Teknologi menghubungkan miliaran orang setiap hari, namun kepekaan terhadap penderitaan sesama justru semakin memudar. Inilah paradoks zaman yang diangkat Paus Leo dalam pertemuannya, Senin (11/5/2026), bersama delegasi dari Royal Institute for Inter-Faith Studies milik Yordania dan Dikasteri Takhta Suci untuk Dialog Antaragama.
Institut yang berdiri di bawah naungan Pangeran Hasan bin Talal dari Yordania ini menggelar kolokium bertema “Human Compassion and Empathy in Modern Times” di Roma. Forum itu menjadi panggung bagi Paus Leo untuk menyuarakan sesuatu yang tegas : Kristen dan Muslim tidak bisa berdiam diri saat kemanusiaan kehilangan hangatnya.
Belas kasih bukan pilihan, melainkan inti iman
Paus Leo membuka pidatonya dengan menegaskan bahwa belas kasih dan empati bukan sekadar nilai tambahan dalam iman. Keduanya adalah sikap fundamental, baik dalam Kristiani maupun Islam.
Dalam tradisi Islam, ra’fa — belas kasih — dipahami sebagai karunia yang Allah tanamkan langsung di hati setiap mukmin. Lebih jauh lagi, nama ilahi al-Ra’uf (Yang Maha Penyayang) termasuk dalam 99 Asmaul Husna, pengingat bahwa belas kasih selalu bersumber dari Allah sendiri.
Dalam tradisi Kristen, Paus Leo menjelaskan bahwa belas kasih ilahi itu menjadi nyata dan bisa disentuh dalam diri Yesus. Dengan mengambil rupa manusia, Allah tidak sekadar melihat atau mendengar penderitaan — Ia merasakannya sendiri, menjadikan Yesus sebagai perwujudan hidup dari kasih itu.
| Tradisi | Konsep belas kasih | Ekspresi utama |
|---|---|---|
| Islam | Ra’fa — karunia ilahi dalam hati mukmin | Nama Allah : al-Ra’uf |
| Kristiani | Belas kasih Allah yang menjadi manusia | Yesus sebagai wujud kasih yang hidup |
Belas kasih, lanjut Paus Leo, punya implikasi sosial nyata. Dari sudut pandang Kristiani, mencintai kaum miskin dan ikut menanggung penderitaan mereka bukan anjuran melainkan keharusan. Ia secara khusus mengapresiasi upaya murah hati Kerajaan Yordania dalam menyambut para pengungsi — sebuah praktik belas kasih yang konkret dan terukur.
Solidaritas sebagai jawaban atas dinginnya era digital
Kita terhubung lebih dari kapan pun dalam sejarah manusia. Namun arus foto dan video tentang penderitaan orang lain yang mengalir tanpa henti di layar kita justru menumpulkan hati, bukan menggerakkannya. Inilah peringatan keras Paus Leo di bagian akhir pidatonya.
Ia mengutip homili awal Paus Fransiskus yang mengingatkan bahwa kita sudah terbiasa dengan derita orang lain, seolah berkata : “Itu bukan urusanku.” Sikap inilah yang disebut sebagai ketidakpedulian — ancaman terbesar bagi persatuan umat manusia hari ini.
Maka Paus Leo menyerukan misi bersama yang konkret bagi umat Kristen dan Muslim :
- Menghidupkan kembali kemanusiaan di tempat yang sudah membeku
- Memberi suara kepada mereka yang menderita dan tak terdengar
- Mengubah ketidakpedulian menjadi solidaritas yang nyata
Tiga poin ini bukan retorika. Bagi Paus Leo, kekayaan tradisi masing-masing agama — Islam dan Kristiani — adalah modal utama untuk menjalankan misi tersebut. Dialog antaragama bukan sekadar pertemuan formal; ia harus melahirkan tindakan bersama yang menggerakkan dunia.
Pertanyaan yang perlu kamu jawab sendiri : apakah imanmu — apapun namanya — sudah benar-benar mendorongmu untuk bertindak, atau masih berhenti di tataran diskusi ?
- Pelajaran 1964 : apa yang dipelajari Katolik - 13 Mei 2026
- Paus : Kristen dan Muslim harus bersatu - 12 Mei 2026
- Acara doa Trump Rededicate 250 : fokus Kristen - 6 Mei 2026




