Haruskah orang Kristen masih membaca buku-buku Philip Yancey ?

Haruskah orang Kristen masih membaca buku-buku Philip Yancey ?

Ketika penulis bestseller Philip Yancey yang berusia 76 tahun mengungkapkan perselingkuhan selama delapan tahun dengan seorang wanita yang sudah menikah, gelombang kejutan mengguncang komunitas Kristen global. Pengakuan yang dipublikasikan melalui email kepada Christianity Today ini memicu pertanyaan mendasar : haruskah karya-karyanya yang telah menginspirasi jutaan pembaca tetap dibaca dan direkomendasikan ?

Pengakuan yang mengejutkan dari seorang tokoh spiritual

Dalam suratnya, Yancey menyatakan bahwa hubungan terlarang tersebut sepenuhnya bertentangan dengan segala sesuatu yang ia percayai tentang pernikahan dan iman. Sang penulis mengakui bahwa tindakannya “sama sekali tidak konsisten” dengan prinsip-prinsip kristiani yang selama ini ia tuliskan dalam buku-bukunya. Pernyataan ini penuh dengan penyesalan dan komitmen untuk menjalani program konseling serta pertanggungjawaban guna memulihkan kepercayaan dan hubungan pernikahannya.

Yang tak kalah mengharukan adalah respons istrinya, Janey Yancey, yang telah menikah dengannya selama 55 tahun. Meskipun berada dalam trauma dan kehancuran akibat pengkhianatan tersebut, ia memilih untuk tetap berpegang pada janji pernikahan yang diucapkannya lebih dari lima dekade lalu. Dalam pernyataannya, Janey mengakui bahwa hanya mereka yang pernah mengalami pengkhianatan yang dapat memahami kedalaman luka yang ia rasakan.

Aspek Detail
Durasi perselingkuhan 8 tahun
Usia Philip Yancey 76 tahun
Lama pernikahan 55 tahun
Buku terjual Lebih dari 15 juta kopi
Bahasa terjemahan Lebih dari 50 bahasa

Dilema membaca karya dari penulis yang jatuh dalam dosa

Karya-karya Yancey seperti What’s So Amazing About Grace ? dan The Jesus I Never Knew telah terjual lebih dari 15 juta eksemplar di seluruh dunia. Buku-bukunya yang membahas topik-topik sulit seperti keraguan, penderitaan, dan doa telah menjadi referensi penting bagi komunitas Kristen evangelical. Kini, pembaca menghadapi dilema : apakah kebenaran yang tertulis dalam buku-bukunya tetap valid meskipun penulisnya telah gagal secara moral ?

Berbagai pandangan muncul dalam merespons situasi ini. Kelly Williams, seorang pendeta dari Vanguard Church di Colorado Springs, berpendapat bahwa pilihan pribadi Yancey tidak mengubah kebenaran yang ia tulis. Ia akan terus menampilkan dan merujuk kepada buku-buku tersebut dalam pelayanannya. Sebaliknya, Amy Boucher Pye, mantan editor di penerbit Yancey, memilih untuk tidak lagi menyimpan buku-bukunya dan mencari alternatif dari penulis lain yang menawarkan perspektif segar tentang iman Kristen.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam membuat keputusan pribadi ini meliputi :

  • Perbedaan antara kebenaran ajaran dan integritas pribadi penulis
  • Dampak terhadap korban dan keluarga yang terlibat dalam skandal
  • Pertimbangan apakah pembelian buku akan memberikan keuntungan finansial kepada pelaku
  • Konteks pengakuan dosa : apakah sukarela atau karena terpaksa

Penerbit HarperCollins Christian Publishing mengonfirmasi bahwa buku-buku Yancey masih tersedia untuk dijual, berbeda dengan kasus Steve Timmis yang bukunya langsung ditarik oleh IVP setelah tuduhan kepemimpinan yang kasar pada tahun 2020. Keputusan untuk terus membaca atau merekomendasikan karya Yancey akhirnya menjadi pilihan pribadi setiap pembaca, yang harus mempertimbangkan nurani dan keyakinan masing-masing dalam konteks kasih karunia yang ironisnya begitu sering ia tulis.

Haruskah orang Kristen masih membaca buku-buku Philip Yancey ?

Rian Pratama
Scroll to Top