Kebangkitan Kristen Gen Z yang tidak pernah terjadi

Ribuan orang berkumpul malam hari dengan lilin menyalakan tangan

Setiap Minggu malam, sekitar 150 anak muda berkumpul di ruang bawah tanah Gereja St. Joseph di Greenwich Village, New York. Mereka berdiskusi tentang filsafat, teologi, dan puisi sambil menikmati anggur dan keju. Pertemuan rutin bernama In Vino Veritas ini didominasi oleh para profesional muda berusia 21 hingga 35 tahun yang bekerja di bidang keuangan, teknologi, dan seni. Kehadiran mereka terus bertumbuh sejak pandemi, dari hanya beberapa orang menjadi ratusan peserta.

Fenomena seperti ini memicu dua interpretasi yang sangat berbeda. Sebagian pendeta, pengamat, dan politisi menyebutnya sebagai kebangkitan Kekristenan tradisional di kalangan generasi muda Amerika. Sejarawan Inggris Niall Ferguson menyatakan pada Desember lalu bahwa dunia mungkin berada di awal fase kebangkitan Kristen. Bahkan Presiden Donald Trump menegaskan dalam pidato kenegaraannya bahwa terjadi pembaruan luar biasa dalam iman dan agama Kristen, khususnya di kalangan kaum muda.

Data demografis menepis narasi kebangkitan Kristen Gen Z

Para demografer agama justru melihat gambaran yang sangat berbeda. Pew Research Center mencatat bahwa pada 2007, 78 persen orang dewasa Amerika mengidentifikasi diri sebagai Kristen. Angka itu turun menjadi 62 persen pada 2023, penurunan yang sebagian besar didorong oleh generasi muda. Sebanyak 44 persen responden yang lahir pada 1990-an mengaku tidak berafiliasi dengan agama apapun.

Berikut beberapa fakta penting tentang religiusitas Generasi Z berdasarkan survei terkini :

  • Hanya 28 persen anak muda dari keluarga religius tetap menjalankan iman mereka secara konsisten.
  • Gen Z adalah kelompok usia yang paling jarang menghadiri ibadah secara rutin.
  • Mereka paling mungkin untuk tidak pernah menghadiri layanan keagamaan sama sekali.
  • Pria Gen Z tidak memimpin kebangkitan—mereka hanya meninggalkan gereja lebih lambat dibanding perempuan.

Gregory A. Smith dari Pew’s Religious Landscape Study menegaskan bahwa jika tren ini berlanjut tanpa perubahan signifikan, Amerika akan terus menjadi semakin sekuler dalam jangka panjang. Stabilisasi angka yang terjadi sejak 2019 bukanlah tanda pemulihan, melainkan sekadar perlambatan dari penurunan yang lebih panjang.

Komunitas tertentu tumbuh, meski tren besar tetap menantang

Meski demikian, data nasional tidak mampu sepenuhnya menangkap dinamika komunitas lokal. Beberapa kongregasi menunjukkan pertumbuhan nyata. Pada Paskah tahun ini, hampir 50 mahasiswa di Harvard akan resmi masuk Gereja Katolik, dua kali lipat dibanding tahun lalu. Di Arizona State University dan University of Michigan, angka konversi juga mengalami peningkatan serupa.

Lokasi Konversi tahun lalu Konversi tahun ini
Harvard ~25 ~50
Arizona State University ~25 ~50
University of Michigan 30 40
St. Joseph’s, New York ~40 ~90

Namun angka konversi perlu dibaca dengan hati-hati. Untuk setiap satu orang yang masuk Katolik, sekitar delapan orang meninggalkan iman tersebut. Pertumbuhan komunitas tertentu juga perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas, sebagaimana ditunjukkan oleh studi yang menunjukkan jumlah Katolik melebihi Anglikan di kalangan Generasi Z di Inggris, yang menggambarkan pergeseran keagamaan serupa di belahan dunia lain.

Yang sesungguhnya terjadi bukan sebuah kebangkitan massal, melainkan pertumbuhan subkultur yang berkomitmen. Seperti ordo Dominikan yang didirikan oleh Santo Dominikus de Guzmán di Prancis abad ke-13—komunitas kecil yang mengubah sejarah melalui persuasi damai. Anak-anak muda yang mencari komunitas, identitas, dan percakapan bermakna menemukan jawabannya di tempat-tempat seperti St. Joseph’s. Mereka bukan representasi generasinya, tetapi kekuatan tandingan budaya yang diam-diam bergerak.

Kebangkitan Kristen Gen Z yang tidak pernah terjadi

Rian Pratama
Scroll to Top