Pada 4 Oktober tahun lalu, sebuah misa pemberkatan hewan di Paroki Good Shepherd, Zurich, berubah menjadi pusat kontroversi teologis yang mengguncang Keuskupan Chur. Gara-gara prakiraan cuaca buruk, acara yang semula direncanakan di luar ruangan akhirnya dipindahkan ke dalam gereja dan digabungkan dengan perayaan Ekaristi. Tiga umat kemudian memberikan sebagian hosti yang telah dikonsekrasi kepada anjing-anjing mereka.
Kejadian ini segera menarik perhatian Uskup Joseph Bonnemain, imam Opus Dei yang ditunjuk oleh Paus Fransiskus pada 2021 untuk memimpin keuskupan tersebut. Ia langsung memulai penyelidikan resmi.
Penyelidikan keuskupan : antara niat dan pelanggaran kanonik
Pada 17 April, Keuskupan Chur mengumumkan hasil penyelidikannya. Kesimpulannya tegas : ketiga individu tersebut tidak bertindak dengan niat penistaan. Karena hukum kanonik mensyaratkan adanya niat penistaan sebagai unsur penting untuk menetapkan sebuah pelanggaran, mereka tidak dapat dikenai ekskomunikasi yang dicadangkan untuk Takhta Apostolik.
Kanon yang relevan menyatakan bahwa seseorang yang membuang, mengambil, atau menyimpan spesies yang telah dikonsekrasi untuk tujuan penistaan akan dikenai ekskomunikasi latae sententiae. Namun menurut komentar kanonik dari Canon Law Society of America, terdapat tiga skenario pelanggaran yang dibayangkan hukum ini :
- Membuang hosti yang telah dikonsekrasi secara tidak hormat ke tempat yang tidak layak
- Mengambilnya dari tabernakel untuk tujuan penistaan, misalnya ritual satanik
- Menyimpannya untuk tujuan tidak senonoh meski diperoleh secara sah
Uskup Bonnemain menyimpulkan bahwa delictum atau kejahatan kanonik tidak dapat terjadi tanpa niat penistaan. Hukum kanonik juga menegaskan bahwa umat Katolik yang melanggar aturan tidak dapat dihukum jika mereka tanpa kesalahan dan tidak menyadari pelanggaran tersebut, kecuali ketidaktahuan itu bersifat kasar atau disengaja.
Keuskupan menyebut insiden ini sebagai hal yang “sangat disesalkan” dan mengumumkan bahwa Uskup Bonnemain telah mengatur retret bagi seluruh tim paroki untuk mempelajari lebih dalam eksortasi apostolik Paus Fransiskus tentang Ekaristi, Desiderio desideravi. Sebagai respons dari umat awam, sebuah rosario reparasi digelar pada 3 Januari di gereja yang sama, dihadiri sekitar 40 peserta.
Kontroversi lebih luas di Keuskupan Chur
Insiden Ekaristi ini bukan satu-satunya badai yang dihadapi Uskup Bonnemain. Keuskupan Chur memang telah menjadi sumber pemberitaan yang konsisten selama beberapa tahun terakhir. Berikut gambaran singkat berbagai kontroversi yang menandai kepemimpinannya :
| Tahun | Isu | Reaksi |
|---|---|---|
| 2022 | Pemimpin paroki perempuan memimpin doa dalam Liturgi Ekaristi | Penyelidikan kanonik dibuka |
| 2023 | Kode etik klerikal soal orientasi seksual | Lebih dari 40 imam menolak menandatangani |
| 2025 | Regulasi ketenagakerjaan baru di kanton Zurich | Gereja tak bisa lagi mensyaratkan penerimaan ajaran seksualitas |
Kode etik yang ia terbitkan meminta para imam menghindari “penilaian negatif terhadap perilaku berdasarkan orientasi seksual” dan tidak mengajukan pertanyaan tentang kehidupan intim umat. Para imam juga diminta mengakui hak seksual sebagai hak asasi manusia. Lebih dari 40 imam menolak, dengan alasan norma tersebut menghalangi pengajaran doktrin Katolik tentang seksualitas.
Selain itu, Bonnemain pernah menyatakan tidak akan memberi sanksi bagi imam yang memberkati pasangan sipil sesama jenis. Ia bahkan mengusulkan — lalu menarik kembali — agar pernikahan pria dan wanita diberi nama baru seperti “bio-marriage” untuk membedakannya dari bentuk ikatan lain. Regulasi ketenagakerjaan terbaru di kanton Zurich, yang melibatkan Bonnemain dalam negosiasi, kini melarang Gereja mensyaratkan penerimaan ajaran tentang hubungan seksual sebagai kriteria rekrutmen karyawan. Ini mengubah secara fundamental hubungan antara institusi Gereja dan hukum publik Swiss.




