Warga negara Iran yang mencari suaka di Kanada dengan berpindah agama Kristen

Pria membaca Alkitab sambil berdoa di gereja dengan salib

Setiap tahun, ribuan warga negara Iran memilih Kanada sebagai tujuan pencarian perlindungan. Pada tahun 2025, lebih dari 7.100 permohonan suaka diajukan oleh warga Iran di Kanada, menjadikan mereka kelompok terbesar ketiga setelah India dan Haiti. Di balik angka ini, fenomena konversi agama ke Kristen muncul sebagai strategi yang semakin umum digunakan untuk memperkuat klaim suaka tersebut.

Baptisan sebagai pintu masuk ke status pengungsi

Di sebuah gereja di pusat kota Vancouver, sebuah pemandangan kini menjadi hal yang lazim. Di antara para bayi berpakaian putih yang hendak dibaptis, sekelompok orang dewasa asal Iran juga menunggu giliran menerima sakramen yang sama. Sertifikat baptisan telah berubah menjadi dokumen yang bernilai strategis bagi sebagian pemohon suaka.

Menurut Immigration and Refugee Board of Canada, dari 7.100 permohonan Iran pada 2025, sekitar 3.456 diterima, sementara 11.448 masih dalam proses. Berikut ini gambaran singkat data tersebut :

Kategori Jumlah
Total permohonan suaka Iran (2025) 7.100+
Permohonan diterima 3.456
Permohonan masih tertunda 11.448

Kelly Sundberg, mantan agen Canada Border Services Agency (CBSA) yang kini menjadi profesor kriminologi di Mount Royal University di Calgary, mengakui bahwa ia pernah mengabaikan puluhan klaim palsu berbasis konversi agama. Ia menyebut situasi ini “cara termudah mendapatkan suaka”, dan bukan hanya berlaku bagi warga Iran.

Hukum murtad di Iran memang bisa berujung pada hukuman berat, bahkan eksekusi. Namun beberapa sumber menyebut bahwa risiko nyata lebih besar bagi mereka yang menjalankan iman barunya secara terbuka di dalam negeri. Farid Rohani, tokoh komunitas Iran di Vancouver, menyebutkan dua mantan karyawannya yang kembali ke Iran berkali-kali tanpa masalah, meski telah mengklaim suaka berdasarkan konversi agama.

Antara iman tulus dan kepentingan pragmatis

Fenomena serupa pernah mengguncang Inggris. Pada tahun 2024, Home Secretary menggelar penyelidikan publik yang menyoroti dugaan keterlibatan Gereja Inggris dalam praktik penipuan imigrasi. Uskup Agung Canterbury saat itu, Justin Welby, membantah tuduhan bahwa gereja berperan sebagai “jalur konveyor konversi palsu”.

Di Kanada, kekhawatiran serupa mulai mencuat. Pada 10 Maret 2026, pemimpin Partai Hijau Elizabeth May menyuarakan keprihatinannya di parlemen terkait kemungkinan anggota Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyamar sebagai pencari suaka melalui konversi agama. Kanada sendiri secara resmi menetapkan IRGC sebagai entitas teroris pada Juni 2024.

Rohani bahkan menyindir dengan mengatakan bahwa cara membedakan anggota IRGC adalah jika mereka berpindah ke agama Yahudi — sebuah komentar yang setengah serius. Komunitas Bahai yang ia wakili justru telah membuat aturan tegas : tidak ada warga Iran yang boleh bergabung sebelum mendapatkan status permanent resident. Beberapa alasan yang mendorong konversi antara lain :

  • Kebencian terhadap rezim otoriter Iran yang dikaitkan dengan Islam
  • Kebutuhan ekonomi akibat sanksi dan perang
  • Keinginan memperoleh perlindungan hukum di luar negeri
  • Pencarian komunitas sosial di negara baru

Di Gereja Anglikan Saint Christopher’s di West Vancouver, sekitar 20 persen jemaat berbahasa Farsi. Rektor Jonathan Pinkney menekankan pendekatan “pembangunan komunitas” dan menyatakan bahwa mayoritas konversi adalah tulus. Ia memastikan jemaat Iran baru terlibat aktif dalam paduan suara dan komite gereja. Gereja-gereja lain di Kanada pun mengalami fenomena serupa, dengan gelombang konversi baru yang terus berdatangan. Seorang pemuda Iran yang identitasnya dilindungi demi keselamatan keluarganya di Iran mengatakan bahwa “bahkan para penipu pun bisa menemukan komunitas di sini.” Baginya, gereja pertama-tama adalah tempat integrasi sosial bagi para pendatang baru.

Warga negara Iran yang mencari suaka di Kanada dengan berpindah agama Kristen

Agung
Scroll to Top