Dalam era polarisasi dan perpecahan global yang semakin intens, sebuah buku baru menawarkan perspektif menyegarkan tentang bagaimana tradisi Katolik dapat menjadi penawar untuk dunia yang terpecah belah. Matthew Becklo, direktur penerbitan untuk Word on Fire Catholic Ministries, baru saja meluncurkan karyanya yang berjudul “The Way of Heaven and Earth: From Either/Or to the Catholic Both/And” yang diterbitkan oleh Word on Fire pada tahun 2025.
Katolisisme sebagai jalan tengah dalam dunia yang terpolarisasi
Polarisasi telah menjadi masalah kritis dalam masyarakat modern kita. Teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan telah menciptakan gelembung informasi yang memisahkan kita satu sama lain. Komunikasi antara kelompok dengan pandangan berbeda semakin sulit dilakukan, apalagi untuk saling berempati atau belajar dari perbedaan.
Becklo menekankan bahwa krisis polarisasi ini bukan hanya masalah sosial biasa tetapi memiliki potensi destruktif yang nyata. Mengutip antropolog René Girard, ia menjelaskan bahwa spiral kekerasan verbal dapat dengan mudah berubah menjadi tindakan kekerasan fisik, menciptakan siklus pembalasan yang dapat merusak struktur sosial.
Namun di tengah kegelapan ini, prinsip “both/and” (keduanya/dan) dari Katolisisme menawarkan cahaya harapan. Tidak seperti cara berpikir “either/or” (salah satu/atau) yang mendominasi wacana kontemporer, Katolisisme menawarkan jalan tengah yang mengharmoniskan polaritas-polaritas yang tampaknya bertentangan.
Buku ini menggarisbawahi tiga ide dasar:
- Dilema terbesar manusia adalah dilema surga-bumi — pertentangan antara Tuhan dan manusia, spiritual dan fisik
- Dilema surga-bumi hanya dapat diselesaikan dalam Kristus, yang menyatukan polaritas-polaritas ini dalam diri-Nya
- Kepenuhan jalan ini terdapat dalam Gereja Katolik, yang didefinisikan oleh prinsip “both/and” — melihat dan memilih persekutuan antara surga dan bumi
Menariknya, diskusi tentang nilai-nilai tradisional dan visi Gereja yang sering muncul dalam lingkaran Katolik konservatif juga merefleksikan upaya mencari keseimbangan dalam menghadapi polarisasi dunia modern.
Filsafat dan kebijaksanaan kuno dalam konteks Katolik
Buku Becklo tidak hanya membahas polarisasi sebagai masalah sosial, tetapi juga menyelami akar filosofisnya. Ia menelusuri evolusi pemikiran dari para filsuf kuno hingga modern, menjelaskan bagaimana penderitaan manusia selalu berakar pada “dilema surga-bumi”.
Tabel berikut menggambarkan kontras antara pendekatan “either/or” dan “both/and” dalam berbagai aspek:
| Aspek | Pendekatan “Either/Or” | Pendekatan “Both/And” Katolik |
|---|---|---|
| Jiwa dan Tubuh | Mengutamakan satu di atas yang lain | Menghargai keduanya sebagai ciptaan Tuhan |
| Iman dan Akal | Memilih salah satu sebagai otoritas | Melihat keduanya saling melengkapi |
| Kitab Suci dan Tradisi | Mementingkan satu sumber kebenaran | Mengakui nilai dari kedua sumber |
| Ketertiban dan Keterbukaan | Memilih stabilitas atau perubahan | Menyeimbangkan keduanya dalam dinamika sehat |
Becklo mencatat fenomena menarik tentang meningkatnya minat pada filsafat kuno, terutama di kalangan kaum muda, sebagian berkat pengaruh tokoh seperti Jordan Peterson. Pengalaman pribadinya meninggalkan Gereja di masa sekolah dan kemudian kembali karena menemukan tradisi intelektual Katolik yang mendalam menunjukkan pentingnya keterlibatan dengan tradisi filosofis dalam evangelisasi baru.
Mengatasi perpecahan internal Gereja dan visi pemulihan
Polarisasi tidak hanya terjadi di masyarakat umum tetapi juga dalam Gereja Katolik sendiri. Becklo mengakui bahwa perpecahan internal, terutama yang terjadi di dunia maya, merupakan tantangan serius. Ia menyebutnya sebagai pekerjaan Setan dan dosa yang bertujuan memecah-belah umat beriman.
Untuk mengatasi ini, Becklo menekankan pentingnya kembali kepada Kristus dan Gereja-Nya — apa yang Santo Agustinus sebut sebagai “Totus Christus” (Kristus Seutuhnya). Hanya dengan membentuk pikiran dan hati kita sesuai dengan-Nya, kita memiliki harapan untuk melawan kekuatan perpecahan.
Langkah-langkah menuju pemulihan yang diusulkan Becklo adalah:
- Memahami keseimbangan dalam pemikiran Katolik
- Menggunakan kerangka ini untuk menegosiasikan perbedaan antar kelompok
- Mengkritisi bias pribadi kita sendiri
- Melampaui teori menuju pengalaman hidup dalam Gereja
- Menyatukan kepala dan hati dalam tindakan iman
Melalui bukunya, Becklo berharap pembaca akan melihat Katolisisme sebagai “serasional mungkin yang bisa dicapai manusia” — keseimbangan yang bukan sekedar statis seperti yin dan yang, tetapi seperti yang digambarkan Chesterton: langkah dramatis dan berbahaya seorang pejalan tali yang ditangguhkan antara surga dan bumi.
Dengan menggabungkan kebenaran rasional dan keindahan spiritual, Katolisisme menawarkan jalan tengah yang mungkin justru kita butuhkan di dunia yang terpecah belah saat ini — jalan yang menyatukan daripada memisahkan, yang menyembuhkan daripada melukai.
- Apakah orang lajang benar-benar punya lebih banyak waktu untuk pelayanan ? - 14 Februari 2026
- Apakah Paus Leo melancarkan perang dingin melawan MAGA ? - 11 Februari 2026
- Paul Givan : agama Kristen tetap jadi pusat kurikulum RE di sekolah-sekolah Irlandia Utara - 4 Februari 2026




