Tidak ada yang salah dengan menjadi kontrabudaya : panduan lengkap

Wanita punk dengan rambut merah berdiri di studio graffiti

Uskup Agung Richard Moth dari Westminster baru-baru ini membuat pernyataan yang terdengar sederhana, namun sesungguhnya sangat dalam : “Tidak ada yang salah dengan menjadi kontrabudaya.” Ia mengucapkan ini bukan dalam konteks politik atau pemberontakan sosial, melainkan untuk menjelaskan makna imamat selibat di tengah masyarakat yang cenderung menolak komitmen seumur hidup. Satu kalimat, tapi mampu membuka diskusi besar tentang iman, identitas, dan keberanian moral.

Mengapa hidup kontrabudaya bukan bentuk kelemahan

Kita hidup di era di mana profesi tradisional pun sudah bergeser. Uskup Moth menyebut dunia keperawatan sebagai contoh nyata : orang masuk, bekerja beberapa tahun, lalu beralih. Komitmen permanen terasa asing, bahkan mencurigakan. Meminta seseorang untuk selibat, taat kepada uskup, atau mendedikasikan seluruh hidupnya pada satu panggilan — itu bukan hal kecil. Itu sebuah tantangan yang menuntut keberanian tulus.

Tapi justru di sinilah letak kekuatannya. Bagi Moth, pilihan yang melawan arus bukan sekadar askese atau pengorbanan kosong. Ia menegaskan bahwa tanda-tanda kontrabudaya Injil menjadi semakin relevan justru ketika dunia semakin kehilangan arahnya. Imamat, diakonat, hidup religius, pernikahan, dan konsekrasi wanita lajang — semuanya, menurut Moth, adalah facet berbeda dari kasih Allah, bukan sekadar pilihan hidup pragmatis.

Filosofi ini bukan sekadar wacana Gereja. Sepanjang sejarah, tokoh-tokoh seperti Thomas More atau komunitas monastik Benediktin memilih jalan yang bertentangan dengan kekuasaan atau budaya dominan pada zamannya — dan justru meninggalkan jejak paling dalam dalam peradaban.

Bentuk panggilan Dimensi kontrabudaya
Imamat selibat Komitmen total seumur hidup tanpa keluarga inti
Hidup religius Menolak kepemilikan pribadi dan otonomi penuh
Pernikahan Katolik Ikatan tak terceraikan di tengah budaya perceraian
Konsekrasi lajang Kesendirian yang dipilih sebagai bentuk ibadah

Kebangkitan iman dan harapan yang realistis

Di Westminster tahun ini, 790 orang hadir dalam Ritus Pemilihan — sebuah angka yang mengesankan, meskipun Moth sendiri tetap berhati-hati. Ia menekankan bahwa satu atau dua tahun peningkatan baptisan belum cukup untuk disebut kebangkitan sejati. Seorang statistikawan, katanya, akan meminta data 5 hingga 10 tahun sebelum membuat kesimpulan besar.

Namun ada sesuatu yang menarik di balik angka itu. Semakin banyak anak muda datang kepada pastor parokial dengan pertanyaan spontan : “Saya mulai membaca Alkitab. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya ?” Bukan karena diajar, tapi karena mencari sendiri. Moth melihat ini sebagai kemungkinan dorongan Roh Kudus — bukan klaim berlebihan, melainkan bacaan pastoral yang jujur.

Ada tiga faktor yang ia identifikasi sebagai pendorong minat tersebut :

  1. Tekanan dunia yang membuat orang mencari makna lebih dalam
  2. Proses sinodal yang membuka ruang percakapan baru dalam Gereja
  3. Keterlibatan seluruh umat — bukan hanya klerus — dalam misi Gereja

Soal krisis imam pun, Moth menolak narasi “mengelola kemunduran”. Ia justru melihatnya sebagai undangan untuk mendistribusikan misi secara lebih merata. Imam yang terbebas dari tugas administratif bisa kembali fokus pada pewartaan, sakramen, dan kunjungan orang sakit. Situasi yang mirip dengan kondisi komunitas Kristen yang bertahan dalam tekanan ekstrem — iman justru tumbuh ketika strukturnya dipaksa menjadi lebih sederhana dan esensial.

Menjadi kontrabudaya, pada akhirnya, bukan tentang menolak dunia. Ini tentang menawarkan cara pandang lain — bahwa hidup manusia tidak hanya soal pragmatisme, tapi tentang Kerajaan Allah yang nyata dan menuntut respons konkret.

Tidak ada yang salah dengan menjadi kontrabudaya : panduan lengkap

Agung
Scroll to Top