Katolisisme dan evolusi : tanggapan terhadap Stephen Barr

Katolisisme dan evolusi : tanggapan terhadap Stephen Barr

Perdebatan mengenai hubungan antara iman Katolik dan teori evolusi terus bergulir hingga saat ini. Dalam sebuah artikel terbaru di First Things, fisikawan Stephen Barr mengulas dua buku yang mempromosikan evolusionisme Katolik, yakni karya Kenneth W. Kemp dan Daniel Kuebler. Sayangnya, ulasan Barr mengandung sejumlah kesalahan representasi yang perlu dikoreksi untuk memahami posisi Gereja yang sebenarnya terhadap evolusi. Artikel ini bertujuan memberikan tanggapan kritis terhadap klaim-klaim yang disampaikan Barr sambil menelusuri dokumen-dokumen historis yang sering diabaikan dalam diskusi ini.

Dokumen historis yang diabaikan dalam diskusi evolusi

Barr mengklaim bahwa Gereja Katolik tidak pernah mengutuk teori evolusi, namun klaim ini bertentangan dengan fakta dokumenter. Pada tahun 1878, Kongregasi Indeks mengeluarkan dekrit terhadap pastor Italia Raffaello Caverni yang mengadvokasi bentuk moderat evolusionisme. Dokumen tersebut menyatakan bahwa jika karya Caverni dikutuk, maka Darwinisme akan secara tidak langsung terkutuk. Dekrit ini mengkritik Darwin karena menghancurkan dasar-dasar wahyu dan mengajarkan panteisme serta materialisme.

Syllabus Errorum dari Paus Pius IX juga relevan dalam konteks ini. Tesis ke-22 yang dikutuk menyatakan bahwa kewajiban guru dan penulis Katolik hanya terbatas pada dogma yang ditetapkan secara infallibel. Ini berarti umat Katolik terikat untuk menerima penciptaan khusus manusia bahkan jika hal itu tidak didefinisikan sebagai dogma terpisah. Lebih lanjut, pada tahun 1860, Sinode Cologne menyatakan bahwa orang tua pertama kita diciptakan langsung oleh Allah, yang jelas menolak asal-usul evolusioner manusia.

Tahun Dokumen/Peristiwa Isi Utama
1817 Indeks Buku Terlarang Buku Zoonomia Erasmus Darwin dikutuk
1860 Sinode Cologne Pernyataan penciptaan langsung manusia
1878 Dekrit Kongregasi Indeks Pengutukan tidak langsung terhadap Darwinisme
1950 Humani Generis Pembatasan diskusi tentang evolusi

Paus Leo XIII dalam ensikliknya Arcanum dengan tegas menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari tanah liat dan menciptakan pasangannya dari tulang rusuknya. Paus menegaskan bahwa doktrin ini “diketahui semua orang dan tidak dapat diragukan oleh siapa pun”, yang jelas bertentangan dengan pandangan bahwa terdapat beragam opini yang bebas didiskusikan mengenai asal-usul manusia. Pemahaman mendalam tentang ajaran Katolik sangat penting untuk mengatasi kebingungan ini.

Kesalahpahaman terhadap ensiklik Humani Generis

Interpretasi Barr terhadap ensiklik Humani Generis tahun 1950 sangat menyimpang dari maksud sesungguhnya. Paus Pius XII dalam dokumen tersebut tidak mengizinkan pandangan evolusioner, melainkan hanya “tidak melarang” diskusi mengenai asal-usul tubuh manusia dengan empat syarat ketat :

  1. Argumen dari kedua sisi harus dipertimbangkan dengan serius
  2. Hipotesis evolusi tidak boleh disajikan sebagai fakta yang terbukti
  3. Keputusan-keputusan Gereja harus selalu diperhatikan
  4. Sarjana Katolik tidak boleh bertindak seolah-olah sumber wahyu ilahi tidak mengandung hal yang memerlukan kehati-hatian maksimal

Para evolusionis Katolik modern sayangnya tidak memenuhi satupun dari keempat persyaratan ini. Mereka jarang mempertimbangkan argumen dari pihak yang mendukung penciptaan khusus, sering menyajikan evolusi sebagai fakta yang terbukti, dan cenderung mengabaikan keputusan-keputusan Gereja sebelumnya. Yang lebih mengkhawatirkan, mereka mengabaikan larangan eksplisit Paus terhadap poligenisme.

Katolisisme dan evolusi : tanggapan terhadap Stephen Barr

Perspektif teologis dan historis yang lebih luas

Ide evolusi teistik bukanlah konsep modern, melainkan merupakan kebangkitan kembali konsep pagan kuno yang bertentangan dengan kekristenan Alkitabiah. Kosmogoni pagan tidak mencakup ide penciptaan langsung, karena dewa-dewa mereka terlalu besar atau terlalu fokus pada diri sendiri untuk bertindak langsung pada materi. Bahkan dalam pemikiran Plato, Aristoteles, dan neo-Platonis, Tuhan tidak pernah menciptakan berbagai bentuk kehidupan secara langsung.

Ketika Santo Paulus berbicara di Areopagus Athena, hal pertama yang ia proklamirkan adalah ide penciptaan yang benar. Ia menyatakan percaya pada “Allah yang menciptakan dunia dan segala isinya” (Kisah 17 :24). Ini bukan pandangan evolusionis teistik yang mengatakan bahwa Allah menciptakan dunia lalu membiarkannya dibentuk oleh hukum alam. Santo Irenaeus mengutuk ide bahwa Allah menggunakan alam semesta untuk membentuk alam semesta, karena ia menemukan konsep ini dalam tulisan-tulisan Gnostik yang bertentangan dengan ajaran Kristiani.

Dalam konteks yang lebih luas, evolusi teistik dapat dilihat sebagai dorongan balik neo-pagan yang bertentangan dengan beberapa prinsip substansial kekristenan. Ide ini memasuki Gereja melalui kedok “sains modern”, namun Gereja dalam pengajaran doktrinalnya tidak pernah mengadopsi bentuk evolusi teistik atau asal-usul evolusioner manusia, bahkan secara implisit sekalipun.

Agung
Scroll to Top