Paus Leo desak sekte ultrakonservatif jangan pesan uskup

Paus berbaju putih berdiskusi dengan enam kardinal di katedral.

Pada 1 Juli 2026, Gereja Katolik menghadapi salah satu ujian terberat sejak kepemimpinan Paus Leo dimulai. Sebuah sekte ultrakonservatif berencana menahbiskan empat uskup tanpa restu Vatikan, sesuatu yang secara kanonik bisa memicu skisma resmi. Bukan ancaman kosong : ini adalah krisis nyata, dengan konsekuensi ekskomunikasi yang menggantung di udara.

Surat Paus Leo dan penolakan keras SSPX

Paus Leo menulis surat pribadi kepada Romo Davide Pagliarani, pemimpin tertinggi Society of Saint Pius X (SSPX), memohon agar rencana penahbisan dibatalkan. Kutipannya langsung dan emosional : “Saya mohon dengan segenap hati : kumohon, urungkan niatmu !” Leo memperingatkan bahwa tindakan skismatis ini akan merampas umat dari penerimaan sakramen yang sah dan valid. Ia menyebut perbuatan tersebut sebagai “dosa yang sangat berat”, dengan menggunakan frasa teologis yang jarang keluar dari mulut seorang Paus.

Respons SSPX tidak kalah tegas. Juru bicara mereka, Marc-André Mabillard, menyatakan kepada Associated Press bahwa sekte ini tidak mengubah “rencana sama sekali”. Ia menambahkan dengan nada yang memilukan : “Kami tidak takut. Ini menyakitkan, tapi kami percaya kebaikan yang kami cari lebih besar dari penderitaan yang akan kami tanggung.” Tanggapan ini menunjukkan bahwa bagi SSPX, tekanan Roma bukan alasan untuk mundur.

Christopher White, penulis buku Pope Leo XIV : Inside the Conclave and the Dawn of a New Papacy sekaligus peneliti senior di Georgetown University, Washington DC, memberi penilaian tajam : fakta bahwa Paus Leo secara eksplisit menyebut konsekuensi ekskomunikasi membuktikan keseriusan situasi ini, dan bahwa ia tidak bersedia menutup mata demi menjaga “persatuan semu” semata.

Siapa sebenarnya SSPX dan mengapa ini penting

SSPX bukan kelompok pinggiran tanpa pengaruh. Didirikan pada 1970 di desa Écône, Swiss, oleh Uskup Agung Marcel Lefebvre, sekte ini lahir sebagai penolakan terhadap reformasi Konsili Vatikan II (1962-1965), termasuk kebijakan mengizinkan misa dalam bahasa lokal. Lefebvre bersikeras bahwa Latin adalah satu-satunya bahasa yang sah untuk liturgi. Bagi mereka yang ingin memahami konteks perdebatan ini lebih luas, dukungan Paus baru terhadap Misa Latin menjadi pertanyaan besar umat Katolik menjelang Konklaf, dan relevansinya kini semakin nyata.

Saat ini SSPX memiliki hampir 1.500 imam, seminaris, dan anggota panggilan lainnya. Basis operasional terbesarnya ada di Kansas, Amerika Serikat, selain di Prancis dan Argentina. Ini bukan komunitas kecil yang bisa diabaikan. Berikut kronologi momen-momen krusial dalam hubungan SSPX dengan Vatikan :

  1. 1970 : Lefebvre mendirikan SSPX di Écône, Swiss.
  2. 1988 : Lefebvre menahbiskan empat uskup tanpa izin Paus Yohanes Paulus II; semua pihak diekskomunikasi.
  3. 2009 : Paus Benediktus XVI mencabut ekskomunikasi tersebut, termasuk untuk uskup Inggris Richard Williamson, yang sempat menimbulkan kontroversi besar setelah menyangkal Holocaust.
  4. 1 Juli 2026 : SSPX berencana menahbiskan empat uskup baru di Écône, menentang Vatikan.
Tahun Peristiwa Konsekuensi
1988 Penahbisan uskup tanpa izin Ekskomunikasi semua pihak
2009 Pencabutan ekskomunikasi oleh Benediktus XVI Rekonsiliasi parsial
2026 Rencana penahbisan baru SSPX Ancaman ekskomunikasi ulang

Yang membuat krisis ini berbeda dari 1988 adalah konteksnya : Paus Leo baru menjabat sejak Mei tahun lalu dan menjadikan persatuan Gereja sebagai prioritas utama kepausannya. Jika SSPX tetap melanjutkan penahbisan ini, ia tidak hanya berhadapan dengan aturan kanonik, tapi secara langsung menantang visi pastoral seorang Paus yang baru memulai tugasnya. Pertanyaannya bukan lagi soal apakah ekskomunikasi akan dijatuhkan, tapi seberapa jauh rekahan ini akan melebar setelahnya.

Paus Leo desak sekte ultrakonservatif jangan pesan uskup

Rian Pratama
Scroll to Top