Sensus Inggris dan Wales tahun 2021 mencatat fakta yang mengejutkan : jumlah warga yang mengidentifikasi diri sebagai Kristen turun ke 46 persen, untuk pertama kalinya dalam sejarah jatuh di bawah setengah populasi. Dua dekade sebelumnya, angka itu masih 72 persen. Penurunan 26 poin persentase ini bukan disebabkan oleh imigrasi, melainkan oleh sekularisasi masif kalangan kulit putih Inggris yang dipercepat sejak revolusi sosial-liberal tahun 1960-an.
Marc Guéhi, bek tengah Manchester City dan timnas Inggris, lahir di Pantai Gading sebelum berimigrasi ke Inggris bersama keluarganya. Ia anak seorang pendeta dan dibesarkan dalam rumah tangga dengan prinsip tegas God First. Pada 2024, ia menjadi berita nasional setelah menulis “Jesus Loves You” di ban kaptennya selama kampanye LGBTQ+ Premier League. Ia menyebut pesan itu tentang kebenaran, cinta, dan inklusivitas.
Pemain keturunan Afrika dan kebangkitan iman Kristen di Inggris
Piala Dunia terakhir menyuguhkan pemandangan menarik : setelah Inggris menang 6-4 atas Prancis di perebutan tempat ketiga, tujuh pemain berkumpul berdoa bersama di lapangan. Semua tujuh pemain itu berkulit hitam dan berwarisan Afrika. Guéhi ada di antara mereka.
Ia bukan satu-satunya. Gelandang Arsenal Eberechi Eze merayakan gol dengan membentuk tanda salib dari dua jari telunjuknya. Rekan setimnya, Bukayo Saka, berbicara terbuka soal imannya : membaca Alkitab setiap malam memberinya keyakinan bahwa Tuhan selalu ada di pihaknya saat turun ke lapangan. Saka berketurunan Nigeria, begitu pula Noni Madueke dari Arsenal, yang menyebut kekristenan sebagai sumber persatuan tim dan ketangguhan mental di ruang ganti.
| Pemain | Asal keturunan | Ekspresi iman |
|---|---|---|
| Marc Guéhi | Pantai Gading | Menulis “Jesus Loves You” di ban kapten |
| Eberechi Eze | Nigeria | Selebrasi gol tanda salib |
| Bukayo Saka | Nigeria | Membaca Alkitab setiap malam |
| Noni Madueke | Nigeria | Menyebut iman sebagai perekat tim |
Para pemain ini bukan sekadar atlet. Mereka mencerminkan wajah baru kekristenan di Inggris modern : bersemangat, terang-terangan, dan berakar dari diaspora Afrika.
Gereja-gereja yang bangkit berkat komunitas Afrika
Di kota Luton, gereja-gereja yang pernah hampir kosong kini hidup kembali berkat jemaat dari Nigeria, Ghana, dan Afrika Selatan. Imigran dari negara-negara Persemakmuran Afrika membawa kembali kehidupan ke gedung-gedung ibadah yang ditinggalkan oleh penduduk asli yang semakin sekuler. Sementara sebagian gereja mencoba menarik jemaat dengan pesta dansa atau golf mini, komunitas Kristen Afrika umumnya menolak pendekatan seperti itu karena memegang standar iman yang jauh lebih ketat.
Ada kelompok nasionalis etnis seperti Restore Britain yang keliru berasumsi bahwa menjadi kulit putih dan menjadi Kristen adalah hal yang sama. Logika itu tidak hanya cacat, tapi juga bertentangan dengan kenyataan. Ironisnya, sebagian bentuk penghinaan terhadap kekristenan justru berasal dari kalangan liberal ekstrem dalam komunitas mayoritas asli.
Berikut adalah tiga faktor utama yang mendorong vitalitas iman Kristen dari komunitas Afrika di Inggris :
- Warisan teologis yang kuat dari gereja-gereja Pantekosta dan Evangelikal Afrika
- Komunitas diaspora yang kohesif, menjadikan gereja sebagai pusat sosial dan spiritual sekaligus
- Komitmen pribadi yang nyata, bukan sekadar identitas budaya yang diwarisi secara pasif
Untuk memahami dimensi yang lebih luas dari peran iman dalam tatanan sosial, menarik membaca mengapa kekristenan perlu berperan dalam menyelamatkan demokrasi bersama Jonathan Rauch, sebuah perspektif yang semakin relevan ketika melihat bagaimana komunitas beriman dari Afrika berkontribusi pada kohesi sosial di negara-negara Barat. Masa depan Kristen di Inggris bukan ditentukan oleh sentimen nativis, tapi oleh mereka yang benar-benar hidup dalam iman itu setiap hari.
- Migrasi Afrika menyelamatkan Kristen hidup - 28 Juli 2026
- Kapelán militer : promosi terikat ideologi Kristen Hegseth - 23 Juli 2026
- Sepak bola dan iman : apakah evangelikalisme merugikan Brasil ? - 22 Juli 2026




