Antara 360 juta hingga 380 juta orang Kristen menghadapi tingkat permusuhan yang tinggi di seluruh dunia. Bukan angka abstrak — ini adalah kenyataan yang didokumentasikan oleh organisasi seperti Aid to the Church in Need. Uskup Robert Barron, pendiri Word on Fire dan Uskup Dioses Winona-Rochester di Minnesota, menuangkan analisis mendalamnya dalam buku terbarunya berjudul “What Do Their Deaths Demand ? Christian Persecution Today” (Word on Fire, 13 April 2026). Argumennya tajam dan tidak mudah diabaikan.
Puluhan ribu orang Kristen terbunuh setiap tahun karena iman mereka. Nigeria, Burkina Faso, Korea Utara, dan China menjadi episentrum kekerasan ini. Tapi Barron menegaskan bahwa penganiayaan tidak hanya soal kekerasan fisik — di negara-negara Barat, tekanan ideologis dari kaum sekuler militan terhadap komunitas Kristen sama nyatanya, meski tidak berdarah.
Mengapa agama Kristen menjadi sasaran utama penganiayaan ?
Barron mengajukan pertanyaan yang jarang disentuh : apa yang membuat Kekristenan begitu mengundang permusuhan lintas zaman ? Jawabannya ada pada sosok pendirinya. Bandingkan cara wafatnya para pendiri agama besar :
| Tokoh | Cara wafat | Kondisi akhir |
|---|---|---|
| Buddha | Usia tua, damai | Dikelilingi murid-murid setia |
| Muhammad | Sakit singkat di tempat tidur | Islam sudah menyebar di Semenanjung Arab |
| Konfusius | Usia tua, tenang | Ajaran diteruskan para pengikutnya |
| Musa | Usia 120 tahun | Memimpin bangsanya ke perbatasan Tanah Terjanji |
| Yesus | Usia 30 tahun, di kayu salib | Ditinggalkan hampir semua murid |
Yesus wafat di instrumen penyiksaan paling brutal di zamannya, dengan seruan keputusasaan di bibirnya. Hampir semua murid-Nya mengkhianati atau melarikan diri. Namun justru inilah inti klaimnya yang paling menggelisahkan : Ia menyatakan diri sebagai Allah — “Aku dan Bapa adalah satu”, katanya. Jika klaim itu benar, seluruh hidup harus diberikan kepada-Nya. Jika tidak, Ia harus ditolak. Tidak ada jalan tengah. Barron menegaskan bahwa provokasi teologis inilah yang terus memicu perlawanan hingga hari ini, bukan sekadar faktor politik atau ekonomi.
Perlu dicatat pula bahwa sumber permusuhan telah bergeser. Abad ke-20 melahirkan lebih banyak martir Kristen dibanding semua abad sebelumnya — terutama dari rezim totaliter sekuler. Kini ancaman terbesar datang dari gerakan Islam radikal, terutama di Afrika dan Asia. Konteksnya berbeda, intensitasnya sama.
Empat langkah konkret yang diusulkan Barron untuk merespons penganiayaan ini
Barron tidak berhenti pada diagnosis. Ia menawarkan respons yang bisa langsung diterapkan. Menurutnya, ada empat tindakan yang seharusnya dilakukan setiap orang Kristen :
- Berdoa dengan sungguh-sungguh — bukan formalitas, tapi penghubung jiwa dengan sumber kehidupan itu sendiri.
- Tetap terinformasi — langganan sumber terpercaya seperti Aid to the Church in Need, ikuti perkembangan, undang korban penganiayaan berbicara di komunitas Anda.
- Berikan bantuan nyata — dukung lembaga yang membangun kembali gereja, menyediakan pangan dan obat-obatan, serta mendanai pendidikan seminaris di negara yang terancam.
- Bela kebebasan beragama di dalam negeri — karena komunitas yang teraniaya di seluruh dunia memandang sistem politik Amerika sebagai mercusuar harapan.
Poin terakhir ini paling sering diabaikan. Ketika kebebasan beragama terkikis di negara paling berkuasa di dunia, dampaknya terasa hingga ke pelosok Nigeria atau Xinjiang. Fenomena ini sejalan dengan kebangkitan Katolik di kalangan generasi muda Amerika yang justru memilih iman sebagai respons atas tekanan budaya sekuler. Ini bukan kebetulan. Penganiayaan terhadap Kristen bukan hanya tragedi kemanusiaan — ini adalah ujian bagi siapa pun yang mengaku menghargai kebebasan dan martabat manusia.




