Laporan setebal 176 halaman berjudul “Absent from the Table” yang diterbitkan pada 7 Oktober 2026 membuka fakta mengejutkan : 65% umat Katolik Australia yang jarang hadir di Misa Minggu tetap menyatakan bahwa iman sangat penting dalam kehidupan mereka. Angka ini seharusnya membuat kita bertanya, bukan tentang keimanan mereka, tapi tentang apa yang salah dengan cara Gereja menyambut mereka.
Australia memiliki 25,4 juta penduduk. Pada sensus 2021, hanya 20% yang mengidentifikasi diri sebagai Katolik, turun dari 26% di tahun 2006. Lebih tajam lagi : tingkat kehadiran di Misa anjlok dari 11,8% pada 2016 menjadi hanya 8,2% pada 2021. Dari mereka yang masih datang, 25,8% berusia di atas 70 tahun. Generasi muda, usia 18-29 tahun, hanya menyumbang 9,5%. Ini bukan krisis iman, ini krisis relevansi.
Mengapa umat meninggalkan bangku Gereja setiap Minggu
Penelitian yang ditugaskan oleh konferensi uskup Australia kepada National Centre for Pastoral Research di Canberra melibatkan survei online terhadap 1.963 umat Katolik dewasa, lalu diperdalam dengan wawancara 67 sukarelawan. Hasilnya mengidentifikasi 14 alasan konkret ketidakhadiran, dibagi dalam dua kelompok besar.
Alasan yang berpusat pada individu meliputi :
- Misa bukan prioritas utama dalam jadwal mingguan
- Krisis iman yang belum terselesaikan
- Masalah keluarga atau rumah tangga
- Perjalanan, cuaca, atau sakit sementara
- Penyakit kronis atau faktor usia lanjut
Sementara itu, alasan yang berpusat pada Gereja justru lebih beragam dibanding studi serupa tahun 2007. Isu liturgi mendapat sorotan lebih besar, diikuti ketidakcocokan dengan pastor, penyalahgunaan wewenang, dan persepsi bahwa Gereja tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pandemi COVID-19 juga mempercepat pergeseran ke ekspresi spiritualitas yang lebih pribadi, seperti doa sendiri, Misa online, dan pelayanan komunitas.
Satu isu khas Australia : sebagian umat kecewa dengan respons Gereja terhadap Voice Referendum 2023, yang mengusulkan badan perwakilan bagi komunitas Aborigin. Praktik Acknowledgment of Country sebelum Misa pun memicu reaksi berlawanan : sebagian merasa terganggu, sebagian lain justru kecewa ketika pastor melarangnya.
| Indikator keimanan | Persentase responden |
|---|---|
| Iman sangat penting dalam hidup | 65% |
| Berdoa secara rutin | 64% |
| Mengakui Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi | 55% |
| Berbagi iman dengan orang lain | 40% |
| Menyekolahkan anak di sekolah Katolik | 44% |
Apa yang bisa dilakukan Gereja sekarang juga
Uskup Greg Bennet, wakil presiden konferensi uskup Australia, menulis dalam kata pengantar laporan ini bahwa para responden tidak meminta solusi tunggal. Mereka ingin liturgi yang memberi nutrisi rohani, khotbah yang menyentuh kehidupan nyata, dan kepemimpinan yang rendah hati. Mereka ingin diperlakukan sebagai peziarah, bukan sebagai domba yang hilang.
Uskup Agung Anthony Ireland dari Hobart menunjukkan fakta menarik : setelah pandemi, stadion Australian rules football kembali penuh. Orang tahu cara kembali ke hal yang mereka anggap berharga. Pertanyaannya, bagaimana Gereja membuat Misa Minggu terasa sepenting itu ?
Umat sendiri memberikan saran konkret : jadwal Misa yang lebih fleksibel, durasi yang lebih singkat, musik liturgi yang lebih berkualitas, serta penjelasan ritual bagi mereka yang sudah lama absen. Ini bukan permintaan yang sulit dipenuhi. Memahami hubungan pribadi dengan Yesus sebagai inti identitas Katolik mungkin menjadi titik awal yang paling jujur untuk percakapan ini.
Kongres Ekaristi Internasional 2028 di Sydney disebut sebagai peluang nyata. Renée Köhler-Ryan dari University of Notre Dame Australia melihatnya sebagai momen untuk merespons keresahan yang terungkap dalam laporan ini, dengan liturgi yang indah dan bermakna sebagai fondasi pemulihan.
- Bayangkan saja : apakah kita benar-benar tahu ? - 15 Oktober 2026
- Uskup militer AS desak eksepsi eksekusi tembakan - 14 Oktober 2026
- Chaos at Christianity Today : analisis mendalam - 13 Oktober 2026




