JD Vance Katolik : Konflik dengan Evangelis MAGA 2028

Pria berbicara di podium katedral dengan pendeta dan pejabat.

Pada hari Minggu Paskah 2025, JD Vance bertemu Paus Fransiskus di Vatikan, sehari sebelum pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu meninggal dunia. Pertemuan itu terasa simbolis, bahkan ironis, mengingat ketegangan teologis yang sudah terbuka antara keduanya sejak Februari 2025. Vance, yang baru masuk Katolik pada 2019, kini memposisikan diri untuk berlomba dalam pemilihan presiden 2028, dan jika menang, ia akan menjadi presiden Katolik ketiga dalam sejarah Amerika Serikat.

Perjalanan spiritualnya tidak sederhana. Ia tumbuh dengan akar evangelikal yang kuat, lalu hanyut ke ateisme saat bergabung dengan Korps Marinir AS, sebelum akhirnya masuk Katolik. Tahun ini ia menerbitkan buku berjudul Communion : Finding My Way Back to Faith, seolah ingin menegaskan komitmennya. Namun, justru latar belakang berlapis itulah yang kini menjadi beban politiknya.

Antara Katolik dan evangelikal : identitas yang membingungkan

Dalam sebuah wawancara dengan Bryce Crawford, podcaster Kristen berusia 22 tahun yang memiliki 929.000 pelanggan di YouTube, Vance ditanya soal keyakinannya tentang end times, yaitu konsep kedatangan kedua Kristus yang sangat populer di kalangan evangelikal. Responsnya ? Ia mengakui pernah memiliki Alkitab karya John Hagee yang menekankan ajaran end times, lalu mencoba melangkah mundur dari posisi itu.

Robert Jones, presiden dan pendiri Public Religion Research Institute, membaca manuver itu dengan tajam. “Responsnya mengingatkan saya pada percakapan anak-anak evangelikal muda di asrama kampus,” katanya. Bagi Jones, Vance pada dasarnya berkata bahwa ia tidak punya sikap dalam perdebatan itu. Posisi seperti itu, tambahnya, akan dianggap dangkal atau tidak berpengetahuan oleh siapapun yang benar-benar memahami tradisi evangelikal.

Daniel Hummel dari Lumen Center di Madison, Wisconsin, menilai bahwa Vance masih berbicara seperti seorang evangelikal, meskipun secara formal sudah menjadi Katolik. Perbedaannya bukan soal remeh. Dalam budaya Katolik, bahkan umat konservatif yang tidak setuju dengan paus tetap menjaga hormat terhadap institusi kepausannya. Vance justru meminta Paus Leo XIV untuk “berhati-hati” saat paus mengkritik kebijakan perang Iran pemerintahan Trump. Sikap seperti itu bisa diterima di lingkaran evangelikal, tapi menggores nilai penting di komunitas Katolik.

Aspek Tradisi evangelikal Tradisi Katolik
Otoritas pemimpin gereja Boleh dikritik terbuka Dihormati meski tidak setuju
Konsep end times Sangat sentral Kurang ditekankan
Imigrasi dan “ordo amoris” Lebih fleksibel Dikritik langsung oleh Paus Fransiskus

Koalisi MAGA 2028 dan risiko kehilangan dua basis sekaligus

Larry Jacobs, ilmuwan politik dari University of Minnesota, menyebut pidato Vance di konvensi midterm Partai Republik di Dallas sebagai tanda resmi dimulainya persaingan primer 2028. Dalam pidato itu, Vance mengutip Paulus Rasul dan menyebut aktivis sayap kanan Charlie Kirk yang terbunuh tahun lalu. Pesan nasionalisme Kristen putih hadir nyata.

Masalahnya, lebih dari dua pertiga Republikan mengidentifikasi diri sebagai kulit putih Kristen, dan mayoritas di antara mereka secara eksplisit mendukung gerakan nasionalisme Kristen. Evangelis Kristen yang membawa kekhawatiran ke Capitol Hill sudah lama menjadi tulang punggung koalisi MAGA. Vance butuh mereka. Tapi ia juga butuh umat Katolik. Dua komunitas yang tidak selalu berjalan seirama.

Jacobs menyoroti masalah yang lebih mendasar dari sekadar teologi :

  • Vance terlalu sering terlihat sebagai pemain politik, bukan pemimpin yang autentik
  • Ia pernah menyebut Trump bisa menjadi “Hitler-nya Amerika” sebelum berbalik arah total
  • Ia mengaitkan upaya pembunuhan Trump di Butler, Pennsylvania pada Juli 2024, dengan intervensi ilahi, pandangan yang dianggap berbahaya oleh Jones karena hanya “melihat tangan Tuhan” saat hasilnya menguntungkan

Hummel merumuskan ancaman terbesar Vance dengan tepat : komunitas yang ingin ia rangkul punya keyakinan kuat dan bahasa teologis yang spesifik. Jika Vance terlalu condong ke salah satu sisi, ia akan kehilangan sisi lainnya. Pertanyaan bukan hanya apakah ia cukup Katolik atau cukup evangelikal, tapi apakah ia cukup konsisten untuk dipercaya oleh keduanya.

JD Vance Katolik : Konflik dengan Evangelis MAGA 2028

Agung
Scroll to Top