Paus Leo merayakan Paskah pertama sebagai pemimpin Gereja Katolik, hampir setahun setelah wafatnya Paus Fransiskus. Di tengah gejolak dunia yang semakin kompleks, umat Katolik di berbagai penjuru dunia mulai menilai sosok pontifeks baru ini dengan lebih kritis dan penuh harapan.
Gaya kepemimpinan Paus Leo yang hati-hati namun tegas
Berbeda dari Fransiskus yang karismatik dan sering mengejutkan dunia, Leo dikenal sebagai figur yang tenang, diplomatik, dan terukur dalam setiap pernyataannya. Sebelum terpilih sebagai paus, ia dikenal sebagai Kardinal Robert Prevost. Ia pernah mengkritik kebijakan imigrasi pemerintahan Trump di media sosial dan membagikan artikel berjudul “JD Vance salah : Yesus tidak meminta kita meranking kasih kita kepada orang lain.”
Namun setelah terpilih, Leo memilih pendekatan diplomatik. Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio disambut di Vatikan hanya dua minggu setelah pemilihannya. Menurut Iacopo Scaramuzzi, koresponden Vatikan untuk La Repubblica, strategi Leo bukan pada resonansi kata-katanya, melainkan pada efektivitas tindakannya di balik layar.
Vatikan memainkan peran mediasi di Venezuela dan Kuba, berusaha mencegah aksi militer AS di kedua negara tersebut. “Takhta Suci adalah kanselir yang didengar seluruh dunia karena otoritas moralnya,” ujar Scaramuzzi.
| Aspek | Paus Fransiskus | Paus Leo |
|---|---|---|
| Gaya komunikasi | Vokal dan langsung | Terukur dan diplomatik |
| Pendekatan politik | Konfrontasi terbuka | Mediasi diam-diam |
| Hubungan dengan Trump | Terang-terangan kritis | Menyebut nama Trump sekali |
Perang, perdamaian, dan harapan umat Katolik pada pontifeks baru
Perayaan Paskah tahun ini berlangsung di tengah konflik bersenjata di Timur Tengah, dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran. Leo tidak tinggal diam : pada Minggu Palma, ia menyampaikan kecaman terkuatnya dengan menyatakan bahwa Tuhan tidak mendengar doa pemimpin yang “tangannya penuh darah.” Ia bahkan menyebut nama Trump secara langsung kepada para jurnalis, sebuah langkah yang jarang dilakukan paus mana pun.
Terkait konflik Gaza, Leo mengecam “kebarbaran” perang tersebut pada Juli lalu, termasuk serangan yang menghantam satu-satunya gereja Katolik di wilayah itu. Ia kemudian menerima Presiden Israel Isaac Herzog dalam audiensi privat untuk mendorong upaya diplomatik. Insiden terbaru terjadi saat polisi Israel menghalangi Kardinal Pizzaballa memasuki Gereja Makam Kudus di Yerusalem. Israel akhirnya meminta maaf, sebuah langkah yang menurut Scaramuzzi merupakan buah dari pengaruh Leo.
Beberapa umat Katolik berharap Leo lebih bersuara keras. Berikut pandangan yang muncul dari berbagai kalangan :
- Joanne Coleman, guru agama dari Irlandia : “Dia orang baik, tapi harus lebih lantang, terutama soal Trump.”
- Gabriele, penjaga toko suvenir di Vatikan : “Sekarang bukan waktunya untuk bersikap pengecut.”
- Andrea Vreede, koresponden NOS : “Masalahnya bukan kata-katanya, tapi ia kurang didengar — tapi sejak Minggu Palma, itu mulai berubah.”
Para kardinal pun turut memperkuat sikap Leo. Kardinal Domenico Battaglia menulis surat terbuka kepada “para pedagang kematian” yang meraup untung dari penjualan senjata. Kardinal Robert McElroy menyatakan bahwa konflik yang dihadapi Paus Leo melampaui batas perang yang sah secara moral. Pidato Paskah Leo diharapkan menjadi momen penting, memadukan pesan spiritual dengan pernyataan politik yang lebih tegas tentang perdamaian dunia.




