Nasionalisme Kristen meningkat : peringatan kongresman

Pria berdasi biru berpidato di podium gereja penuh.

6 Januari 2021. Salib, shofar, dan bendera “Appeal to Heaven” memenuhi Gedung Capitol. Massa berdoa sambil mengangkat tangan sementara polisi dipukuli. Bagi Kongresman Jared Huffman, yang terkunci sendirian di kantornya hari itu, satu kesimpulan terasa tak terhindarkan : itu adalah kudeta yang sangat Kristiani. Kini ia menulis buku berjudul No Prophets : The Fight to Save Democracy from Christian Nationalism, menyebut Amerika memiliki titik buta sebesar Alkitab terhadap ancaman ini.

Huffman, 62 tahun, adalah satu-satunya anggota Kongres yang secara terbuka mengakui tidak percaya kepada Tuhan. Ia besar di Independence, Missouri, kota asal mantan Presiden Harry Truman, dan bahkan pernah ditahbiskan sebagai pendeta muda dalam gereja Reorganized Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints. Keraguan muncul saat ayahnya meninggal tiba-tiba ketika ia kuliah di UC Santa Barbara. “Hal-hal supranatural dalam imanku tak lagi masuk akal,” akunya. Setelah bertahun-tahun merenung, ia memilih label humanis, bukan ateis, karena humanisme menurutnya merupakan pernyataan afirmatif tentang apa yang dipercayai, bukan sekadar penolakan.

Titik buta demokrasi dan koalisi nasionalisme Kristen

Salah satu fakta paling mengejutkan dalam buku Huffman adalah pengungkapan tentang laporan Komite Pilihan 6 Januari. Tim ungu (Purple Team) mendokumentasikan peran jaringan evangelikal karismatik, khususnya New Apostolic Reformation (NAR), dalam memobilisasi massa. Ketua Bennie Thompson mengakui temuannya signifikan. Namun Liz Cheney memveto seluruh bagian tersebut, dengan alasan fokus pada nasionalisme Kristen akan mengalihkan perhatian dari tanggung jawab pribadi Trump. Huffman tidak ragu berpendapat : jika para penyerang mengenakan hijab atau membawa Quran, laporan itu pasti menganalisis koneksi agama mereka dengan presisi bedah.

Nasionalisme Kristen bukan monolith. Huffman mengidentifikasi tiga faksi utama yang membentuk koalisi ini :

  • NAR (New Apostolic Reformation) : jaringan “rasul” dan “nabi” yang menyebut Trump sebagai Raja Cyrus modern, dipimpin figur seperti Paula White-Cain dan Lance Wallnau.
  • Rad Trads Katolik : kelompok yang menentang reformasi Vatikan II dan ingin otoritas moral Katolik memerintah negara. JD Vance dan Steve Bannon termasuk simpatisannya.
  • Theobros Protestan : dipimpin Pastor Doug Wilson dari Moscow, Idaho, yang mengadvokasi sistem di mana perempuan dan non-Kristen kehilangan hak pilih.

Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Trump, menjadi simbol paling nyata gerakan ini. Tubuhnya dipenuhi tato Crusader, termasuk tulisan Deus vult, dan ia mengadakan ibadah Kristen bulanan di auditorium Pentagon yang disiarkan ke seluruh jaringan internal. Bagi Huffman, Hegseth justru berguna : “Ia terlalu gamblang sehingga menjadi studi kasus yang sempurna.”

Faksi Tokoh Kunci Agenda Utama
NAR Paula White-Cain Mandat ilahi untuk Trump
Rad Trads Steve Bannon Negara berbasis moral Katolik
Theobros Doug Wilson Konstitusi berbasis Kreed Apostolik

Melawan “hak istimewa Kristen” sebelum terlambat

Huffman memperingatkan bahwa nilai-nilai Pencerahan sejak era Thomas Jefferson kini terancam secara konkret. Ia mengutip Voltaire : “Mereka yang bisa membuatmu mempercayai kebohongan bisa membuatmu melakukan kekejaman.” Anggota Kongres Mary Miller dari Illinois pernah mengutip Hitler dalam rapat umum 2021, dan menolak panel surya karena “Tuhan yang mengontrol matahari.” Ini bukan retorika pinggiran, ini legislator aktif.

Huffman menyerukan koalisi pro-demokrasi yang luas. Perlawanan terhadap dominasi MAGA atas kekristenan Amerika harus melibatkan Kristen moderat, non-Kristen, dan warga sekuler bersama-sama. Ia mengingatkan pada runtuhnya Republik Weimar awal 1930-an : Hitler bisa dihentikan seandainya partai-partai tengah dan kiri mau berkolaborasi. Mereka gagal. Paralel dengan situasi Amerika saat ini bukan sekadar analogi retoris, melainkan peringatan historis yang sangat serius.

Nasionalisme Kristen meningkat : peringatan kongresman

jose
Scroll to Top