, Duta Besar AS untuk Takhta Suci, menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar formalitas. “Negara-negara memiliki perbedaan pendapat, dan salah satu cara mengatasinya adalah melalui persaudaraan dan dialog autentik,” ujar Burch kepada wartawan. Ia menolak anggapan bahwa ada jurang yang dalam antara Washington dan Vatikan.
| Pihak | Posisi terhadap Paus Leo |
|---|---|
| Donald Trump | Kritik keras, tuduhan membahayakan umat Katolik |
| Marco Rubio | Dialog terbuka, hindari konfrontasi langsung |
| JD Vance | Minta Vatikan fokus pada moralitas, bukan geopolitik |
| Giorgia Meloni | Membela Leo, mengkritik serangan Trump |
Rubio — seorang Katolik — membantah bahwa kunjungannya dirancang untuk meredam konflik. Namun kenyataannya, kunjungan ini terjadi persis setelah serangkaian pernyataan keras dari Washington. Wakil Presiden JD Vance, juga seorang Katolik yang berpindah agama, turut mengkritik Leo dengan mengatakan Vatikan sebaiknya fokus pada urusan moral dan berhati-hati dalam membahas teologi dan perang.
Di sisi lain, Rubio juga akan menemui Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni — yang justru membela Paus Leo dan mengecam pernyataan Trump — setelah Trump mengancam menarik pasukan AS dari Italia. Ketegangan ini menunjukkan bahwa dinamika antara Paus Leo dan gerakan MAGA jauh lebih kompleks dari sekadar perbedaan pendapat biasa. Pertemuan Rubio dengan Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Parolin, dijadwalkan mendahului pertemuan dengan Meloni pada Jumat pagi — sebuah agenda diplomatik yang padat dengan taruhan geopolitik nyata.
- Attention Required ! Panduan Lengkap Tindakan - 13 Mei 2026
- Vatikan : Sinyal Keterbukaan untuk Katolik LGBTQ+ - 11 Mei 2026
- Trump serang Paus Leo : ancam umat Katolik - 9 Mei 2026




