Lebih dari satu juta orang memadati lapangan terbuka di Madrid pada Minggu lalu untuk menghadiri misa yang dipimpin Paus Leo XIV. Angka itu bukan sekadar statistik kerumunan : itu cermin dari betapa kompleksnya hubungan antara iman, identitas, dan politik di Spanyol masa kini. Kunjungan pemimpin tertinggi Gereja Katolik ini tidak berlangsung dalam ruang hampa. Setiap kata pidatonya di hadapan parlemen Spanyol langsung menyentuh luka-luka politik yang belum sembuh.
Paus Leo mengunjungi Kepulauan Gran Canaria secara khusus untuk bertemu dengan para migran yang bertaruh nyawa menyeberangi rute Atlantik dari Afrika. Menurut International Organization for Migration, setidaknya 1.214 orang tewas atau hilang dalam perjalanan menuju Kepulauan Canary sepanjang tahun lalu saja. LSM-LSM memperkirakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Memilih lokasi itu bukan kebetulan : itu pernyataan.
Ketika iman bertemu politik imigrasi di Spanyol
Spanyol bukan lagi negeri Katolik seperti yang dikenal satu generasi lalu. Lembaga survei negara CIS mencatat sekitar 68 persen warga Spanyol mengidentifikasi diri sebagai Katolik satu dekade lalu. Pada musim semi 2025, angka itu anjlok ke 52,8 persen, dan hanya 17,3 persen yang menyebut diri sebagai praktisi aktif. Namun, paradoksnya, survei Fundación SM “Jóvenes Españoles 2026” menunjukkan kebangkitan identitas Katolik di kalangan Generasi Z : proporsi anak muda yang mengaku Katolik naik dari 31,6 persen menjadi sekitar 45 persen hanya dalam lima tahun.
Pergeseran ini berjalan seiring kecenderungan politik ke kanan di kalangan pemilih muda. Di sinilah letak ketegangannya. Partai Vox, yang dipimpin Santiago Abascal, selama ini menggunakan Katolisisme sebagai penanda identitas nasional Spanyol. Namun pidato Paus Leo di parlemen justru menggali tradisi Sekolah Salamanca, gerakan abad ke-16 yang membela hak-hak penduduk asli Amerika dari logika penaklukan. Pesan itu jelas : kekuasaan diukur dari caranya memperlakukan yang paling rentan.
| Partai | Sikap terhadap migrasi | Respons atas kunjungan Paus |
|---|---|---|
| Vox (Abascal) | Deportasi massal, “remigrasi” | Menganggap pidato Paus sekadar retorika |
| Partai Sosialis (Sánchez) | Regularisasi 500.000 migran | Menyambut kunjungan dengan antusias |
| Partai Rakyat (PP) | Prioritas nasional, aliansi dengan Vox | Posisi ambigu |
Abascal merespons dengan mengatakan kita “harus membedakan pidato dan kebijakan nyata.” Kalimat itu terdengar seperti usaha meminimalkan, bukan sanggahan. Sementara itu, Perdana Menteri Pedro Sánchez justru berada di posisi yang lebih nyaman : pemerintahannya baru membuka jalur regularisasi bagi setidaknya 500.000 migran tak berdokumen. Paus dan Sánchez bahkan tampak sepemikiran soal konflik Iran, yang keduanya sebut sebagai tindakan tidak sah.
Gereja, suara global, dan taruhan elektoral 2027
Frankly, Gereja Katolik tidak bermain untuk satu pemilu. Selama berabad-abad, institusi ini bertahan justru karena naluri kompromisnya. Namun ada kalkulasi lebih dalam di balik pembelaan migran : pusat gravitasi kekristenan sedang bergeser ke Global South, wilayah yang menjadi asal sebagian besar arus migrasi ke Eropa. Membela migran bukan hanya soal prinsip moral : itu juga soal masa depan institusi Gereja itu sendiri.
- Aliansi Vox-PP kini mencakup perjanjian di Extremadura, Aragon, dan Kastilia-León
- Kebijakan “prioritas nasional” yang diadopsi PP mengutamakan warga Spanyol dalam perumahan dan tunjangan
- Serangan Vox terhadap uskup-uskup Spanyol memicu peringatan langsung dari Paus tentang instrumentalisasi Gereja
Untuk Sánchez, peluang taktisnya ada : memisahkan suara Katolik progresif dari pemilih tradisionalis konservatif, sebagaimana dinamika serupa terjadi ketika tokoh Katolik berpengaruh mengambil posisi tegas soal isu sosial. Namun jangan salah : pada isu keluarga dan aborsi, Gereja tetap lebih dekat ke Vox daripada ke kaum sosialis. Posisi itu tidak akan berubah karena datang dari doktrin, bukan kalkulasi elektoral. Justru ketegangan itulah yang membuat kata-kata Paus di Madrid menjadi lebih bergema dari sekadar khotbah.
- Frank Turek : Alien tidak akan mengubah Kekristenan - 19 Juni 2026
- JD Vance : Katolik paling berpengaruh Amerika - 19 Juni 2026
- Teologi tempat : kebutuhan khusus, bukan platitude - 17 Juni 2026




