Talarico sebut diri “Kristen membenci Kekristenan

Pria berbaju hitam berdoa di dalam gereja dengan cahaya stained glass.

James Talarico, kandidat Senat AS dari Texas, kini berada di bawah sorotan publik setelah sebuah rekaman podcast lama kembali beredar. Dalam rekaman dari Maret 2021, ia menyebut dirinya sebagai “Kristen yang membenci Kekristenan”, sebuah ungkapan yang langsung memicu perdebatan di tengah kampanyenya melawan Jaksa Agung Ken Paxton.

Podcast tersebut dipandu oleh Roberto Che Henderson-Espinoza, seorang teolog yang mengidentifikasi diri sebagai transgender dan nonbiner, dengan fokus pada interpretasi progresif dan queer theology. Talarico bahkan menyatakan kekagumannya secara terbuka, menyebut dirinya sebagai penggemar besar karya Henderson-Espinoza, termasuk buku berjudul Activist Theology yang disebutnya sebagai sumber inspirasi.

Apa yang sebenarnya dikatakan Talarico dalam podcast itu ?

Pernyataan Talarico tidak berdiri sendiri. Ia juga mengutarakan pandangan strategis tentang agama dalam politik. Menurutnya, Kekristenan bisa menjadi kendaraan perubahan politik yang efektif, justru karena banyak lawan politiknya pun berbagi tradisi iman yang sama. “Banyak lawan politik kita berbagi tradisi itu,” katanya dalam rekaman tersebut.

Diskusi mencakup berbagai topik yang cukup luas, antara lain :

  • Ras dan identitas budaya dalam konteks teologi
  • Identitas gender dan queer theology
  • Aktivisme politik berbasis iman
  • Peran agama dalam perubahan sosial

Rekaman ini pertama kali diangkat oleh The Federalist pada 23 Juni 2026, memicu reaksi berantai dari berbagai pihak. Talarico sendiri adalah seorang Demokrat dari Austin yang kini mengincar kursi Senat federal, dan ia kerap menampilkan imannya sebagai bagian integral dari narasi kampanyenya.

Respons kampanye dan serangan balik kubu Paxton

Juru bicara kampanye Talarico, JT Ennis, langsung memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan cerminan kebencian terhadap iman itu sendiri, melainkan penolakan terhadap distorsi ajaran Yesus demi kepentingan politik atau kekuasaan pribadi. “James adalah Kristen yang taat dan melawan korupsi agama maupun politik,” kata Ennis.

Pihak Pernyataan utama
JT Ennis (Kampanye Talarico) Komentar itu bukan bentuk kebencian, melainkan kritik terhadap penyalahgunaan ajaran Kristus
Madison Cercy (Kampanye Paxton) Ini bagian dari pola panjang; Talarico menggunakan agama sebagai tameng ideologi progresif

Kubu Paxton tidak tinggal diam. Juru bicaranya, Madison Cercy, menyebut insiden ini bukan hal baru. “Setiap kali komentar seperti ini muncul kembali, ia mengklaim salah konteks. Tapi setelah bertahun-tahun, warga Texas sudah bisa melihat polanya,” ujarnya. Cercy menambahkan bahwa Talarico menggunakan Kekristenan sebagai pelindung untuk gagasan-gagasan ekstrem.

Kontroversi ini tidak hanya soal podcast. Perpustakaan Gereja Presbiterian St. Andrew di Austin, tempat Talarico beribadah dan pernah berkhotbah, diketahui menyimpan buku-buku seperti Gender Queer dan All Boys Aren’t Blue, judul-judul yang sebelumnya telah ditantang atau dihapus dari perpustakaan sekolah umum karena konten yang dianggap eksplisit secara seksual.

Bagi siapa pun yang ingin memahami lebih jauh bagaimana agama dan politik saling berkelindan di Texas, membaca tentang tujuan nasionalis Kristen di Texas serta ambisi politik dan agama mereka bisa memberikan gambaran yang lebih utuh tentang medan pertempuran ideologis yang sedang berlangsung. Perdebatan seputar Talarico bukan fenomena terisolasi, melainkan bagian dari gesekan yang jauh lebih besar antara interpretasi iman dan agenda politik di negara bagian tersebut.

Talarico sebut diri

Agung
Scroll to Top