Buku Offensive Christianity karya J. Chase Davis (Founders Press, 184 halaman, $19,98) muncul di tengah perdebatan yang semakin tajam : apakah gereja masa kini sudah kehilangan DNA maskulinitasnya ? Davis tidak basa-basi. Ia menyebut langsung bahwa banyak jemaat telah menyerap asumsi-asumsi feminis, sehingga lelaki Kristen tumbuh menjadi figur pasif yang takut dianggap kasar. Kenyataan ini bukan sekadar opini pinggiran.
Filsuf Susan Moller Okin pernah mengatakan bahwa hukum tidak boleh membiarkan perbedaan alami antara jenis kelamin menentukan nasib seseorang. Ia benar sebagian : biologi bukan takdir mutlak. Tapi biologi juga bukan nol. Tantangan sesungguhnya adalah mengarahkan sifat maskulin dan feminin yang berbeda menuju tujuan yang mulia, bukan meratakan keduanya menjadi satu cetakan yang seragam. Davis berpijak tepat di sini.
Gereja yang kehilangan kekuatan laki-laki
Davis menggunakan istilah offensive Christianity dalam dua makna sekaligus : Kekristenan yang tidak takut menyinggung kuasa-kuasa kegelapan, dan Kekristenan yang aktif merebut wilayah di dunia yang gelap. Dua makna ini saling menopang. Gereja yang hanya bertahan, berkompromi demi “kehadiran yang setia”, justru menciutkan dirinya menjadi biji sesawi yang tidak pernah tumbuh.
Pietisme adalah salah satu akar masalah. Gerakan yang menekankan kesalehan pribadi ini secara tidak sengaja menyingkirkan kekhawatiran konkret seperti pekerjaan, rumah tangga, warisan, dan politik sebagai gangguan duniawi. Akibatnya, sifat-sifat maskulin tradisional yang dibutuhkan untuk tindakan ofensif demi Kristus justru distigmatisasi.
Berikut adalah ciri-ciri yang Davis anggap hilang dari pria Kristen masa kini :
- Kemampuan memimpin rumah tangga dengan otoritas sekaligus pelayanan
- Keberanian menghadapi kejahatan secara langsung
- Ambisi untuk kemuliaan Kerajaan Allah, bukan kemuliaan diri sendiri
- Kesanggupan menjadi tiang komunitas yang nyata
Davis tidak memungkiri Nietzsche. Ia setuju dengan diagnosa sang filsuf Jerman tentang agama yang cengeng dan terkebiri. Tapi ia menolak solusinya. Hanya Kristus yang merupakan “Overman” sejati, model kekuatan yang lemah lembut tanpa menjadi lemah. Tokoh seperti Alfred the Great, Konstantin Agung, dan Ambrosius adalah bukti nyata bahwa keberanian dan pembangunan peradaban bisa tunduk pada otoritas ilahi.
Pria Kristen kuat : antara panggilan dan pembentukan karakter
Revolusi Industri, menurut Davis, telah mencabut “duri dan onak” dari kerja tangan manusia. Pria modern jarang mengalami kepuasan menghadapi alam secara langsung dan menaklukkan kelemahan dirinya sendiri. Ini bukan nostalgia murahan. Ini soal kehilangan konteks pembentukan karakter yang selama ribuan tahun membuat laki-laki menjadi laki-laki.
| Model kepemimpinan | Ciri utama | Bahaya yang dihindari |
|---|---|---|
| Offensive Christianity | Kekuatan terarah, ambisi ilahi | Kompromi dan kepasifan |
| Pietisme defensif | Kesalehan pribadi, penarikan diri | Keterlibatan publik |
| Nietzscheanisme | Kehendak berkuasa tanpa batas | Fondasi moral Kristen |
Davis menekankan bahwa persaudaraan laki-laki adalah faktor penentu yang sering diabaikan dalam pemuridan dan pembaruan gereja. Bukan geng pagan ala Nietzsche, melainkan formasi seperti phalanx : besi mengasah besi, kehormatan maskulin membentuk karakter. Kejujuran berbicara, kepemimpinan rumah tangga, dan tanggung jawab yang dijalankan dengan sukacita justru terasa ofensif bagi budaya yang sedang sekarat.
Pria yang melatih “otot maskulinitas” mereka secara konsisten bukan hanya membangun diri sendiri. Mereka membangun tubuh Kristus. Gereja yang sehat secara doktrinal memahami bahwa pria harus dibiarkan berkembang dalam maskulinitasnya agar jemaat benar-benar bisa meneladani Kristus. Mulailah dari satu langkah konkret : bergabunglah dengan komunitas pria yang menolak kepasifan dan memilih tanggung jawab nyata.
- Kebebasan beragama Katolik Amerika : janji dan risiko - 28 Juni 2026
- Warnock dan Talarico pimpin kebangkitan kristianitas progresif - 26 Juni 2026
- Grup tradisionalis SSPX tantang Paus Leo XIV - 26 Juni 2026




