Keluarga kerajaan Inggris berkumpul di Westminster Cathedral untuk menghormati Katharine, Duchess of Kent, yang meninggal dunia pada usia 92 tahun minggu lalu. Upacara ini menjadi momen bersejarah karena merupakan misa requiem Katolik pertama yang dihadiri seorang raja Inggris dalam sejarah modern.
Raja Charles III hadir dalam upacara pemakaman ini meskipun posisinya sebagai “gubernur tertinggi” Gereja Inggris. Kehadirannya menunjukkan penghormatan mendalam terhadap duchess yang telah mengabdikan hidupnya untuk keluarga kerajaan. Prince William dan Catherine, Princess of Wales, juga turut hadir bersama anggota kerajaan lainnya di katedral Katolik tersebut.
Momen bersejarah konversi agama dalam keluarga kerajaan
Duchess of Kent mencatat sejarah pada tahun 1994 ketika ia menjadi anggota pertama keluarga kerajaan yang beralih ke agama Katolik dalam 300 tahun terakhir. Keputusan kontroversial ini membuatnya menonjol di tengah tradisi Anglican yang mengakar kuat dalam institusi kerajaan Inggris.
Paus Leo XIV mengakui dedikasi duchess melalui surat belasungkawa yang dirilis Istana Buckingham. “Saya dengan senang hati bergabung dengan semua orang yang bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa atas warisan kebaikan Kristiani sang Duchess,” tulis Paus dalam suratnya.
Konversi agama ini tidak menghalangi duchess untuk menjalankan tugas-tugas kerajaannya dengan penuh dedikasi. Bahkan, ia lebih memilih hidup sederhana dan bekerja sebagai guru musik di sekolah dasar Yorkshire dengan nama Mrs. Kent, menunjukkan kerendahan hatinya yang luar biasa.
| Aspek | Detail |
|---|---|
| Tahun konversi | 1994 |
| Status dalam keluarga kerajaan | Anggota pertama yang beralih ke Katolik dalam 300 tahun |
| Pekerjaan alternatif | Guru musik di Yorkshire |
| Usia saat meninggal | 92 tahun |
Warisan abadi di turnamen Wimbledon yang memukau dunia
Duchess of Kent dikenal luas oleh jutaan penggemar tenis sebagai sosok elegan yang menyerahkan trofi kepada juara tunggal putra dan putri Wimbledon. Kehadirannya di All England Lawn Tennis Club menjadi tradisi yang dinantikan setiap tahun oleh para pecinta olahraga raket ini.
Momen paling berkesan terjadi pada final Wimbledon 1993 ketika duchess menghibur Jana Novotna yang menangis setelah kalah dari Steffi Graf. Duchess memeluk petenis Ceko tersebut dengan penuh simpati, menciptakan salah satu momen paling manusiawi dalam sejarah olahraga.
Lima tahun kemudian, duchess kembali berbagi kegembiraan dengan Novotna saat petenis tersebut akhirnya meraih gelar Wimbledon pada 1998. “Kami adalah orang-orang normal,” kata duchess dalam wawancara dengan BBC, “Kami memeluk orang yang menangis.”
Pendekatan humanis duchess ini mengubah persepsi publik tentang keluarga kerajaan yang sebelumnya dianggap menjaga jarak dengan rakyat :
- Memberikan dukungan emosional kepada atlet yang kalah
- Berbagi kegembiraan dengan para juara
- Membangun hubungan personal dengan para petenis
- Menunjukkan sisi manusiawi keluarga kerajaan
Dampak mendalam kehilangan tokoh yang dicintai keluarga kerajaan
Kepergian duchess menciptakan kehilangan mendalam bagi Prince Edward, Duke of Kent, suaminya yang kini berusia 89 tahun dan menjadi anggota tertua keluarga kerajaan yang masih hidup. Peti jenazah duchess dibawa oleh tentara Royal Dragoon Guards dalam upacara yang khidmat.
Queen Camilla terpaksa membatalkan kehadirannya karena menderita sinusitis akut, namun diharapkan pulih tepat waktu untuk menyambut kunjungan kenegaraan Presiden Trump dan istrinya Melania ke Windsor Castle. Ketidakhadiran ratu menunjukkan betapa seriusnya kondisi kesehatannya.
Upacara pemakaman ini berlangsung bersamaan dengan persiapan kunjungan kenegaraan penting, namun keluarga kerajaan tetap memprioritaskan penghormatan terakhir kepada duchess yang telah mengabdi puluhan tahun untuk institusi kerajaan dan masyarakat Inggris.
- Selamat ulang tahun ke-80 John Piper : perayaan hidup dan pelayanan yang luar biasa - 10 Januari 2026
- Umat Katolik sebaiknya tidak mengidentifikasi diri sebagai liberal maupun konservatif - 10 Januari 2026
- Umat Katolik Filipina marah atas skandal korupsi saat prosesi keagamaan massal - 9 Januari 2026




