Acara doa Trump Rededicate 250 : fokus Kristen

Pejabat dan delegasi berdoa bersama di kapel yang megah dengan lilin.

Tanggal 17 Mei 2026, National Mall di Washington D.C. akan menjadi panggung acara doa nasional bertajuk Rededicate 250 — sebuah peringatan 250 tahun berdirinya Amerika Serikat. Acara ini digagas oleh Presiden Donald Trump dan diorganisir oleh Freedom 250, lembaga nirlaba yang dibentuk khusus untuk merayakan tonggak sejarah ini. Masalahnya ? Dari 15 pemimpin agama yang diundang, 14 di antaranya beragama Kristen.

Satu-satunya pemimpin non-Kristen yang tercantum dalam daftar resmi adalah Rabi Meir Soloveichik, seorang rabi Yahudi Ortodoks. Tidak ada perwakilan dari Islam, Hindu, Buddha, atau agama lain — padahal Freedom 250 mengklaim pada Maret lalu sedang berdiskusi dengan pemimpin dari berbagai tradisi keagamaan tersebut.

Acara “inklusif” yang justru eksklusif

Deskripsi resmi acara menyebutkan bahwa perhelatan ini dirancang untuk “mengumpulkan berbagai suara yang disatukan oleh cinta kepada Tuhan dan negara.” Kenyataannya berbicara lain. Situs web resmi acara doa nasional ini menampilkan gambar salib di tengah bendera Amerika, disertai rekaman pembacaan Alkitab. Di bagian bawah halaman, pengunjung diajak mendaftarkan “gereja” mereka untuk bergabung — bukan komunitas keagamaan secara umum, melainkan gereja secara spesifik.

Berikut komposisi pemimpin agama yang hadir dalam acara ini :

Kelompok agama Jumlah pemimpin
Evangelikal 7
Katolik 2
Kristen lainnya 5
Yahudi Ortodoks 1
Islam / Hindu / Buddha 0

Rev. Paul Raushenbush, CEO dari Interfaith Alliance — organisasi hak sipil dan agama nonpartisan yang sedang menggugat pemerintahan Trump — menyebut acara ini “sengaja bersifat eksklusif.” Sebagai pendeta Baptis, ia menegaskan bahwa momen seperti ini seharusnya menjadi kesempatan emas untuk menampilkan keragaman religius Amerika yang kaya, bukan malah menyempitkannya.

Nasionalisme Kristen dan uang publik : kombinasi yang memicu perdebatan

Kritik terhadap acara ini bukan muncul dari ruang hampa. Sejumlah sejarawan dan kelompok agama menilai Trump secara aktif mendorong nasionalisme Kristen — keyakinan bahwa Amerika pada dasarnya adalah negara Kristen. Tuduhan ini diperkuat oleh sejumlah fakta konkret.

Pertama, Freedom 250 menggunakan $10 juta dana publik untuk membangun dan mengoperasikan “truk museum keliling” yang menampilkan versi sejarah pendirian Amerika dari sudut pandang konservatif-Kristen. Kedua, Departemen Dalam Negeri mengalokasikan $100 juta dari uang pajak kepada Freedom 250 untuk mendanai berbagai program peringatan 250 tahun ini.

Pola ini tidak berhenti di satu acara saja. Perhatikan beberapa langkah yang mencerminkan arah kebijakan serupa :

  • Seperempat organisasi mitra di situs Freedom 250 berafiliasi dengan institusi Kristen
  • Komisi Kebebasan Beragama Departemen Kehakiman didominasi pemimpin Protestan dan Katolik
  • Menteri Pertahanan Pete Hegseth menggelar ibadah Kristen bulanan di Pentagon
  • Interfaith Alliance mengajukan gugatan hukum terhadap DOJ pada Februari 2026 atas kurangnya keberagaman ideologis

Yang membuat ini semakin kompleks : Trump baru-baru ini mendapat kritik dari pendukungnya sendiri karena memposting gambar AI dirinya sebagai figur Yesus, sekaligus terlibat konflik terbuka dengan Paus Leo XIV. Basis politiknya yang kuat dari kalangan Kristen konservatif tampaknya mendorong arah kebijakan ini lebih jauh dari sekadar simbolisme.

Bagi komunitas-komunitas non-Kristen di Amerika, pertanyaannya bukan lagi soal apakah mereka merasa terwakili — melainkan apakah narasi kebangsaan masih memberi ruang bagi mereka sama sekali. Itulah tantangan nyata yang perlu dijawab sebelum lilin ulang tahun ke-250 Amerika benar-benar dinyalakan.

Acara doa Trump Rededicate 250 : fokus Kristen

Rian Pratama
Scroll to Top