Kabar Sukacita, atau Annunciation dalam tradisi Kristen, merupakan salah satu peristiwa paling sakral dalam iman umat beriman. Namun, teks-teks Kristen awal memberikan sangat sedikit detail konkret tentang lokasi terjadinya peristiwa ini. Menurut James D. Tabor, profesor emeritus studi agama di University of North Carolina at Charlotte, ketidakpastian ini justru membuka ruang bagi penelitian arkeologis yang mendalam.
Injil Lukas adalah satu-satunya dari empat Injil Perjanjian Baru yang memuat kisah Kabar Sukacita. Teks ini ditulis pada akhir abad pertama Masehi, beberapa dekade setelah peristiwa itu terjadi. Injil menyebut bahwa malaikat Gabriel diutus Allah ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, tempat ia menemui Maria. Kota ini, yang terletak di wilayah Israel utara dekat Danau Galilea, masih ada hingga kini dengan populasi sekitar 80.000 jiwa.
Arkeolog Yardenna Alexandre dari Israel Antiquities Authority menjelaskan bahwa Nazaret kuno berdiri di lereng barat di atas lembah berbatu. Desa ini merupakan permukiman pertanian kecil dengan rumah-rumah sederhana, di mana kehidupan sehari-hari berpusat pada sumur, ladang, dan kegiatan komunal. Kehidupan Maria, jika ia memang tinggal di sana, bersumber dari kedekatan dengan komunitas yang mencerminkan nilai-nilai persahabatan sejati seperti yang digambarkan dalam ayat-ayat Alkitab tentang Yesus.
Dua situs di Nazaret yang diklaim sebagai lokasi Kabar Sukacita
Selama berabad-abad, para peziarah mengunjungi dua tempat berbeda di Nazaret yang diyakini terkait dengan Kabar Sukacita. Berikut kedua lokasi utama tersebut :
- Gereja Kabar Sukacita (Church of the Annunciation), yang berdiri di atas sebuah gua tempat Maria dipercaya pernah tinggal.
- Gereja Ortodoks Yunani Santo Gabriel, yang berada dekat sumur tempat, menurut tradisi lain, malaikat pertama kali menyapa Maria.
Ziarah ke Nazaret mulai berlangsung serius pada abad keempat Masehi. Sekitar tahun 383 M, seorang peziarah asal Spanyol bernama Egeria mencatat kunjungannya ke sebuah gua besar dan megah yang diyakini sebagai tempat tinggal Maria. Di atas gua itu telah dibangun altar. Struktur keagamaan berganti selama era Bizantium dan Perang Salib hingga akhirnya, pada 1954, bangunan lama diruntuhkan untuk memberi jalan bagi Gereja Kabar Sukacita yang berdiri sampai sekarang.
Penggalian dari 1955 hingga 1966 oleh arkeolog Italia Bellarmino Bagatti mengungkap gua, lubang, dan terowongan yang digunakan sebagai tempat penyimpanan dan kediaman. Arkeolog Kenneth Dark dari University of Cambridge menyatakan bahwa instalasi serupa di lokasi sekitarnya dipakai sebagai persembunyian semasa Pemberontakan Yahudi sekitar tahun 70 M. Karena gua-gua ini harus ada sebelum pemberontakan, waktunya selaras dengan kisah Kabar Sukacita.
Sumur Maria dan apa yang ditemukan para arkeolog
Sumber kedua yang dikaitkan dengan Kabar Sukacita adalah sumur yang disebut Mary’s Well. Kisah ini berasal dari Protoevangelium Yakobus, sebuah Injil apokrif abad kedua yang diterjemahkan ke setidaknya sembilan bahasa. Teks ini menceritakan Maria keluar mengambil air sebelum mendengar suara malaikat.
| Situs | Periode bukti arkeologis | Peneliti utama |
|---|---|---|
| Gua Kabar Sukacita | Abad ke-1 M dan lebih awal | Bellarmino Bagatti, Kenneth Dark |
| Sumur Maria | Periode Helenistik akhir – Romawi awal | Yardenna Alexandre |
Penggalian dari 1997 hingga 1998 oleh Alexandre membuktikan bahwa sumur ini aktif digunakan pada zaman Kabar Sukacita. Koin-koin bergambar Raja Herodes dan Claudius serta sebuah lampu ditemukan di lokasi. Sumur ini, kata Tabor, merupakan titik kumpul harian bagi para perempuan desa.
Meski begitu, arkeologi tidak mampu memastikan terjadinya Kabar Sukacita secara supranatural. Yang dapat dilakukan para peneliti adalah merekonstruksi lingkungan historis tempat tradisi ini tumbuh dan berkembang, memberi kita pemahaman lebih kaya tentang dunia Maria di Nazaret kuno.




