Pada Januari 2018, David Frum menulis sebuah kalimat yang kini terasa seperti ramalan : “Jika kaum konservatif yakin mereka tidak bisa menang secara demokratis, mereka tidak akan meninggalkan konservatisme. Mereka akan menolak demokrasi.” Kurang dari delapan tahun kemudian, kata-kata itu terasa lebih relevan dari sebelumnya.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar teoritis. Ketika Donald Trump menyerang Paus secara terbuka pada akhir pekan lalu, sebuah ujian nyata terjadi di depan mata publik Amerika. Dan jawabannya, bagi sebagian besar nasionalis Kristen Amerika, tampaknya sudah terbentuk jauh sebelum pertanyaan itu diajukan.
Nasionalisme Kristen : ketika identitas politik menggeser keyakinan
Nasionalisme Kristen Amerika bukan fenomena baru, tapi intensitasnya meningkat tajam dalam satu dekade terakhir. Umat Katolik Amerika, yang secara historis memiliki hubungan kompleks dengan kekuasaan politik, kini semakin condong ke arah gerakan ini. Loyalitas kepada tokoh politik tertentu mulai mengalahkan loyalitas kepada institusi keagamaan mereka sendiri.
Berikut adalah tiga ciri utama yang membedakan nasionalisme Kristen dari iman Kristen konvensional :
- Prioritas identitas nasional di atas doktrin teologis
- Penggunaan simbol keagamaan sebagai alat legitimasi politik
- Penolakan terhadap otoritas gereja
ketika bertentangan dengan agenda politik
Untuk memahami seberapa jauh pergeseran ini terjadi, penting untuk melihat data konkret dari kelompok pemilih Katolik yang diwawancarai dalam program Focus Group milik Sarah. Hasil wawancara itu mengejutkan bahkan bagi para analis berpengalaman sekalipun.
| Pertanyaan kepada pemilih Katolik | Respons dominan |
|---|---|
| Siapa yang lebih Anda percaya, Trump atau Paus ? | Sebagian besar memilih Trump |
| Apakah serangan Trump terhadap Paus mengganggu Anda ? | Mayoritas menjawab tidak |
| Apakah iman Anda memengaruhi pilihan politik Anda ? | Ya, tapi melalui lensa nasionalisme |
Ketika pilihan harus dibuat : Trump atau Gereja Katolik ?
Fakta bahwa sejumlah signifikan pemilih Katolik Amerika memilih Trump ketimbang Paus mereka sendiri bukan sekadar anekdot. Ini mengonfirmasi prediksi Frum dengan cara yang paling langsung. Konservatisme — dalam bentuk nasionalisme politik — tidak ditinggalkan. Demokrasilah, begitu pula otoritas spiritual, yang dikorbankan.
Untuk memahami implikasi yang lebih luas, iman dan masa depan Kekristenan di Barat justru menjadi pertanyaan sentral. Apakah sebuah tradisi iman mampu bertahan ketika fondasinya dialihkan ke loyalitas partisan ? Sejarah menunjukkan bahwa institusi keagamaan yang bergabung terlalu erat dengan kekuasaan politik cenderung kehilangan kredibilitasnya dalam jangka panjang.
Frankel, seorang analis yang mengikuti dinamika ini sejak 2016, mencatat bahwa proporsi umat Katolik yang mengidentifikasi diri sebagai nasionalis Kristen meningkat hampir 40% antara 2016 dan 2024. Bukan karena mereka meninggalkan gereja secara formal, tapi karena mereka mendefinisikan ulang apa artinya menjadi Kristen di Amerika.
Yang paling mengkhawatirkan bukan serangan Trump terhadap Paus itu sendiri. Yang mengkhawatirkan adalah reaksi — atau ketiadaan reaksi — dari umat Katolik yang seharusnya tersinggung. Ketika seorang pemimpin politik menyerang pemimpin spiritual tertinggi suatu komunitas, dan komunitas itu tetap diam atau bahkan membenarkan tindakan itu, sesuatu yang mendasar telah berubah.
Pertanyaan yang harus diajukan sekarang bukan “apakah nasionalisme Kristen berbahaya ?” — itu sudah terjawab. Pertanyaan yang lebih tajam adalah : seberapa jauh institusi keagamaan Amerika masih punya keberanian untuk berdiri di luar orbit kekuasaan politik ? Jawabannya, berdasarkan bukti yang ada, tidak terlalu meyakinkan.




