Dalam budaya Portugal, tauromaquia atau adu banteng telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas nasional selama berabad-abad. Hubungan antara Katolikisme dan adu banteng di Portugal mencerminkan perpaduan unik antara tradisi keagamaan dan ekspresi budaya yang masih bertahan hingga saat ini.
Sejarah pertautan iman Katolik dan tauromaquia Portugal
Tradisi adu banteng di Portugal memiliki akar sejarah yang dalam dan terkait erat dengan perayaan keagamaan Katolik. Banyak acara adu banteng diselenggarakan untuk menghormati hari raya santo pelindung setempat atau devosi tertentu, menjadikannya bagian integral dari identitas komunitas.
Berbeda dengan adu banteng Spanyol yang lebih dikenal secara global, versi Portugal memiliki keunikan tersendiri. Matador Portugal melakukan pertarungan dengan menunggang kuda, dan banteng tidak dibunuh di arena. Para penunggang kuda harus menjadi penunggang yang mahir, mampu mengendalikan kuda mereka dengan presisi sambil menancapkan bandarillas (tombak hias bergerigi) ke kulit banteng.
Keluarga Ribeiro Telles, misalnya, telah menjadi simbol adu banteng Portugal selama tiga generasi. António Ribeiro Telles, bersama dua saudaranya, merupakan matador generasi ketiga dari keluarga tersebut. Mereka juga merupakan Katolik yang taat dan rajin menghadiri Misa setiap Minggu, bukan hanya membuat tanda salib sebelum memasuki arena.
Hubungan antara Gereja Katolik dan adu banteng telah mengalami berbagai dinamika sepanjang sejarah. Pada abad ke-16, Paus Pius V pernah mengecam keras praktik ini bahkan mengancam ekskomunikasi bagi siapa pun yang terlibat. Namun seiring waktu, sikap ini melunakkan dengan pembatasan hanya untuk imam yang menghadiri pertunjukan.
| Perbedaan | Adu Banteng Portugal | Adu Banteng Spanyol |
|---|---|---|
| Cara bertarung | Dilakukan dengan menunggang kuda | Dilakukan dengan berjalan kaki |
| Nasib banteng | Tidak dibunuh di arena | Biasanya dibunuh di arena |
| Perlindungan | Tanduk banteng dibungkus kulit | Tanduk banteng dibiarkan terbuka |
Forcados: perwujudan keberanian dan persaudaraan
Elemen unik dalam tauromaquia Portugal adalah forcados—kelompok delapan pemuda yang berpartisipasi dalam pertunjukan setelah matador berkuda. Mereka berbaris di arena sementara pemimpin kelompok memprovokasi banteng untuk menyerang. Kemudian ia berusaha menangkap banteng dengan menempatkan tubuhnya di antara tanduk, menekuk lutut di bawah dagu banteng, dan berpegangan sekuat tenaga, percaya bahwa tujuh rekannya akan membantu menghentikan banteng.
Berbeda dengan matador profesional yang dibayar tinggi, forcados adalah amatir murni dan hampir tidak menerima kompensasi. Mereka termotivasi oleh sensasi berada di arena dan ikatan persaudaraan yang kuat di antara anggota kelompok. João Manoel, seorang forcado dari Santarém, menjelaskan bahwa pengalaman menghadapi banteng seberat 650-700 kilogram di hadapan ribuan penonton menciptakan perasaan yang tidak ada duanya.
Aspek religius juga melekat pada identitas forcados. Banyak arena memiliki kapel, dan kelompok forcados sering berdoa bersama sebelum pertunjukan. Beberapa bahkan menghadiri Misa di hari pertarungan dan memiliki doa khusus yang diucapkan sebelum setiap penampilan.
Di Amerika Serikat, terutama di California yang memiliki komunitas Portugal besar, tradisi adu banteng “tanpa darah” dilakukan dengan pengecualian kebebasan beragama. Bukannya menggunakan bandarillas bergerigi, mereka menggunakan ujung Velcro, dan banteng memiliki bantalan Velcro yang ditempelkan di punggungnya.
Kontroversi dan pembelaan nilai tradisi
Meskipun populer di banyak daerah, adu banteng tetap menjadi praktik yang kontroversial di Portugal. Protes di luar arena sering terjadi, dan aktivis sering menentang keterlibatan Gereja, berhasil menekan banyak organisasi Katolik untuk berhenti mensponsori acara-acara tersebut.
Para pecinta adu banteng menolak karakterisasi dari aktivis bahwa pertunjukan ini adalah tontonan kekejaman terhadap hewan. António Ribeiro Telles mengungkapkan kecintaannya pada banteng aduan: “Kami mencintai hewan dan memperlakukan mereka dengan baik. Kami mempertahankan spesies ini. Jika bukan karena kami, satu-satunya tempat Anda akan menemukan banteng aduan adalah di kebun binatang.”
Beberapa nilai yang dibela oleh pendukung tauromaquia meliputi:
- Pelestarian tradisi budaya yang berabad-abad
- Pembentukan karakter melalui keberanian dan kerja sama
- Keterampilan berkuda yang bernilai tinggi
- Konservasi banteng aduan sebagai spesies
- Penguatan ikatan komunitas lokal
Pastor Tomaz PatrÃcio Dias, yang tumbuh di lingkungan tauromaquia, melihat nilai simbolis dalam forcados: “Ada estetika unik dalam bagaimana ini menggambarkan hubungan manusia dengan hewan, bagaimana dengan kebersamaan dan kecerdasan manusia dapat menaklukkan hewan yang jauh lebih besar dari dirinya; dan dalam risiko, gairah, dan komitmen, yang merupakan bagian dari kehidupan siapa pun.”
Pertautan antara Katolikisme dan adu banteng di Portugal tetap menjadi contoh menarik bagaimana tradisi budaya dan identitas religius dapat berevolusi bersama, menciptakan ekspresi iman yang khas meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan modern dan kritik dari berbagai pihak.




