Di balik tembok Tembok Besar dan kendali ketat Partai Komunis China (PKC), ribuan umat Kristen menghadapi tekanan yang semakin mencekam. Sejak Xi Jinping memperkuat cengkeramannya atas kekuasaan pada 2012, kebijakan “sinicisasi agama” telah mengubah lanskap keagamaan secara drastis. Gereja-gereja ditutup, salib dirobohkan, dan yang paling mengkhawatirkan, sejumlah jemaat menghilang tanpa jejak hanya karena menolak menempatkan loyalitas kepada negara di atas iman mereka.
Kristen menghilang di bawah tekanan negara
Fenomena hilangnya umat Kristen di China bukan sekadar rumor. Open Doors, organisasi nirlaba yang memantau persekusi agama secara global, menempatkan China di peringkat ke-17 negara paling berbahaya bagi umat Kristen pada 2025. Angka ini mencerminkan lonjakan signifikan dibanding satu dekade lalu. Para pendeta gereja bawah tanah, yang menolak terdaftar di bawah pengawasan negara, menjadi sasaran utama penangkapan.
Kasusnya nyata dan terdokumentasi. Pastor Wang Yi dari gereja Early Rain Covenant di Chengdu ditangkap pada Desember 2018 dan divonis sembilan tahun penjara. Ratusan anggota jemaatnya ikut ditangkap dalam operasi yang sama. Tuduhan resminya : “menghasut subversi kekuasaan negara.” Fakta sebenarnya : ia berkhotbah tentang Tuhan yang otoritasnya melampaui negara.
| Tahun | Peristiwa utama | Dampak |
|---|---|---|
| 2018 | Penangkapan Pastor Wang Yi | Ratusan jemaat ditahan |
| 2020 | Revisi aturan keagamaan PKC | Larangan pengajaran agama bagi anak di bawah 18 tahun |
| 2023 | Penggantian gambar Yesus dengan foto Xi Jinping | Dilaporkan terjadi di beberapa provinsi pedesaan |
Pola ini berulang di seluruh negeri. Gereja yang tidak mau bergabung dalam sistem Three-Self Patriotic Movement, yakni lembaga gereja resmi di bawah kontrol negara, menghadapi risiko nyata. Bukan cuma denda administratif, melainkan penggerebegan, perampasan properti, dan penghilangan paksa para pemimpinnya.
Kebijakan “sinicisasi” dan upaya menggantikan Tuhan dengan ideologi negara
Pemerintah China secara resmi mengizinkan kebebasan beragama, tapi dengan syarat : agama harus tunduk pada kepemimpinan Partai. Kebijakan sinicisasi yang digaungkan Xi Jinping sejak 2015 menuntut semua praktik keagamaan “beradaptasi dengan budaya dan nilai-nilai China sosialis.” Dalam praktiknya, ini berarti teks Alkitab harus direvisi agar selaras dengan ideologi PKC.
Tekanan terhadap umat Kristen di China memiliki kesamaan yang mengkhawatirkan dengan situasi di belahan dunia lain. umat Kristen di Maharashtra, India, juga menghadapi pengawasan dan ancaman serangan, menunjukkan bahwa tekanan terhadap minoritas Kristen bukan fenomena tunggal satu negara.
Ada beberapa bentuk konkret penindasan yang dilaporkan terjadi secara sistematis :
- Penghapusan salib dari puncak gedung gereja
- Pelarangan anak-anak mengikuti pendidikan agama
- Kewajiban mendaftar dan melapor kepada otoritas negara
- Penggantian simbol keagamaan dengan propaganda visual PKC
Frankly, ini bukan sekadar soal regulasi administratif. Ini adalah upaya sistematis untuk menggantikan otoritas spiritual dengan otoritas politik. Ketika sebuah rezim merasa terancam oleh loyalitas warganya kepada entitas di luar negara, persekusi menjadi alat, bukan konsekuensi. Dunia perlu membuka mata bahwa di balik pertumbuhan ekonomi China yang dipuja-puja, ada jutaan orang yang menyembah dengan diam dan ketakutan, karena Tuhan yang mereka percaya bukan bernama Xi Jinping.
- Gen Z kurang tertarik gereja karena Trump - 9 Agustus 2026
- Gereja bersama : Katolik dan Protestan Jerman - 8 Agustus 2026
- Victor Marx peringatkan media targetkan Kristen - 6 Agustus 2026




