Gen Z kurang tertarik gereja karena Trump

Enam remaja berkumpul dengan ponsel di halaman gereja berarsitektur gotik

Hampir separuh generasi muda Amerika memilih menjauh dari gereja, dan nama Donald Trump disebut sebagai salah satu alasannya. Bukan rumor, melainkan angka nyata dari sebuah riset resmi yang kini memicu perdebatan luas di kalangan komunitas Kristen.

Studi yang dilakukan oleh Wheaton College Billy Graham Center Research Institute pada 2024 menyurvei 2.365 orang dewasa Gen Z, berusia 18 hingga 28 tahun. Hasilnya mengejutkan : 48% responden menyatakan bahwa kedekatan Trump dengan kalangan Kristen membuat mereka semakin enggan menghadiri kebaktian gereja. Angka ini bukan sekadar statistik dingin. Ini cerminan dari generasi yang melihat agama dan politik berbaur dengan cara yang mereka anggap problematik.

Angka yang sulit diabaikan : data lengkap dari survei 2024

Survei ini dijalankan bersama National Opinion Research Center melalui panel AmeriSpeak, berlangsung antara 9 Agustus hingga 26 September 2024. Responden diberi tiga pilihan jawaban : “sangat setuju,” “setuju,” dan “sedikit setuju” atas pertanyaan apakah dukungan Kristen terhadap Trump memengaruhi keputusan mereka untuk pergi ke gereja.

Hasilnya terbagi seperti ini :

  • 19% memilih “sangat setuju”
  • 14% memilih “setuju”
  • 15% memilih “sedikit setuju”
  • 52% tetap akan menghadiri gereja meski menyadari kaitan tersebut

Polarisasi politik terlihat jelas dalam data ini. 67% responden dari Partai Demokrat menolak gereja karena asosiasi Trump-Kristen, dibandingkan hanya 21% dari kalangan Republikan. Sementara 74% Republikan muda tetap bersedia datang ke gereja. Independen berada di tengah : 42% dari mereka pun memilih menjauh.

Yang lebih menarik adalah data berdasarkan identitas keagamaan. Berikut persentase masing-masing kelompok yang menyatakan kaitan Trump dengan Kristen membuat mereka kurang tertarik ke gereja :

Kelompok Agama Persentase yang Menjauh dari Gereja
Ateis 72%
Agnostik 65%
Kristen (umum) 44%
Katolik 42%
Agama lain 39%
Protestan 30%

Bahkan 44% dari mereka yang mengidentifikasi diri sebagai Kristen pun merasakan ketidaknyamanan ini. Itu bukan angka kecil untuk komunitas yang seharusnya menjadi basis gereja di masa depan.

Reaksi keras dari Franklin Graham dan konteks yang sering terlewat

Franklin Graham, CEO Samaritan’s Purse sekaligus putra penginjil legendaris Billy Graham, langsung merespons saat studi ini kembali ramai diperbincangkan. Ia menegaskan bahwa riset tersebut tidak berafiliasi dengan Billy Graham Archive and Research Center di Charlotte, North Carolina.

“Survei dua tahun lalu ini sudah usang dan jelas tidak relevan,” tulis Graham dalam pernyataan resminya. Ia juga menyoroti bahwa satu-satunya kaitan ayahnya dengan Wheaton College hanyalah karena Billy Graham pernah bersekolah di sana sekitar 85 tahun lalu.

Kritik itu sah secara kelembagaan, tapi tidak membatalkan datanya. Fakta bahwa hampir setengah Gen Z yang disurvei merasa terdorong menjauh dari institusi gereja adalah sinyal yang perlu dibaca dengan serius, bukan dibantah dengan argumen administratif. Ini sejalan dengan kebangkitan Kristen Gen Z yang tidak pernah benar-benar terjadi seperti yang sering diklaim berbagai pihak.

Yang perlu digarisbawahi : data ini tidak berarti Gen Z akan langsung memenuhi bangku gereja jika Trump tiba-tiba melepaskan identitas Kristennya. Asosiasi negatif yang sudah terbentuk dalam benak generasi ini bekerja jauh lebih kompleks dari sekadar satu figur politik. Gereja yang ingin menjangkau Gen Z perlu mendengarkan mengapa mereka pergi, bukan hanya menghitung berapa banyak yang sudah pergi.

Gen Z kurang tertarik gereja karena Trump

jose
Scroll to Top