Perang suci Pete Hegseth : teologi Kristen militan di balik serangan AS ke Iran

Perwira militer berdiri di ruang perang gereja dengan peta dunia

Sembilan bulan sebelum rudal Tomahawk menghancurkan ruang kelas Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran — menewaskan lebih dari 175 orang, mayoritas anak-anak — pastor pribadi Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berkhotbah di Pentagon. Brooks Potteiger, penasihat spiritual terdekat Hegseth, menyatakan kepada para pemimpin militer AS bahwa Yesus memiliki “kuasa tertinggi atas semua yang jatuh di dunia ini, termasuk rudal Tomahawk dan Minuteman.” Pernyataan itu bukan sekadar retorika religius. Pernyataan itu adalah peta jalan ideologis.

Teologi Calvinis radikal di balik kebijakan perang

Hegseth, mantan pembawa acara Fox News berusia 45 tahun, bukan sekadar politisi yang kebetulan religius. Ia adalah anggota aktif Communion of Reformed Evangelical Churches (CREC), denominasi Calvinis yang meyakini predestinasi mutlak — bahwa segala sesuatu, termasuk bom yang jatuh di sekolah, terjadi atas kehendak Tuhan. Julie Ingersoll, profesor studi agama di University of North Florida, menjelaskan : “Mereka percaya bahwa Tuhan mengarahkan segalanya yang terjadi.”

Arsitek ideologi ini adalah Douglas Wilson, pastor berusia 72 tahun dari Moscow, Idaho, yang selama 50 tahun terakhir berupaya membangun teonimi Kristen di Amerika. Wilson adalah pendukung “patriarki biblis”, menentang hak pilih perempuan, dan tidak menolak hukuman mati bagi homoseksualitas. Pada tahun 1996, ia menulis pembelaan terhadap perbudakan di Selatan Amerika yang menyebutnya sebagai “hubungan berdasarkan kasih sayang mutual” — buku itu akhirnya ditarik karena dugaan plagiarisme. Pengaruhnya kini meluas : CREC telah tumbuh menjadi 150 gereja di seluruh dunia.

Hegseth bergabung dengan gereja Pilgrim Hill Reformed Fellowship — komunitas Wilson — setelah 2018. Untuk bergabung, ia harus tunduk pada disiplin tetua gereja dalam segala aspek kehidupan. Ini bukan afiliasi longgar. Ini adalah komitmen total kepada hierarki gereja yang menolak demokrasi sebagai sumber legitimasi pemerintahan. Seperti dikatakan Ingersoll : “Otoritas yang sah datang langsung dari Tuhan, bukan dari persetujuan rakyat.”

Tato bertuliskan Deus Vult (“Tuhan menghendakinya”) di lengan kanan Hegseth bukan aksesori. Frasa Latin itu dikumandangkan para pejuang Kristen yang merespons seruan Paus Urbanus II pada 1095 untuk merebut kembali Tanah Suci — awal dari Perang Salib. Penting untuk memahami bagaimana tokoh-tokoh evangelis berpengaruh membentuk wajah Kekristenan Amerika, karena Hegseth bukan fenomena terisolasi.

Dari retorika ke kebijakan : konsekuensi nyata ideologi militan

Kristin Kobes Du Mez, sejarawan dari Calvin University dan penulis Jesus and John Wayne (2020), menelusuri bagaimana maskulinitas militan berkembang di kalangan evangelis kulit putih pascaperang dunia kedua. Hegseth, menurutnya, adalah perwujudan sempurna ideologi ini — militerisme yang dibalut kesalehan, dengan mentalitas “tujuan menghalalkan cara” yang membaptis kekerasan atas nama kebenaran.

Berikut kelompok utama nasionalisme Kristen dalam pemerintahan Trump kedua :

  • Reformed/Calvinis — diwakili Hegseth, percaya membangun kerajaan Tuhan di Bumi sebelum kedatangan Yesus kembali
  • Karismatik evangelis — diwakili Paula White-Cain, berfokus pada eskatologi akhir zaman
  • Katolik Integralis — diwakili Steve Bannon dan Kevin Roberts, mendorong integrasi gereja-negara
Figur Aliran Posisi
Pete Hegseth CREC/Calvinis Menteri Pertahanan
Paula White-Cain Karismatik Penasihat Iman Gedung Putih
Mike Huckabee Dispensasionalis Duta Besar untuk Israel

Brian Kaylor, pemimpin redaksi publikasi Baptist Word&Way, menyebut pernyataan Hegseth bahwa “prajurit yang mau mati akan mendapat hidup kekal” sebagai bukan sekadar teologi Perang Salib, melainkan sesuatu yang akan dianggap sesat di sebagian besar Kekristenan hari ini. Sementara itu, Abraham Lincoln pada pidato pelantikan keduanya tahun 1865 mengambil posisi sebaliknya : “Doa keduanya tidak dapat dijawab sepenuhnya. Yang Mahakuasa memiliki tujuan-Nya sendiri.” Pelajaran dari Lincoln justru semakin relevan sekarang — bahwa kepastian religius dalam perang bukan tanda kekuatan, melainkan tanda bahaya paling serius bagi demokrasi.

Perang suci Pete Hegseth : teologi Kristen militan di balik serangan AS ke Iran

jose
Scroll to Top