Survei global Pew Research Center tahun 2024 yang mencakup 24 negara mengungkap sebuah realitas yang sulit diabaikan : Katolisisme kehilangan lebih banyak penganut daripada yang diperolehnya di hampir semua negara yang diteliti. Perpindahan agama — yaitu ketika seseorang dewasa menganut keyakinan berbeda dari yang diajarkan saat kecil — telah memukul dua arus utama Kristen secara sangat tidak merata. Protestantisme justru mencatat pertumbuhan net di sejumlah negara, sementara Gereja Katolik terus mengalami erosi di hampir semua wilayah.
Katolisisme : arus keluar yang mendominasi hampir semua negara
Di 21 dari 24 negara yang dianalisis, lebih banyak orang meninggalkan Katolisisme daripada yang masuk ke dalamnya. Spanyol mencatat angka paling dramatis : 34% orang dewasa dulunya Katolik namun kini telah meninggalkan iman tersebut, sementara hanya sebagian kecil yang bergabung dari luar. Italia menunjukkan pola serupa — 22% orang dewasa meninggalkan Gereja, hanya 1% yang masuk, menghasilkan kerugian net 21 poin persentase.
Polandia tetap menjadi benteng terkuat Katolisisme : 92% orang dewasa adalah Katolik seumur hidup, dengan hanya 4% yang pergi. Filipina (80% Katolik aktif) dan Italia (69%) mengikuti di posisi berikutnya. Namun bahkan di negara-negara ini, tekanan tetap ada.
Ke mana perginya mereka yang meninggalkan Katolisisme ? Jawabannya bergantung pada wilayah geografis :
- Di Eropa dan Amerika Latin, sebagian besar menjadi tidak berafiliasi (ateis, agnostik, atau “tidak ada yang khusus”) — di Chili, 19% orang dewasa adalah mantan Katolik yang kini tidak beragama.
- Di Afrika sub-Sahara dan Filipina (Kenya, Brasil, Ghana, Nigeria), mantan Katolik lebih cenderung berpindah ke Protestantisme daripada meninggalkan agama sama sekali.
Hungaria menjadi satu-satunya pengecualian yang benar-benar menonjol : lebih banyak orang bergabung dengan Katolisisme (5%) daripada yang pergi (2%). Di Kenya dan Korea Selatan, perpindahan masuk dan keluar terjadi dalam proporsi yang hampir seimbang. Fenomena yang berbeda tengah terjadi di Amerika Serikat, di mana gelombang konversi massal ke Katolik melanda Amerika Serikat mencuri perhatian banyak kalangan.
Protestantisme : pertumbuhan di Amerika Latin, kemunduran di Eropa
Berbeda dengan Katolisisme, Protestantisme memperlihatkan peta yang jauh lebih beragam. Di delapan negara — terutama di Amerika Latin dan Afrika — lebih banyak orang masuk ke Protestantisme daripada yang keluar darinya.
| Negara | Meninggalkan Protestantisme | Bergabung dengan Protestantisme | Perubahan net |
|---|---|---|---|
| Brasil | 6% | 15% | +9 poin |
| Kolombia | 5% | 10% | +5 poin |
| Swedia | 28% | 4% | −24 poin |
| Inggris | 23% | 3% | −20 poin |
Brasil adalah contoh paling mencolok dari pertumbuhan Protestant : 15% orang dewasa Brasil bergabung setelah tidak dibesarkan dalam iman tersebut, sebagian besar merupakan mantan Katolik. Sebaliknya, Swedia, Inggris, dan Jerman mencatat kerugian terbesar. Mereka yang meninggalkan Protestantisme di negara-negara ini hampir selalu menuju ketidakberafiliasian — bukan berpindah ke Katolisisme.
Secara keseluruhan, Ghana (62%) dan Kenya (55%) adalah satu-satunya negara dengan mayoritas penduduk Protestan, sementara di 16 dari 24 negara yang disurvei, Protestan tidak melebihi seperempat populasi. Data ini dipublikasikan oleh Pew Research Center pada April 2026 sebagai bagian dari proyek Global Religious Futures, yang didanai bersama oleh The Pew Charitable Trusts dan John Templeton Foundation.




