Memulihkan agama Kristen dari ekstremisme

Pendeta wanita berbicara kepada jemaah di gereja bersejarah.

Hanya sekitar 13 persen dari populasi Amerika Serikat adalah orang Kristen kulit putih evangelikal, namun kelompok ini mampu menggerakkan dinamika politik secara masif. Data dari Public Religion Research Institute (PRRI) menunjukkan bahwa hampir 85 persen dari mereka sepenuhnya mendukung gerakan MAGA. Angka itu mengejutkan, terutama ketika kita ingat bahwa Alkitab yang mereka yakini berbicara jauh lebih banyak tentang menolong orang asing dan kaum rentan daripada tentang kekuasaan politik.

Robert P. Jones, pendiri dan presiden PRRI, menyebut momen ini sebagai “1933 kita sendiri”, merujuk pada tahun runtuhnya Republik Weimar ke tangan Nazi. Ia bukan sembarangan menarik analogi ini. Jones tumbuh besar dalam tradisi Baptis Selatan, menempuh studi di perguruan tinggi dan seminari Baptist, lalu menghabiskan karir ilmiahnya menganalisis hubungan antara ras, supremasi kulit putih, dan iman di Amerika. Perspektifnya bukan perspektif orang luar yang menghakimi, melainkan perspektif seseorang yang mengenal dunia itu dari dalam.

Ketika iman dibajak untuk kepentingan kekuasaan

Bukunya yang terbaru, Backslide : Reclaiming a Faith and a Nation After the Christian Turn Against Democracy, membangun argumen bahwa dukungan evangelikal kulit putih terhadap kebijakan seperti deportasi massal dan retorika nasionalis Kristen bukan sekadar preferensi politik biasa. Ini adalah pergeseran teologis. Jones menulis bahwa Amerika kini hidup dalam sebuah bangsa yang mundur secara demokratis, dibantu oleh Kekristenan kulit putih yang telah murtad dari nilai-nilai intinya.

Contoh konkretnya mengejutkan. Survei PRRI menunjukkan bahwa mayoritas evangelikal kulit putih mendukung pemasangan kawat berduri di sungai yang bisa menenggelamkan para imigran, bahkan penempatan orang dalam kamp interniran. Padahal, Alkitab secara eksplisit memerintahkan umatnya untuk tidak menindas orang asing yang tinggal di antara mereka.

Kelompok Kristen Tingkat dukungan MAGA Potensi resistensi
Evangelikal kulit putih ~85% Rendah
Katolik kulit putih Terbagi Sedang
Protestan mainline kulit putih Terbagi Tinggi
Evangelikal Latino Terbagi Tinggi

Jones menegaskan bahwa mayoritas warga Amerika, yakni dua pertiga dari seluruh populasi, menolak pandangan dunia nasionalis Kristen. Masalah terbesarnya bukan jumlah pendukung ekstremisme itu, melainkan apatisme dari mereka yang tidak setuju namun diam saja.

Memulihkan iman dari dalam : langkah nyata yang bisa diambil

Jones telah diundang ke lebih dari seratus gereja dalam tiga tahun terakhir, semuanya bertanya hal yang sama : apa yang bisa kami lakukan ? Jawabannya tidak sederhana, tapi ada peta jalan yang mulai terbentuk. Apa yang dilakukan pada Amerika serupa dengan apa yang dilakukan pada agama Kristen ini adalah pengamatan penting yang perlu dipahami lebih dalam.

Setidaknya ada beberapa langkah konkret yang sudah terjadi di lapangan :

  1. Lima atau enam denominasi besar telah mengadopsi pernyataan resmi menentang nasionalisme Kristen.
  2. Komunitas Lutheran dan Protestan mainline di Minneapolis aktif memantau pergerakan agen ICE dan membantu komunitas imigran.
  3. Seorang uskup Katolik di dekat El Paso berhasil menghentikan pembangunan pusat penahanan ICE berskala besar.
  4. Tokoh seperti Senator Raphael Warnock, pendeta di gereja Martin Luther King, berbicara lantang dari perspektif iman mereka.

Jones tidak menulis buku ini untuk memaksa siapapun kembali ke gereja. Ia menulis untuk mereka yang masih merasa terhubung dengan iman Kristen dan ingin merebut kembali narasi iman itu dari ekstremisme. Kekristenan yang berpusat pada kasih dan inklusivitas, katanya, justru akan menemukan kesamaan tujuan dengan banyak orang yang telah meninggalkan gereja karena alasan yang sangat masuk akal. Bukan untuk melawan mereka, tapi untuk berjalan bersama menuju demokrasi yang lebih sehat.

Memulihkan agama Kristen dari ekstremisme

Agung
Scroll to Top