Alkitab Trump : hubungan rumit antara politisi dan kekristenan modern

Pria berbaju biru bersumpah dengan kitab suci di ruang pengadilan

Trump membaca Alkitab di depan kamera ? Kedengarannya luar biasa — tapi momen itu membuka luka lama soal hubungan rumit Donald Trump dengan kekristenan. Duduk di balik meja Oval Office, tangannya bertumpu pada sebuah buku yang tampak seperti Alkitab, Trump menatap langsung ke kamera sambil membacakan ayat dari 2 Tawarikh. Bukan untuk seluruh Amerika, melainkan untuk sebuah acara bernama “America Reads the Bible” — siaran langsung yang agak berantakan, diikuti sekitar 500 peserta selama satu pekan penuh.

Ayat yang dipilih bukan sembarangan. 2 Tawarikh 7 :14 memang sedang populer di kalangan sayap kanan Amerika : “Jika umat-Ku yang disebut dengan nama-Ku merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka serta memulihkan negeri mereka.” Pilihan ayat ini bukan kebetulan — ini pesan politis yang dikemas dalam bungkus religius.

Rekam jejak Trump dan Alkitab : antara simbol dan substansi

Frankly, momen ini terasa semakin sinis ketika kita melihat sejarahnya. Pada kampanye presiden 2016, Trump tidak mampu menyebut satu pun ayat Alkitab saat ditanya. Di depan pemilih evangelis, ia menyebut ekaristi sebagai “my little wine” dan “my little cracker” — sebuah kesalahan teologis mendasar yang sulit diabaikan. Di sebuah gereja, ia bahkan menaruh uang tunai ke piring komuni yang jelas bukan tempatnya.

Ada beberapa momen yang paling mencerminkan jarak Trump dari iman Kristiani itu sendiri :

  • Menyebut kitab “2 Korintus” sebagai “Two Corinthians” di depan universitas religius
  • Mengakui bahwa ia tidak pernah meminta pengampunan kepada Tuhan — padahal ini inti dari teologi Kristen
  • Tidak meletakkan tangannya di atas Alkitab saat inaugurasi 2024
  • Memposting gambar AI yang menampilkan dirinya sebagai Yesus Kristus di media sosial
  • Menyerang Paus Leo secara terbuka, menuduhnya “lemah terhadap kejahatan”

Deretan fakta ini membuat banyak pengamat mempertanyakan motif di balik pembacaan Alkitab tersebut. Jemar Tisby, sejarawan yang menulis tentang keadilan ras dan iman, menegaskan tanpa basa-basi : “Kamu tidak bisa mengutip Alkitab sambil membenarkan kekerasan, perang, dan pengucilan.”

Siapa yang benar-benar berdiri di balik acara ini ?

Acara itu diorganisasi oleh Bunni Pounds, pendiri dan wakil presiden organisasi bernama Christians Engaged — sebuah kelompok yang fokus memobilisasi suara nasionalis Kristen. Pounds mengklaim Tuhan “memanggilnya” menjadi “misionaris untuk Amerika.”

Peserta acara Posisi / afiliasi
Mike Johnson Ketua DPR AS, pernah gunakan aplikasi anti-pornografi untuk memantau aktivitas internet anaknya
Pete Hegseth Menteri Pertahanan, dikenal sebagai figur militan beraliran Kristen konservatif
Her Voice Movement Menawarkan keanggotaan “visionary” seharga $4.000 per bulan, bonus : e-book dan kaus

Pastor Doug Pagitt dari kelompok progresif Vote Common Good memberikan respons paling tajam kepada Associated Press : “Kalau kamu suka membaca Alkitab, coba jalani isinya.” Itu kalimat pendek, tapi tepat sasaran.

Yang perlu kamu pahami adalah bahwa acara ini bukan sekadar perayaan spiritual. Para kritikus sudah mengingatkan bahwa agenda agama Trump dirancang untuk menguntungkan kelompok Kristen konservatif tertentu, bukan umat Kristiani secara keseluruhan. Selama organisasi peserta acara seperti Faith and Liberty terus melobi melawan perlindungan hak LGBTQ+ dan menyebut pernikahan sesama jenis sebagai “kekejian”, pertanyaan soal kejujuran religius ini akan terus relevan — jauh melampaui satu sesi pembacaan ayat di Oval Office.

Alkitab Trump : hubungan rumit antara politisi dan kekristenan modern

Rian Pratama
Scroll to Top