Pendidikan agama : Kristen tetap elemen inti kurikulum

Seorang guru wanita membaca buku di depan siswa-siswi yang duduk di meja kayu.

Mahkamah Agung Inggris pernah memutuskan bahwa pendidikan agama di Irlandia Utara tidak diajarkan secara objektif, kritis, dan pluralistik. Putusan ini menjadi titik balik yang memaksa reformasi kurikulum besar-besaran. Hasilnya : sebuah silabus baru yang kini masuk tahap konsultasi publik hingga 30 September 2026.

Satu hal yang perlu dipahami sejak awal : Kekristenan tetap menjadi elemen inti dalam kurikulum pendidikan agama yang baru ini. Bukan karena kebiasaan lama, tapi karena Mahkamah Agung sendiri mengakui bahwa Kekristenan adalah agama terpenting di Irlandia Utara. Porsi terbesar pembelajaran tetap berfokus pada pengetahuan tentang iman Kristen.

Apa yang berubah dalam kurikulum agama baru ini ?

Menteri Pendidikan Paul Givan menunjuk panel ahli untuk menyusun silabus baru setelah putusan pengadilan tersebut. Panel ini dipimpin oleh Prof. Noel Purdy dari Stranmillis University College dan Joyce Logue, mantan kepala sekolah Long Tower Primary School di Londonderry. Mereka bekerja bersama guru-guru, pemuda, pemimpin agama, serta lembaga pendidikan dalam proses konsultasi yang luas.

Perubahan paling signifikan menyentuh jenjang sekolah dasar. Sebelumnya, murid baru diperkenalkan dengan agama-agama lain di tingkat lanjutan. Kini, Islam dan Yudaisme sudah diajarkan sejak kelas awal sekolah dasar, berdampingan dengan Kekristenan. Silabus lama berumur hampir 20 tahun dan tidak lagi mencerminkan keberagaman masyarakat Irlandia Utara yang terus berkembang.

Berikut perbedaan pokok antara silabus lama dan silabus baru :

Aspek Silabus lama Silabus baru
Agama lain di SD Tidak diajarkan Islam & Yudaisme sejak kelas awal
Pandangan non-religius Tidak tercakup Ateisme & Humanisme diperkenalkan
Agama di SMP/SMA Terbatas Islam & Yudaisme (GCSE) Buddha, Hindu, Sikh juga dipelajari
Pemikiran kritis Minim Diprioritaskan secara eksplisit

Prof. Purdy menegaskan bahwa silabus baru ini sesuai dengan putusan Mahkamah Agung sekaligus putusan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa. Menurutnya, ini kesempatan untuk membawa pendidikan agama sesuai dengan realitas Irlandia Utara masa kini.

Kekristenan tetap fondasi, tapi perspektif meluas

Perlu ditegaskan : silabus baru ini bukan penghapusan Kekristenan dari kurikulum. Murid tetap mempelajari Alkitab, kehidupan Yesus, dan denominasi-denominasi Kristen utama. Undang-undang yang mewajibkan ibadah kolektif harian di sekolah, yaitu Education and Libraries (Northern Ireland) Order 1986, juga tidak dibatalkan.

Di jenjang menengah atas, murid mulai mengkaji bagaimana identitas keagamaan memengaruhi identitas politik dan budaya di Irlandia Utara. Mereka juga menelaah sikap berbagai agama terhadap isu-isu seperti seksualitas dan perang. Ini bukan sekadar perluasan materi, tapi pembentukan kemampuan berpikir kritis yang nyata.

Orang tua tetap memiliki hak menarik anaknya dari pelajaran agama atau ibadah kolektif. Ketentuan ini tidak berubah dalam kurikulum baru.

Beberapa poin penting yang diperkenalkan dalam silabus baru untuk jenjang menengah :

  • Agama Buddha, Hinduisme, dan Sikhisme sebagai materi wajib
  • Pandangan non-religius seperti Ateisme dan Humanisme
  • Hubungan antara keyakinan agama dan sikap terhadap isu sosial
  • Pengaruh identitas keagamaan pada dinamika politik lokal

Konsultasi publik atas draft silabus ini terbuka hingga 30 September 2026. Givan mendorong guru, orang tua, dan pemangku kepentingan untuk berpartisipasi aktif agar kurikulum yang lahir benar-benar kokoh secara hukum dan relevan secara praktis. Suara masyarakat di tahap ini akan menentukan bentuk final pendidikan agama generasi mendatang.

Pendidikan agama : Kristen tetap elemen inti kurikulum

Rian Pratama
Scroll to Top