Bacaan Alkitab Trump mengungkapkan kompleks Tuhan yang meningkat di kalangan Kristen evangelis

Pria di gereja memegang Alkitab, cahaya bersinar, jemaah mengangkat tangan

Donald Trump membacakan ayat dari kitab 2 Tawarikh 7 :14 di Oval Office minggu ini, bagian dari acara America Reads the Bible yang berlangsung selama seminggu penuh — dari Kejadian hingga Wahyu. Pemilihan ayat itu bukan kebetulan : teks tersebut sengaja dipilih oleh para penyelenggara karena dikenal luas sebagai seruan politik sekaligus spiritual di kalangan Kristen konservatif Amerika.

Yang membuat ini mengejutkan bukan sekadar kontennya, melainkan cara Trump menyampaikannya : dalam sudut pandang orang pertama, seolah-olah ia sendiri yang berbicara sebagai Tuhan. Peserta lain seperti aktris Candace Cameron Bure membacakan bagian narasi biasa — “lalu Tuhan berfirman” — sementara Trump memilih bagian di mana suara Tuhan langsung berbicara. Perbedaan ini bukan detail kecil.

Trump, Alkitab, dan pertunjukan identitas religius

Sepuluh hari sebelum sesi pembacaan Alkitab itu, Trump menyebarkan gambar buatan AI yang menampilkan dirinya sebagai sosok mirip Yesus yang menyembuhkan orang sakit. Dua tindakan ini, diambil bersama, membentuk pola yang cukup jelas : penguatan bertahap citra diri sebagai figur yang diurapi secara ilahi. Ini bukan pertama kalinya pemimpin populis menggunakan simbolisme keagamaan untuk memperkuat otoritas politik, tapi jarang dilakukan dengan ketelusuran seperti ini.

Penyelenggara acara ini adalah Bunni Pounds, pendiri Christians Engaged sekaligus pemimpin Family Policy Alliance, kelompok lobi konservatif. Fox News menyebutnya sebagai “visionary”. Tujuan resmi acara ini adalah mendorong “kembali ke fondasi spiritual yang membentuk negara kita” — sebuah narasi yang, secara ironis, sulit dipertahankan ketika wajah publiknya adalah seorang terpidana kasus pemalsuan catatan bisnis, terkait pembayaran uang tutup mulut kepada aktris film dewasa Stormy Daniels, dan yang telah dinyatakan bersalah secara perdata atas pelecehan seksual terhadap E Jean Carroll.

  • Pemalsuan catatan bisnis — terbukti di pengadilan
  • Pembayaran uang tutup mulut kepada Stormy Daniels
  • Pelecehan seksual dan pencemaran nama baik E Jean Carroll — putusan perdata

Fakta-fakta ini bukan spekulasi. Namun bagi sebagian besar pemilih evangelis, semua itu tampaknya tidak mengubah kalkulasi politik mereka.

Mengapa kaum evangelis tetap setia, dan apa risikonya

Berbeda dengan umat Katolik — yang memiliki otoritas moral terpusat dalam sosok Paus dan mulai menunjukkan keretakan dukungan terhadap Trump (survei terbaru menunjukkan dukungan turun di bawah 50%) — kaum evangelis tidak memiliki pemimpin tunggal yang bisa mengoreksi arah. Fragmentasi ini justru menjadi keuntungan bagi Trump : tidak ada suara tunggal yang cukup kuat untuk menantang loyalitas mereka.

Alasan loyalitas itu pun konkret. Trump berhasil menempatkan mayoritas konservatif di Mahkamah Agung, yang kemudian membatalkan Roe v. Wade pada 2022 — sebuah pencapaian yang telah menjadi obsesi gerakan anti-aborsi selama lebih dari empat dekade. Bagi banyak pemilih evangelis, satu kebijakan itu sudah cukup untuk mengampuni segalanya.

Kelompok Tren dukungan ke Trump Otoritas moral terpusat
Evangelis Stabil dan kuat Tidak ada
Katolik Menurun (di bawah 50%) Ya (Paus)

Pertanyaan yang benar-benar mendesak bukan apakah kaum evangelis memiliki garis merah, tapi seberapa jauh garis itu bisa digeser. Evangelis Kristen yang membawa kekhawatiran mereka langsung ke Capitol Hill membuktikan bahwa ada kegelisahan di dalam kelompok ini — meski belum menjadi gerakan yang terorganisir. Selama agenda legislatif mereka tetap terlayani, sulit membayangkan pembacaan Alkitab cara Trump pun akan mengubah arah dukungan itu.

Bacaan Alkitab Trump mengungkapkan kompleks Tuhan yang meningkat di kalangan Kristen evangelis

Rian Pratama
Scroll to Top