Pada 11 Agustus 2026, sekitar 40.000 penonton memenuhi stadion Chicago White Sox untuk malam bertema kepausan. Di inning kelima, Pastor Tom Hurley memimpin seluruh tribun dalam salam damai massal, dan ribuan tangan berjabatan di bawah lampu stadion. Momen itu viral. Indah. Tapi jujur saja : adegan seperti itu hampir mustahil kamu temukan di kebanyakan paroki Katolik saat ini.
Sejak pandemi COVID-19, jabat tangan saat salam damai praktis menghilang dari perayaan Misa. Yang tersisa adalah anggukan kepala, lambaian tangan, atau tanda perdamaian tanpa sentuhan. Pertanyaannya bukan sekadar soal higienitas. Ini menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam : apa sebenarnya makna spiritual dari gestur ini ?
Akar tradisi yang sering dilupakan umat
Salam damai bukan penemuan Konsili Vatikan II. Justinus Martir, sekitar tahun 155 Masehi, sudah mendeskripsikan umat Kristen bertukar ciuman damai sebelum Konsekrasi Ekaristi. Namun praktik ciuman ini menimbulkan masalah logistis, sehingga pada abad ke-12 atau ke-13, digantikan oleh paxbrede, semacam tablet yang dicium lalu diedarkan. Ironisnya, perselisihan soal urutan siapa yang mencium tablet itu justru mengakhiri kebiasaan tersebut. Pada 1570, Paus Pius V membatasinya hanya untuk klerus di altar.
Ratusan tahun kemudian, Konsili Vatikan II menghidupkannya kembali dalam bentuk yang lebih inklusif. General Instruction of the Roman Missal (GIRM) tahun 1970 menegaskan dua tujuan utama salam damai :
- Mendoakan perdamaian dan kesatuan yang berasal dari Kristus.
- Mempersiapkan diri menyambut Komuni dengan melepaskan perselisihan, sesuai Matius 5 :23-24.
GIRM juga memberi kebebasan kepada para uskup untuk menentukan bentuk salam sesuai budaya setempat. Di Amerika Serikat, jabat tangan dianggap paling sesuai norma sosial. Tapi ada catatan penting dalam dokumen itu : gestur ini harus dilakukan dengan cara yang tenang dan hanya kepada orang-orang terdekat. Catatan yang sayangnya sering diabaikan.
Debat yang belum selesai : dari jabat tangan hingga anggukan kepala
Paus Benediktus XVI, dalam eksortasi apostolik Sacramentum Caritatis tahun 2007, meminta agar gestur ini dilakukan dengan lebih banyak ketenangan. Ia bahkan mempertimbangkan pemindahan salam damai ke sebelum persembahan, seperti yang dilakukan Gereja Timur. Namun pada 2014, Kongregasi untuk Ibadat Ilahi memutuskan mempertahankan posisinya, tepat setelah Doa Tuhan dan sebelum pemecahan Roti.
Tim O’Malley, profesor teologi di University of Notre Dame dan direktur akademik Notre Dame Center for Liturgy, berpendapat bahwa jabat tangan sebenarnya kurang tepat secara liturgis karena lebih cocok untuk konteks perkenalan. Menurut dia, berjongkok hormat atau bertatap mata sambil mengucapkan “Damai Tuhan bersamamu” justru lebih bermakna. Ini pandangan yang menarik dan perlu direnungkan.
Berikut gambaran perubahan praktik salam damai dari masa ke masa :
| Periode | Bentuk salam | Keterangan |
|---|---|---|
| Abad ke-2 | Ciuman damai | Disebutkan Justinus Martir |
| Abad ke-12-13 | Paxbrede | Tablet yang diedarkan |
| 1570 | Hanya klerus | Keputusan Paus Pius V |
| 1970 | Jabat tangan | Pasca-Vatikan II |
| 2020-sekarang | Anggukan, lambaian | Dampak pandemi COVID-19 |
Satu hal yang jarang dibahas : praktik salam damai berkaitan erat dengan semangat rekonsiliasi yang juga hidup dalam sakramen tobat. Jika kamu tertarik memahami lebih dalam bagaimana Gereja mendorong umatnya berdamai dengan Allah dan sesama, umat Katolik kembali ke pengakuan dosa dengan fokus pada rahmat, bukan sekadar menghindari hukuman, adalah perspektif yang patut kamu baca.
Pastor Andrew Menke dari ICEL menegaskan bahwa variasi gestur masih dapat diterima, selama tetap bermakna. Dan belakangan ini, di banyak paroki, jabat tangan perlahan mulai muncul kembali. Mungkin justru setelah kehilangan kebiasaan itu, umat baru menyadari betapa berartinya.
- Kaum Katolik : Diskusi tentang Salam Damai - 9 September 2026
- Faith dalam doa umat Katolik 25 tahun usai - 8 September 2026
- Pengungsi agama : Administrasi Trump nol penempatan - 5 September 2026




