Pelantikan Uskup Agung Ronald Hicks di Katedral St. Patrick pada hari Jumat lalu menjadi sorotan karena ketidakhadiran Wali Kota NYC Zohran Mamdani. Acara bersejarah yang dipenuhi ritual sakral ini menandai kepemimpinan baru Keuskupan Agung New York, namun untuk pertama kalinya dalam hampir satu abad, kursi yang biasanya diisi oleh kepala pemerintahan kota tersebut justru kosong. Hicks yang berusia 58 tahun menerima tongkat kepemimpinan dari Kardinal Timothy Dolan dalam upacara yang dihadiri ribuan umat Katolik.
Tradisi kehadiran wali kota dalam acara pelantikan uskup agung telah berlangsung sejak tahun 1939, ketika Wali Kota Fiorello LaGuardia hadir dalam pelantikan Kardinal Francis Spellman. Keputusan Mamdani untuk tidak hadir ini menimbulkan gelombang kritik dari berbagai kalangan, terutama dari komunitas Katolik yang berjumlah jutaan di wilayah tersebut. Catholic League New York menyatakan bahwa sikap ini seolah mengirimkan sinyal bahwa umat Katolik tidak diterima di bawah kepemimpinannya.
Kontroversi kehadiran dalam acara keagamaan pejabat publik
Mamdani hanya mengirimkan ucapan selamat melalui platform X dengan kalimat yang terkesan dingin dan formal. Dalam pesannya, ia menulis bahwa dirinya dan Uskup Agung Hicks memiliki komitmen terhadap martabat setiap manusia dan berharap dapat bekerja sama menciptakan kota yang lebih adil. Namun, bagi banyak pengamat, postingan singkat tersebut tidak dapat menggantikan kehadiran fisik dalam momen bersejarah tersebut.
Jadwal publik wali kota pada hari itu menunjukkan ia hanya memiliki dua acara : sarapan antaragama pada pukul 10 pagi dan konferensi pers cuaca musim dingin pada pukul 4 sore. Upacara pelantikan dimulai pada pukul 2 siang, memberikan cukup waktu bagi Mamdani untuk menghadiri acara tersebut. Dalam konteks yang lebih luas, hubungan antara pemerintahan dan institusi keagamaan memang memerlukan perhatian khusus, sebagaimana dapat dilihat dalam perpaduan antara pemerintahan dan agama Kristen yang telah menjadi tradisi penting di banyak tempat.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa kehadiran wali kota dianggap penting :
- Menghormati komunitas Katolik yang merupakan bagian besar dari populasi kota
- Melanjutkan tradisi yang telah berlangsung hampir satu abad
- Menunjukkan inklusivitas kepemimpinan terhadap semua kelompok agama
- Membangun jembatan antara pemerintahan sipil dan institusi keagamaan
Reaksi berbagai pihak terhadap ketidakhadiran wali kota
Bill Cunningham, mantan direktur komunikasi Wali Kota Michael Bloomberg, mengatakan bahwa ini adalah kesempatan yang terlewatkan bagi Mamdani untuk menunjukkan bahwa ia ingin melayani semua segmen masyarakat. Cunningham, yang hadir dalam upacara pelantikan Kardinal Dolan tahun 2009, menekankan bahwa Gereja Katolik adalah salah satu institusi penting yang perlu diperhatikan oleh wali kota New York.
| Wali Kota | Tahun | Uskup Agung yang Dilantik | Status Kehadiran |
|---|---|---|---|
| Fiorello LaGuardia | 1939 | Kardinal Francis Spellman | Hadir |
| Ed Koch | 1984 | Kardinal John O’Connor | Hadir |
| Rudy Giuliani | 2000 | Kardinal Edward Egan | Hadir |
| Michael Bloomberg | 2009 | Kardinal Timothy Dolan | Hadir |
| Zohran Mamdani | 2026 | Uskup Agung Ronald Hicks | Tidak Hadir |
Ken Frydman, juru bicara kampanye Giuliani tahun 1993, mengkritik tajam keputusan Mamdani. Ia menyatakan bahwa wali kota tidak hanya mengabaikan komunitas Katolik yang terdiri dari jutaan warga keturunan Italia, Irlandia, dan kelompok lainnya. Keuskupan Agung New York yang mencakup Manhattan, Bronx, Staten Island, dan beberapa wilayah utara kota, memiliki sekitar 2,5 juta umat Katolik. Setelah publikasi berita ini, juru bicara City Hall menyatakan bahwa Mamdani memiliki konflik jadwal dan mengirimkan salah satu wakil wali kota yang beragama Katolik sebagai penggantinya.




