Mengajar di Yale : Membimbing generasi Z katolik

Profesor berbicara kepada mahasiswa di kapel dengan arsitektur klasik.

Di kampus Universitas Yale, sesuatu yang tidak terduga sedang terjadi. Bukan demonstrasi mahasiswa, bukan pula perdebatan soal kurikulum digital. Kelas sejarah berjudul The Catholic Intellectual Tradition mendadak menjadi yang paling diminati musim semi lalu, dengan 85 mahasiswa terdaftar, mengalahkan mata kuliah populer seperti The Birth of Europe dan The Roman Empire. Bagi saya yang mengajar sejarah Amerika Latin dan sejarah global di sini, angka itu bukan sekadar statistik. Itu sinyal.

Generasi Z katolik bermunculan di mana-mana. Mereka berkumpul di komunitas mahasiswa, saling mengikuti di media sosial, dan duduk di barisan depan kuliah teologi. Ketika saya menjadi pengajar pendamping di kelas tersebut, saya menemukan mahasiswa yang antusias mendiskusikan kristologi abad keempat, mistisisme abad pertengahan, hingga teori just war yang kini kembali relevan di tengah konflik geopolitik terkini. Padahal saat saya kuliah di Yale antara 2014 dan 2018, hanya 13 mahasiswa yang mengikuti kelas yang sama.

Kebangkitan iman di antara generasi yang dianggap sekuler

Fenomena ini membingungkan banyak kalangan akademik. Selama bertahun-tahun, universitas-universitas terkemuka menghindari sejarah agama dengan asumsi topik seperti Reformasi dan Puritanisme sudah usang. Rekrutmen akademisi spesialis kehidupan religius pun sangat minim dalam satu dekade terakhir. Akibatnya, ruang pendidikan iman diisi oleh gerakan konservatif yang mengirim siswa dari sekolah K-12 langsung ke kampus-kampus Katolik tradisional seperti Rosary College dan Wyoming Catholic College, yang justru tumbuh meski sektor pendidikan secara umum mengalami turbulensi.

Data menunjukkan mayoritas Generasi Z Katolik di Amerika Serikat berlatar belakang Latinx. Mereka tidak membutuhkan iman yang dikemas steril. Mereka ingin memahami kompleksitas, kontradiksi, dan relevansi tradisi yang mereka warisi. Tren ini sejalan dengan kebangkitan luar biasa Katolikisme di era modern, sebuah pergerakan yang melampaui batas geografis dan generasi.

Perbandingan antara kondisi dulu dan kini cukup mencolok :

Periode Jumlah mahasiswa kelas Katolik di Yale Konteks sosial
2014 (tahun ajaran) 13 mahasiswa Dominasi teori poskolonial, studi gender
2025-2026 (musim semi) 85 mahasiswa Kebangkitan spiritualitas Gen Z Katolik

Apa yang harus diajarkan, dan bagaimana caranya

Frankly, universitas tidak bisa terus bersikap pasif. Mereka harus merancang kurikulum yang mencerminkan keberagaman suara dalam tradisi Katolik, bukan hanya kanon Eropa laki-laki. Di kelas kami, mahasiswa membaca tulisan Julian of Norwich, mistik abad ke-12 yang diakui sebagai perempuan pertama menulis buku dalam bahasa Inggris. Mereka juga mengkaji Dorothy Day, jurnalis dan aktivis yang bertobat menjadi Katolik pada 1927, yang kritiknya tentang ketimpangan sosial tetap menusuk hingga sekarang.

Kurikulum yang kuat tentang Katolisisme perlu mencakup setidaknya tiga dimensi :

  1. Perspektif perempuan dan suara marginal dalam teologi dan sejarah gereja
  2. Dimensi global, khususnya Afrika dan Amerika Latin, di mana Katolisisme tumbuh paling pesat
  3. Persimpangan antara sejarah Katolik dan identitas queer, bidang yang dipelopori almarhum sejarawan Yale John Boswell sejak dekade 1980-an

Kakek saya, mantan seminaris, selalu mengutip Agustinus dari Hippo : “Tolle, lege”, ambil dan baca. Dulu saya mendengar itu sebagai perintah keras. Kini saya mendengar undangan yang hangat. Mahasiswa Generasi Z Katolik tidak butuh doktrin yang dipaksakan. Mereka butuh ruang untuk bergumul dengan paradoks iman secara intelektual dan jujur. Universitas yang gagal menyediakan ruang itu bukan hanya kehilangan peluang akademis; mereka menyerahkan generasi paling religius dalam beberapa dekade terakhir ke tangan institusi yang jauh lebih sempit pikirannya.

Mengajar di Yale : Membimbing generasi Z katolik

jose
Scroll to Top