Dosa yang Dilupakan Gereja : Kebenaran Tersembunyi

Pendeta melakukan upacara di gereja bergaya gotik bercolonnade

Selama berabad-abad, gereja Kristen mengajarkan bahwa memungut bunga dari pinjaman uang adalah dosa berat. Konsep ini dikenal sebagai riba atau usury dalam bahasa Inggris. Ironisnya, pada tahun 2026 ini, hampir tidak ada pendeta yang berani membahas topik tersebut dari mimbar. Padahal Alkitab menyebut larangan ini secara eksplisit setidaknya dalam tiga kitab berbeda : Keluaran 22 :25, Imamat 25 :37, dan Ulangan 23 :19.

Ini bukan sekadar aturan kuno yang tidak relevan. Ini adalah kebenaran teologis yang sengaja dikubur oleh modernisasi ekonomi. Pertanyaannya : mengapa gereja berhenti bicara soal ini ?

Sejarah panjang gereja melawan praktik riba

Selama hampir seribu tahun, posisi gereja soal riba sangat tegas. Konsili Nicea pada tahun 325 M secara resmi melarang para klerus memungut bunga. Larangan ini kemudian diperluas ke seluruh umat Kristen melalui berbagai konsili regional di abad-abad berikutnya. Paus Klemens V bahkan menyatakan pada tahun 1311 bahwa siapa pun yang membela praktik riba bisa dinyatakan sesat.

Tokoh-tokoh besar seperti Tomas Aquinas membangun argumen filosofis yang rapi : uang adalah alat tukar, bukan komoditas. Menjual “waktu penggunaan uang” sama saja menjual sesuatu yang bukan milik manusia. Argumen ini bertahan kuat hingga abad ke-16.

Pergeseran terjadi ketika reformasi Protestan membawa angin baru. Jean Calvin mulai membedakan antara riba yang eksploitatif dan bunga yang “wajar” untuk keperluan bisnis. Dari sinilah pintu terbuka lebar bagi kapitalisme modern untuk masuk ke dalam logika Kristen. Teologi menyesuaikan diri dengan ekonomi, bukan sebaliknya.

Berikut adalah garis waktu singkat perubahan sikap gereja terhadap riba :

  1. 325 M : Konsili Nicea melarang klerus memungut bunga
  2. 1179 : Konsili Lateran III melarang riba bagi semua umat Kristen
  3. 1311 : Paus Klemens V mengecam pembela riba sebagai sesat
  4. Abad ke-16 : Calvin membuka celah teologis untuk bunga “moderat”
  5. Abad ke-18 : Revolusi industri menormalisasi sistem bunga secara penuh

Relevansi doktrin yang terlupakan ini bagi kehidupan kita hari ini

Franc saja : sistem keuangan modern sepenuhnya dibangun di atas bunga. Kartu kredit, KPR, pinjaman online, semua beroperasi dengan logika yang dulu dikutuk gereja. Bank Indonesia mencatat bahwa rata-rata bunga pinjaman konsumtif mencapai 15 hingga 20 persen per tahun pada 2025. Angka ini jauh melampaui batas “moderat” yang pernah dibayangkan Calvin.

Bagi jutaan keluarga Indonesia yang terjerat utang berbunga tinggi, pertanyaan moralnya sangat nyata. Apakah gereja punya tanggung jawab untuk berbicara tentang ini ? Menurutku, jawabannya jelas : ya, dan sudah terlambat.

Era Sikap gereja Konteks ekonomi
Abad ke-4 hingga ke-15 Larangan total terhadap riba Ekonomi agraris, perdagangan lokal
Abad ke-16 hingga ke-17 Toleransi bunga “wajar” Merkantilisme, ekspansi perdagangan
Abad ke-18 hingga sekarang Diam total atau normalisasi Kapitalisme industri dan digital

Gereja tidak harus menolak seluruh sistem perbankan untuk kembali jujur. Langkah pertama yang bisa diambil adalah mendidik jemaat tentang literasi keuangan berbasis nilai Alkitab, mengajarkan perbedaan antara utang produktif dan utang yang menindas. Banyak komunitas iman di Amerika Latin sudah menerapkan koperasi simpan pinjam tanpa bunga berbasis prinsip ini sejak tahun 1980-an, dan hasilnya nyata.

Dosa yang dilupakan gereja ini bukan soal masa lalu. Ini soal keberanian kita hari ini untuk membaca Alkitab dengan jujur, bahkan ketika itu menantang kenyamanan ekonomi kita sendiri.

Dosa yang Dilupakan Gereja : Kebenaran Tersembunyi

Agung
Scroll to Top