Buku pertama JD Vance sejak Hillbilly Elegy akhirnya terbit. Judulnya Communion : Finding My Way Back to Faith, dirilis 15 Juni 2026 oleh Harper, imprint HarperCollins yang sama dengan yang menerbitkan memoir larisnya pada 2016. Associated Press memperoleh salinan buku ini sebelum peluncuran resminya.
Berbeda dari ekspektasi banyak orang, buku ini bukan soal drama politik Washington. Vance justru memilih menulis tentang perjalanan batinnya : dari Kristen Protestan, lalu menjadi ateis, hingga akhirnya masuk Katolik. Sebuah narasi yang lebih personal daripada politis, meski keduanya sulit dipisahkan.
Dari Ayn Rand ke katedral Prancis : jalan panjang menuju iman Katolik
Vance menggambarkan bagaimana neneknya, yang ia panggil mamaw, menjadi jangkar spiritual dalam hidupnya. Setelah sang nenek meninggal, ia menulis : “Dengan kepergiannya, tak ada yang peduli lagi dengan imanku, dan segera aku pun berhenti peduli.” Pada 2006, seusai dinas militer di Irak bersama Korps Marinir, ia mengaku sudah bukan Kristen dalam pengertian apa pun.
Masa atheisnya tidak kosong. Seorang rekan mengenalkannya pada karya Ayn Rand, filsuf yang memuliakan egoisme rasional. Bagi Vance muda, gagasan itu mengisi kekosongan yang ditinggalkan iman. “Aku tidak peduli kehendak Tuhan. Aku peduli kehendakku sendiri,” tulisnya terus terang.
Titik balik datang tak terduga. Vance menghadiri ceramah Peter Thiel, investor Silicon Valley yang kemudian menjadi pendukung politiknya. Thiel, yang terbuka mengidentifikasi diri sebagai Kristen, meruntuhkan asumsi Vance bahwa agama adalah urusan orang-orang yang kurang berpikir. “Ia menentang template sosial sederhana yang telah kubangun,” akui Vance.
Tahun 2018, kunjungan ke sebuah katedral Prancis bersama istri Usha dan putra sulung mereka, Ewan, menjadi momen yang mengubah segalanya. Merenungkan ketahanan Gereja Katolik selama berabad-abad, ia merasakan “rasa memiliki dan kehadiran yang nyata.” Setahun kemudian, ia dibaptis. Ia menikmati proses panjang menuju Katolik, termasuk bacaan dan diskusi yang ia sebut sebagai sebuah “pekerjaan” yang memuaskan.
Perlu dicatat, Vance juga mengungkap pengalaman mendekati maut di jalan licin setelah pemakaman neneknya. Mobilnya kehilangan kendali, namun berhenti misterius sebelum menghantam pembatas jalan. Ia menyebutnya “pengalaman paling dekat dengan sesuatu yang supernatural” yang pernah ia alami.
| Fase | Periode | Keterangan |
|---|---|---|
| Kristen Protestan | Masa kecil | Dipengaruhi oleh neneknya (mamaw) |
| Ateis | 2006–sekitar 2018 | Terinspirasi filsafat Ayn Rand |
| Katolik | 2019–sekarang | Dibaptis setelah kunjungan ke katedral Prancis |
Buku yang lebih dari sekadar memoar : ambisi 2028 dan penyesalan publik
Communion terbit kurang dari lima bulan sebelum pemilu paruh waktu 2026, momen yang secara tidak resmi menandai dimulainya persaingan presiden 2028. Vance disebut-sebut sebagai kandidat kuat, mengikuti tradisi panjang tokoh politik Amerika yang menerbitkan buku sebelum kampanye.
- Andy Beshear (Gubernur Kentucky)
- Josh Shapiro (Gubernur Pennsylvania)
- Gavin Newsom (Gubernur California)
- Kamala Harris (mantan Wakil Presiden)
Keempat nama di atas juga baru menerbitkan atau akan segera menerbitkan buku, sinyal jelas persaingan sudah dimulai.
Dalam buku ini, Vance juga mengakui komentar “childless cat ladies”-nya pada 2021 sebagai kesalahan besar. “Salah satu hal terbodoh yang pernah kubilang,” tulisnya. Ia mengakui komentar itu justru mengaburkan pesannya tentang masyarakat yang menurutnya semakin memusuhi kehadiran anak-anak. Soal hubungan Vance dengan istrinya, JD Vance berharap Usha akan masuk agama Kristen, sebuah dinamika yang juga disinggung dalam buku ini melalui perbedaan pandangan mereka soal akhirat.
Frankly, Communion membaca seperti manifesto, bukan sekadar memoar. Vance ingin mendefinisikan ulang perannya sebelum publik melakukannya lebih dulu.
- Frank Turek : Alien tidak akan mengubah Kekristenan - 19 Juni 2026
- JD Vance : Katolik paling berpengaruh Amerika - 19 Juni 2026
- Teologi tempat : kebutuhan khusus, bukan platitude - 17 Juni 2026




