Sekitar 53 juta warga Amerika adalah penganut Katolik — kelompok Kristen terbesar di negeri itu. Satu dari lima pemilih dalam setiap pemilu adalah Katolik. Angka itu membuat gesekan antara Donald Trump dan Paus Leo XIV bukan sekadar urusan teologis, melainkan dinamika politik yang berdampak nyata.
Maryellen Lewicki, anggota jemaat St Thomas More di pinggiran Atlanta, Georgia, menceritakan bagaimana seorang teman dalam kelompok studi Alkitab mingguan mereka berdoa agar Tuhan “melembutkan hati keras” sang presiden. Di gereja Jesuit yang didominasi jemaat progresif itu, ketegangan antara Trump dan pemimpin tertinggi Gereja Katolik terasa sangat dekat.
Ketika presiden berseteru dengan pemimpin 1,4 miliar umat
Konflik ini pecah terbuka setelah Paus Leo XIV — yang lahir di Amerika Serikat — mengecam serangan militer Amerika terhadap Iran. Dalam misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus, ia menegaskan bahwa Tuhan “tidak mendengar doa mereka yang melancarkan perang”. Sebelumnya, para uskup agung Amerika juga sudah mengeluarkan pernyataan pada Februari yang menentang kebijakan imigrasi pemerintahan Trump — langkah yang terbilang berani menurut standar historis Gereja.
Respons Trump tidak lembut. Ia menyebut Leo “lemah terhadap kejahatan” dan mengisyaratkan bahwa kepausan Leo adalah buah dari pengaruh Trump sendiri. Taylor Marshall, komentator Katolik konservatif dengan jutaan pengikut di YouTube, mengakui posisi sulit ini secara jujur : “Jika kamu memilih Trump tiga kali dan ingin tetap setia kepada Bapa Suci, ini memang situasi yang berat.”
Marshall bahkan menjelaskan akar masalahnya — bahwa Trump tidak pernah siap menghadapi kekuatan moral seorang Paus Amerika yang memimpin 1,4 miliar umat di seluruh dunia. Otoritas jenis itu tidak bisa ditaklukkan dengan tweet atau tarif dagang.
Perpecahan di antara umat Katolik Amerika
Secara historis, suara Katolik terbagi cukup merata antar partai. Trump meraih 52% suara Katolik pada 2016 dan 55% pada 2024, unggul 12 poin atas Kamala Harris. Namun Joe Biden, presiden Katolik kedua dalam sejarah AS, juga pernah mengantongi 52% suara dari kelompok yang sama.
Perpecahan internal terlihat jelas berdasarkan latar belakang etnis :
- Katolik kulit putih semakin condong ke Partai Republik dalam satu dekade terakhir
- Katolik Hispanik juga bergeser, tapi lebih lambat
- Lebih dari 60% Katolik Hispanik masih memilih Demokrat
- Sekitar 40% dari total umat Katolik AS berlatar Hispanik, menurut data Pew Research
Sebelum pernyataan Trump soal Leo pun, banyak umat Katolik AS kecewa dengan serangan verbal Trump kepada Paus Leo. Polling Shaw & Company Research (20–23 Maret) menunjukkan dukungan Katolik kepada Trump sudah turun ke 48%, dengan 52% menyatakan ketidaksetujuan — termasuk 40% yang mengungkapkan penolakan kuat.
| Tahun pemilu | % suara Katolik untuk Trump |
|---|---|
| 2016 | 52% |
| 2024 | 55% |
| Maret 2026 (polling) | 48% |
Matthew J. Cressler, sejarawan Katolik yang sedang menulis buku tentang hubungan Gereja dengan gerakan MAGA, mencatat bahwa posisi Paus Fransiskus yang berlawanan dengan Trump pun tidak mengusir umat Katolik dari kubu presiden. Pertanyaannya sekarang : apakah konfrontasi langsung Trump dengan Leo akan mengubah kalkulasi itu ?
Sementara pendukung Trump menuding Leo terlalu lunak terhadap terorisme Islamis, komentator Katolik konservatif Michael Knowles justru menyebut narasi itu sebagai “operasi anti-Katolik” yang sengaja dirancang untuk memecah belah loyalitas umat. JD Vance menyarankan paus agar “berhati-hati” dalam berteologi, padahal Leo adalah sarjana teologi Santo Agustinus — tokoh yang justru pertama merumuskan doktrin perang adil dalam tradisi Kristen.
- Doktrin neraka : mengapa kita membutuhkannya - 30 April 2026
- Katolisisme kehilangan lebih banyak anggota daripada mendapat di AS dan negara lain - 28 April 2026
- Pengikut MAGA lebih mengikuti gereja Trump daripada Kekristenan sejati - 25 April 2026




