Anthony Fauci dan Katolisisme yang Hangat : Analisis

Pria berusia lanjut di ruang perpustakaan dengan buku dan salib

Pada sebuah wawancara dengan BBC yang tayang akhir 2023, Anthony Fauci berjalan menyusuri koridor Georgetown University, kampus berbasis Jesuit tempat istrinya pernah belajar, tempat mereka menikah, dan tempat anak-anak mereka dibaptis. Ketika sang reporter mengagumi keindahan kapel pernikahan mereka, Fauci menjawab singkat : “Ya, memang indah.” Lalu reporter itu bertanya : apakah ia masih datang ke sana ? “Tidak.” Apakah ia masih menjalankan imannya ? Lagi-lagi, jawaban langsung : tidak.

Fauci kemudian menjelaskan alasannya dengan kata-katanya sendiri : “etika pribadi saya sudah cukup untuk menuntun saya ke jalan yang benar,” dan bahwa ada aspek-aspek negatif dari Gereja institusional yang membuatnya enggan. Ia tetap mengidentifikasi diri sebagai Katolik karena telah dibaptis, dikrisma, dan menikah dalam Gereja. Tapi soal praktik iman ? Menurutnya itu terasa seperti pro forma yang tidak ia butuhkan.

Katolisisme hangat : fenomena yang jauh lebih luas dari satu nama

Sikap Fauci bukan anomali. Hampir setengah dari mereka yang dibesarkan dalam tradisi Katolik meninggalkan Gereja dan tidak pernah kembali, menurut data Pew Research Center. Sebagian tetap menjadi “Katolik kultural” yang masih mengidentifikasi diri sebagai Katolik tanpa praktik reguler. Yang menarik, mayoritas dari mereka yang mengklaim identitas Katolik justru meragukan atau menolak sejumlah ajaran moral maupun teologis Gereja. Fauci hanyalah salah satu wajah dari kelompok besar ini.

Masalahnya bukan pada sah atau tidaknya klaim mereka sebagai Katolik. Hukum Kanon sendiri mengakui semua Katolik yang dibaptis dan telah mencapai usia akal budi sebagai anggota Gereja yang terikat oleh hukum eklesiastiknya. Pepatah lama masih berlaku : “Once a Catholic, always a Catholic.” Gereja tetap menjadi ibu yang sabar, selalu siap menyambut kembali.

Persoalan sesungguhnya lebih dalam : mereka, meminjam istilah Kierkegaard, gagal “menjadi apa yang mereka sebenarnya adalah.” Mereka hidup dalam kondisi yang disebut kaum eksistensialis sebagai ketidakautentikan. Dua sisi sandiwara ini sama-sama bermasalah :

  • Mereka mengklaim identitas Katolik, namun mereduksi agama menjadi sekadar etika pribadi
  • Mereka menolak kebutuhan akan Gereja institusional, tapi kembali saat ada pernikahan, baptisan, atau krisis
  • Mereka tidak sepenuhnya percaya, namun juga tidak berani meninggalkan tradisi sepenuhnya

Inilah paradoks Katolisisme suam-suam kuku : terlalu ragu untuk benar-benar menghayati imannya, tapi terlalu enggan untuk benar-benar melepaskannya.

Tipe Karakteristik Risiko spiritual
Katolik fervent Aktif, terlibat penuh dalam sakramen Minimal
Katolik kultural Identitas tanpa praktik reguler Tinggi (ketidakautentikan)
Non-Katolik Tidak mengklaim afiliasi Berbeda, tapi jelas posisinya

Pesan Wahyu dan tantangan nyata bagi Gereja hari ini

Kitab Wahyu 3 :15-18 menyampaikan peringatan keras kepada jemaat Laodikia : “Karena engkau suam-suam kuku, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Komentator abad ke-6, Oecumenius, menginterpretasikan “yang dingin” sebagai mereka yang belum dibaptis, sementara “yang suam-suam kuku” justru lebih berbahaya : mereka yang telah menerima karunia Roh Kudus lewat Baptisan namun memadamkannya melalui kelalaian dan kecintaan pada hal-hal duniawi.

Implikasinya tajam : berada di posisi tengah secara rohani lebih berbahaya daripada berada di luar Gereja sama sekali. Mereka yang “dingin” masih punya harapan. Yang suam-suam kuku sudah memiliki karunia itu, lalu membiarkannya padam.

Tanggapan yang tepat dari komunitas beriman bukan kemarahan atau penghakiman ketika orang-orang seperti Fauci muncul di Misa Natal atau Paskah. Sikap yang benar justru seperti bapa dari anak yang hilang : sambutan hangat dan penuh kasih. Tapi diam saja juga bukan pilihan. Kebenaran harus disampaikan dengan cinta, termasuk kebenaran bahwa mereka yang nyaman di zona tengah itu menghadapi bahaya yang bahkan lebih besar daripada si anak yang hilang dalam perumpamaan Yesus, karena mereka tidak merasa perlu pulang sama sekali.

Anthony Fauci dan Katolisisme yang Hangat : Analisis

Agung
Scroll to Top