Di tengah gejolak politik yang memanas di Amerika Serikat, Minnesota menjadi titik fokus perlawanan terhadap kebijakan imigrasi administrasi Trump. Para pemimpin religius dari berbagai denominasi bersatu dalam misi yang mereka anggap sebagai kewajiban moral : melindungi komunitas imigran dari operasi penangkapan ICE yang agresif. Gerakan ini menunjukkan wajah baru dari kepemimpinan keagamaan progresif yang kontras dengan konservatisme politik yang dominan di pemerintahan federal.
Solidaritas lintas agama membentuk jaringan perlindungan
Kisah Imam Mowlid Ali dari masjid Minneapolis menggambarkan fenomena luar biasa. Setelah Presiden Trump menyebut migran Somalia sebagai “sampah” pada Desember lalu, pintu masjidnya tidak pernah sepi. Orang-orang Kristen evangelis, warga Minnesota kulit putih, bahkan beberapa pemilih Trump datang untuk menyampaikan solidaritas mereka. “Mereka mengatakan bahwa pernyataan presiden tidak mencerminkan diri mereka sebagai tetangga kami,” kenang Ali.
Ketika agen ICE tiba beberapa minggu kemudian, seorang rabi datang dengan teman-temannya membawa sekop untuk membersihkan salju sebelum shalat Jumat. Mereka bertahan di luar selama berjam-jam, dan terus kembali setiap minggu. Tindakan nyata ini menjadi simbol kuat dari persatuan antaragama yang melampaui perbedaan politik.
Jaringan dukungan yang terorganisir dengan baik telah terbentuk melalui :
- Grup pesan teks untuk koordinasi cepat antar pemimpin agama
- Pertemuan mingguan untuk merencanakan strategi perlindungan
- Rantai email untuk berbagi informasi dan sumber daya
- Sistem bantuan timbal balik termasuk pengiriman bahan makanan
- Layanan antar-jemput sekolah untuk anak-anak keluarga imigran
Aktivisme religius menghadapi represi negara
Pastor Stephanie Williams O’Brien, seorang Kristen evangelis, mengamati perubahan signifikan dalam jemaatnya yang secara politik beragam. Bahkan pendukung konservatif mulai mempertanyakan dukungan mereka terhadap presiden. “Mereka berkata, ‘Saya masih mendukung penegakan hukum tetapi tidak mendukung apa yang terjadi saat ini,'” jelasnya. Sekitar 100 pemimpin agama ditangkap selama protes di bandara Minneapolis, menurut laporan Wall Street Journal.
Uskup Sean Rowe dari Gereja Episkopal menegaskan bahwa perlawanan ini bukan pilihan melainkan tanggung jawab Kristen. “Kita mungkin dipanggil untuk mempertaruhkan tubuh kita dan harus siap melakukannya,” ujarnya dengan tegas. Pastor Mariah Furness Tollgaard yang ditangkap dalam protes bandara menambahkan bahwa momen ini menunjukkan keyakinan mendalam yang telah mereka jalani sejak lama.
| Bentuk Bantuan | Pelaksana | Dampak |
|---|---|---|
| Bantuan hukum | Pastor Joel Ramirez | Menghubungkan keluarga tahanan dengan pengacara |
| Distribusi makanan | Relawan gereja | Ratusan porsi per minggu |
| Dukungan ibu menyusui | Pastor Kari Nicewander | Menjamin nutrisi bayi yang ibunya ditahan |
Perpecahan dalam kekristenan Amerika kontemporer
Imigrasi telah menjadi isu paling memecah belah dalam kekristenan Amerika selama masa jabatan kedua Trump. Selama setahun terakhir, Kristen konservatif mendominasi percakapan ini dengan menentukan agenda federal dan muncul secara masif di media. Namun sekarang, kepemimpinan religius yang lebih progresif mencuri perhatian sebagai kontrapoin hipervisibel terhadap Kekristenan yang dimuskularisasi dan dipolitisasi oleh administrasi Trump.
Minnesota, di mana sekitar 70 persen pemilih mendukung Kamala Harris atas Donald Trump pada 2024, menjadi laboratorium bagi resistensi berbasis iman ini. Rumah ibadah telah berubah menjadi pusat bantuan timbal balik, menyediakan tempat berlindung, makanan hangat, dan momen ketenangan bagi siapa saja yang membutuhkan. Lauren Smith, seorang copywriter berusia 27 tahun, menyaksikan bagaimana gereja-gereja membuka pintu mereka lebar-lebar untuk memberikan kehangatan dan kopi bagi orang yang kedinginan di luar.




