Umat Katolik berduka Stephen Colbert berhenti

Laki-laki berdoa di gereja penuh dengan orang-orang berkabung

Kamis malam, 22 Mei 2026, layar televisi Amerika meredup untuk terakhir kalinya bagi The Late Show with Stephen Colbert. Bukan karena rating anjlok — acara itu justru masih bertengger di puncak tangga penonton late-night. Pemirsa kehilangan bukan sekadar pembawa acara, tapi seorang Katolik taat yang dengan percaya diri mengutip Mazmur di hadapan jutaan penonton.

Colbert memulai perjalanannya di kursi CBS pada 2015 dengan serangan langsung kepada Donald Trump, lengkap dengan sepiring Oreo sebagai properti ikonik. Sebelas tahun kemudian, Trump merayakan pembatalan acara itu di Truth Social dengan menulis bahwa ia “absolutely love” melihat Colbert “dipecat.” Kebetulan yang terlalu sempurna untuk sekadar disebut kebetulan.

Keputusan bisnis atau tekanan politik ?

CBS mengumumkan penghentian acara ini pada musim panas 2025 dengan alasan ekonomi. Tapi konteksnya sulit diabaikan. Perusahaan induk CBS, Paramount, membayar $16 juta untuk menyelesaikan gugatan Trump terkait wawancara 60 Minutes — tepat saat merger Paramount dengan Skydance Media menunggu persetujuan pemerintahan Trump. Colbert sendiri menyebut penyelesaian itu sebagai “suap berbentuk gemuk.”

Heather Hendershot, profesor studi komunikasi dan jurnalisme di Northwestern University, tidak berbasa-basi : “Warisan acara ini harus diingat sebagai acara yang dibatalkan karena administrasi presiden menginginkannya hilang dari udara. Ini adalah momen kemenangan otoriter.” Dua bulan setelah pembatalan Colbert, ABC menangguhkan Jimmy Kimmel menyusul tekanan dari ketua FCC yang ditunjuk Trump. Pola ini bukan kebetulan.

Preseden historisnya ada. Pada 1969, CBS membatalkan The Smothers Brothers Comedy Hour yang secara terbuka menentang Perang Vietnam. Sejarah rupanya suka mengulang dirinya sendiri.

Acara Tahun dibatalkan Alasan resmi Tekanan politik ?
The Smothers Brothers Comedy Hour 1969 Konten kontroversial Ya
The Late Show with Stephen Colbert 2026 Alasan ekonomi Sangat diduga

Kehilangan suara Katolik yang lantang di layar kaca

Bagi komunitas Katolik Amerika, kepergian Colbert terasa berbeda. Stephanie Brehm, penulis buku America’s Most Famous Catholic (According to Himself) : Stephen Colbert and American Religion in the Twenty-First Century, menggambarkan Colbert sebagai figur yang “berbagi gagasan keagamaannya secara bebas dan intelektual.” Ia memposisikan dirinya dalam arus Katolik progresif yang menekankan keadilan sosial — membela kebebasan berbicara dengan bahasa dan jargon Katolik.

Momen-momen paling berkesan justru lahir dari percakapan paling berat : dialog dengan Joe Biden tentang kematian putranya, perbincangan soal kesedihan bersama Anderson Cooper, dan eksplorasi hubungan antara iman dan komedi bersama Dua Lipa. wajah Katolisisme di Amerika Serikat memang telah berubah, dan Colbert adalah salah satu cerminnya yang paling jelas.

Selain komunitas Katolik, penggemar J.R.R. Tolkien juga berduka. Duane Cronkite dari Fellowship of Fans dan Timothy Lenz dari The Mythopoeic Society sepakat : Colbert adalah penggemar selebriti Tolkien yang paling antusias dan paling berpengaruh, mendorong generasi baru pembaca The Hobbit dan Lord of the Rings. Berikut warisan konkret yang ia tinggalkan :

  • Dua penghargaan Emmy dan satu Peabody Award selama memandu acara
  • Segmen sains reguler bersama Neil deGrasse Tyson yang jarang ada di late-night lain
  • Kolaborasi podcast Strike Force Five bersama Kimmel, Fallon, Oliver, dan Meyers
  • Ko-penulis film Lord of the Rings baru — langkah berikutnya yang sudah menanti

Slot 11 :35 malam kini diisi Comics Unleashed milik Byron Allen yang berjanji menghindari politik sepenuhnya. Lisa Rogak, penulis biografi Colbert tahun 2011, menyebutnya dengan tepat : “Akan ada kekosongan besar, dan saya rasa tidak ada yang benar-benar ingin mengisinya.” Kekosongan itu bukan soal hiburan — tapi soal keberanian berbicara.

Umat Katolik berduka Stephen Colbert berhenti

Rian Pratama
Scroll to Top