Pada 22 April 2026, Presiden Donald Trump mengambil bagian dalam program membaca Alkitab berjudul “America Reads the Bible” — sebuah inisiatif tujuh hari yang melibatkan banyak pembaca dari seluruh penjuru negeri. Keterlibatan Trump dalam kegiatan keagamaan publik ini langsung menarik perhatian luas, terutama mengingat rekam jejaknya yang penuh kontroversi dalam hal hubungannya dengan komunitas Kristen di Amerika Serikat.
Bagi sebagian pengamat, langkah ini terasa strategis. Trump pernah membuat pernyataan ganjil soal Alkitab di masa lalu — termasuk saat ia kesulitan menyebut ayat favorit ketika ditanya wartawan. Sejumlah tokoh Kristen evangelis tetap mendukungnya, namun sebagian lainnya mulai mempertanyakan ketulusan kedekatan itu. Inisiatif ini muncul di momen yang tidak sederhana.
Trump dan Alkitab : hubungan yang selalu rumit
Wartawan CNN Betsy Klein melaporkan bahwa partisipasi Trump dalam program ini menyorot kembali dinamika lama yang belum pernah benar-benar tuntas. Selama bertahun-tahun, Trump membangun citra sebagai pelindung nilai-nilai Kristen konservatif, namun pernyataan-pernyataannya tentang iman kerap memunculkan keraguan.
Berikut beberapa momen penting yang membentuk persepsi publik terhadap hubungan Trump dengan komunitas Kristen :
- Pernyataan bahwa ia tidak pernah meminta ampun kepada Tuhan karena ia “tidak melakukan kesalahan”
- Kesulitan menyebut buku Alkitab favoritnya saat diwawancarai
- Foto op di depan Gereja St. John’s, Washington D.C., sambil memegang Alkitab setelah polisi membubarkan demonstran
- Dukungan kuat dari kelompok evangelis meski kontroversi terus bermunculan
Partisipasi dalam “America Reads the Bible” bisa dibaca sebagai upaya memperbaiki citra itu. Namun, bagi para kritikus, gestur simbolik tanpa konsistensi teologis sulit diterima begitu saja.
Dinamika politik yang lebih luas di balik momen ini
Keterlibatan Trump dalam program Alkitab itu bukan satu-satunya peristiwa besar yang terjadi dalam waktu bersamaan. Beberapa perkembangan politik lainnya turut mewarnai minggu ini di Washington.
| Peristiwa | Tokoh utama | Signifikansi |
|---|---|---|
| Perpanjangan gencatan senjata dengan Iran | Trump | Diperpanjang sehari sebelum kedaluwarsa; blokade pelabuhan Iran dilanjutkan |
| Dakwaan pidana terhadap Southern Poverty Law Center | DOJ / Todd Blanche | Terkait program informan yang dihentikan untuk menyusup ke kelompok supremasi kulit putih |
| Peta distrik Virginia menguntungkan Demokrat | CNN / Jeff Zeleny | Berpotensi menambah empat kursi DPR bagi Demokrat |
| The Onion ambil alih InfoWars | Alex Jones | Bagian dari upaya ganti rugi lebih dari $1 miliar kepada keluarga korban Sandy Hook |
Gencatan senjata dengan Iran menjadi salah satu keputusan paling krusial. Trump mengumumkan perpanjangan itu hanya sehari sebelum batas waktu berakhir, seraya menegaskan bahwa blokade pelabuhan Iran akan terus berjalan sampai Teheran menyerahkan proposal damai permanen. Wartawan CNN Kaitlan Collins melaporkan langsung perkembangan tersebut.
Di sisi lain, Departemen Kehakiman AS secara resmi mendakwa Southern Poverty Law Center atas penggunaan informan berbayar untuk menyusup ke organisasi ekstremis. Jaksa Agung Pelaksana Todd Blanche mengumumkan langkah ini, sementara Senator Chuck Schumer justru menghindari pertanyaan soal posisinya terhadap Israel — sebuah sikap yang membuat banyak pihak bertanya-tanya tentang arah Partai Demokrat ke depan.
Semua ini membentuk gambaran minggu yang padat dan penuh tekanan politik. Membaca Alkitab di tengah pusaran ini — entah itu tulus atau kalkulatif — tetap menjadi pertanyaan terbuka yang hanya bisa dijawab oleh konsistensi tindakan Trump sendiri dalam bulan-bulan mendatang.




