Paus Leo XIV mengusir umat Katolik yang ordinasi uskup

Paus dan uskup dalam saat liturgi gereja katedral

Pada 1 Juli 2026, sebuah kelompok kecil namun berpengaruh dalam tubuh Gereja Katolik memilih langkah ekstrem : menahbiskan empat uskup secara sepihak di Écône, Swiss, tanpa izin dari Paus Leo XIV. Konsekuensinya langsung dan tegas. Paus Amerika pertama dalam sejarah itu menjatuhkan ekskomunikasi kepada kelompok tersebut, yang dikenal sebagai Society of Saint Pius X (SSPX). Bukan hanya sebuah drama internal, peristiwa ini menandai skisma pertama di masa kepemimpinan Leo XIV.

Mengapa penahbisan uskup tanpa izin paus menjadi garis merah ?

Gereja Katolik berdiri di atas prinsip apostolik yang ketat. Rantai otoritas tidak boleh putus : hanya paus yang berwenang mengizinkan penahbisan uskup. Melanggar aturan ini sama dengan mendirikan gereja sendiri, suatu tindakan yang secara otomatis memutus seseorang dari komunitas Katolik. SSPX sadar betul akan hal ini, namun tetap melanjutkan rencananya.

David Gibson, direktur Center on Religion and Culture di Fordham University, menjelaskan bahwa Vatikan selama beberapa dekade telah memberikan konsesi luar biasa kepada kelompok ultra-konservatif ini. Berbagai akomodasi yang tidak pernah diberikan kepada kelompok progresif justru dinikmati oleh SSPX. Namun kelompok ini tetap menentang otoritas paus.

Berikut adalah kronologi singkat yang membantu memahami konteks skisma ini :

Tahun Peristiwa penting
1960-an Konsili Vatikan II memodernisasi Gereja : kebebasan beragama, dialog antaragama, penghapusan ajaran kebencian terhadap Yahudi
1988 SSPX pertama kali menahbiskan uskup tanpa izin, memicu ekskomunikasi sebelumnya
1 Juli 2026 SSPX kembali menahbiskan empat uskup di Écône, Swiss, tanpa restu Leo XIV

SSPX ingin memutar balik waktu ke era sebelum Vatikan II. Mereka menolak reformasi liturgi, menginginkan misa Latin eksklusif, dan memandang modernisasi sebagai pengkhianatan terhadap warisan Katolik Eropa.

Lebih dari sekadar soal misa latin : rasisme budaya dan politik identitas

Frankly, ini bukan hanya perdebatan liturgis. Gibson menegaskan bahwa dinamika sesungguhnya jauh lebih dalam : SSPX mewakili chauvinisme budaya dan etnis yang ingin mempertahankan dominasi Katolisisme Eropa kulit putih. Kelompok ini merasa bahwa “kemuliaan peradaban lama” sedang dirampas dari mereka.

Padahal, dari sudut pandang teologis Katolik, baptisan menentukan identitas seorang Katolik, bukan etnisitas atau geografi. Seperti yang dikatakan Gibson : “Siapa pun adalah Katolik, baik di Indonesia maupun di Indiana.” SSPX menolak perspektif universal ini secara terbuka.

Kelompok ini memiliki dua senjata nyata :

  • Pengaruh finansial yang signifikan di kalangan Katolik konservatif Barat
  • Dukungan dari figur politik tertentu yang menggunakan isu ini sebagai alat retorika

Gibson menyebut nama JD Vance sebagai contoh mentalitas ini : seseorang yang bahkan tidak memahami misa Latin, namun berani meminta paus “tahu tempatnya” dalam soal teologi. Inilah mengapa taruhannya besar. Paus Leo XIV yang juga mengajak umat Katolik membantu para imigran jelas bergerak ke arah yang berlawanan dengan SSPX.

Apakah perlawanan SSPX akan berhasil ? Dalam konteks Gereja global, mereka sudah kalah. Terpilihnya Leo XIV saja adalah kekalahan simbolis bagi mereka. Namun di Amerika Serikat, Katolisisme konservatif masih kuat dan meluas. Jika arus ini terus menguat dan mengisolasi Gereja Amerika dari komunitas global, Gibson menyebutnya sebagai tragedi nyata bagi masa depan institusi berusia dua milenium ini. Leo XIV kemungkinan akan menjabat selama 20 tahun ke depan. SSPX perlu memilih : beradaptasi atau terus terpinggirkan dari arus utama Gereja yang semakin berwajah global dan beragam.

Paus Leo XIV mengusir umat Katolik yang ordinasi uskup

jose
Scroll to Top