Konflik Trump dengan Paus Leo XIV memecah belah umat Katolik

Dua pria berbicara di dalam katedral bergaya Gotik yang megah

April 2026 menjadi bulan yang berat bagi jutaan umat Katolik pendukung Donald Trump. Dua hari setelah Paskah, presiden mengancam Iran dengan pemusnahan. Beberapa hari kemudian, Trump menyebut Paus Leo XIV sebagai “lemah terhadap kejahatan” — tepat di hari yang sama ia mengunggah gambar dirinya sebagai Yesus di media sosial. Ketegangan ini bukan sekadar perselisihan biasa. Mathew Schmalz, pendiri jurnal Journal of Global Catholicism, memperkirakan hingga sepertiga dari 60% umat Katolik yang memilih Trump pada Pemilu 2024 mulai menarik dukungan mereka.

Sejarah mencatat konflik antara pemimpin sekuler dan takhta suci pernah meletus sangat keras. Pada abad ke-11, Paus Gregorius VII berseteru dengan Raja Henry IV soal hak menunjuk uskup. Pada 1303, pasukan Raja Philip IV Prancis bahkan menyerang kediaman Paus Bonifasius VIII secara fisik. Bandingkan dengan era modern : ketika Paus Paulus VI mengkritik Perang Vietnam pada 1965, ia tidak menyebut nama Lyndon Johnson secara langsung. Frank Lacopo, dosen sejarah di Southeast Missouri State University, menyebut konfrontasi Trump–Leo sebagai “belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Amerika.”

Serangan langsung yang membelah komunitas Katolik Amerika

Pada 12 April, Trump memposting di Truth Social bahwa Leo XIV “buruk dalam kebijakan luar negeri” dan harus berhenti melayani kaum kiri radikal. Paus Leo XIV — warga Chicago yang menjadi paus pertama dari Amerika Utara setelah terpilih menggantikan Paus Fransiskus pada Mei 2025 — merespons tegas : ia tidak takut pada pemerintahan Trump dan akan terus mewartakan Injil Katolik. Presiden CatholicVote.org, Kelsey Reinhardt, mengakui bahwa postingan Trump “melanggar batas kesopanan yang penting dalam diplomasi.”

Tiga tokoh yang posisinya kini paling diperhatikan publik :

  • JD Vance — Wakil Presiden dan penganut Katolik yang mengkritik pernyataan teologis Paus Leo soal perang
  • Para Uskup AS — Konferensi Uskup Katolik Amerika Serikat membela Paus Leo dan menegaskan doktrin perang adil berdasarkan ajaran Santo Augustinus
  • MAGA Katolik garis keras — sebagian justru menyambut serangan Trump karena menganggap Leo XIV terlalu liberal

Landon Schnabel, profesor sosiologi di Cornell University, menjelaskan bahwa ketika Trump mengunggah gambar dirinya sebagai Kristus, ia meminta pemilih untuk mendahulukan loyalitas politik di atas keyakinan iman. Itu posisi yang sulit dipertahankan lama. Umat Katolik di seluruh AS memang sudah menentang kebijakan deportasi massal Trump jauh sebelum pertikaian ini memuncak, sehingga retak yang ada semakin dalam.

Apa yang dipertaruhkan menjelang pemilu 2026

Tokoh Posisi Dampak potensial
Donald Trump Menyerang Paus Leo XIV secara publik Berisiko kehilangan suara Katolik moderat
JD Vance Menantang doktrin teologis Paus Reputasi sebagai Katolik taat dipertanyakan
Para Uskup AS Membela Paus Leo XIV Memperkuat otoritas moral Gereja

Stephen Schneck, mantan direktur Institute of Policy Research & Catholic Studies di Catholic University of America, menegaskan bahwa Trump mutlak perlu mengurangi provokasi religiusnya jika tidak ingin menghadapi bencana elektoral. Ia menilai strategi Trump selama ini adalah mengalihkan perhatian publik dengan spektakel baru — dan itu mungkin kembali ia terapkan. Tapi untuk Vance, memoarnya berjudul Communion : Finding My Way Back to Faith yang terbit Juni mendatang akan menjadi ujian nyata : bisakah ia memosisikan diri sebagai jembatan, bukan bahan bakar konflik ?

Konflik Trump dengan Paus Leo XIV memecah belah umat Katolik

Rian Pratama
Scroll to Top