Pelajaran 1964 : apa yang dipelajari Katolik

Seorang imam mengajar kelompok siswa di ruang kelas sekolah.

Tahun 1964 menyimpan salah satu babak paling kontroversial dalam sejarah liturgi Katolik modern. Misa “peralihan” yang diberlakukan sebelum reformasi penuh Konsili Vatikan II selesai ternyata memicu reaksi yang jauh melampaui perkiraan para pelopor pembaruan. Penelitian Nico Fassino dari Hand Missal Project membongkar lapisan-lapisan ketegangan yang selama ini kurang diperhatikan oleh para sejarawan Gereja.

Misa 1964 pada dasarnya adalah Misa Latin Tradisional yang diterjemahkan ke bahasa setempat, namun dengan beberapa penyederhanaan signifikan : Mazmur Judica dihilangkan dari awal, Injil Terakhir dipangkas dari akhir perayaan, dan Kanon awalnya masih harus diucapkan dalam bahasa Latin sebelum aturan ini pun akhirnya dilonggarkan.

Ketika umat bingung, bukan berontak

Yang mengejutkan bukan penolakan keras, melainkan kebingungan mendalam yang dirasakan jutaan umat. Sebuah tulisan di publikasi Katolik Amerika Our Sunday Visitor merangkum ribuan surat pembaca dengan kalimat yang tajam : umat tidak memberontak, mereka merasa kehilangan pijakan. Mereka ingin taat, tapi justru merasa semakin jauh dari Kristus, bukan semakin dekat.

Reaksi para uskup pun terbelah. Kardinal John Heenan di Westminster berusaha mempertahankan setidaknya satu Misa Latin per minggu di setiap paroki. Di Rhode Island, Uskup Russell McVinney secara pribadi merayakan Misa Latin di katedralnya karena menghormati umat yang kesulitan beradaptasi. Sikap ini bukan nostalgia semata — ini respons pastoral terhadap realitas yang nyata di lapangan.

Di sisi lain, Fr. Gregory Murray menulis di The Tablet pada 1964 dengan nada yang jauh berbeda : menurutnya, pertanyaan bukan soal apa yang diinginkan umat, melainkan apa yang baik bagi mereka. Paus Paulus VI pun mengakui bahwa reformasi memerlukan “pengorbanan melepaskan tradisi kemarin.” Radio Vatikan bahkan menyatakan pada 1965 : “Kebaruan hari ini adalah tradisi hari esok.”

Tokoh Posisi Sikap terhadap Misa 1964
Kardinal John Heenan Westminster, Inggris Pertahankan Misa Latin di setiap paroki
Uskup Russell McVinney Rhode Island, AS Rayakan Misa Latin demi umat yang kesulitan
Fr. Gregory Murray Penulis di The Tablet Reformasi adalah kebaikan objektif, bukan soal selera

Pelajaran yang tidak boleh dilupakan tentang reformasi liturgi

Fassino menunjukkan bahwa masalah-masalah besar reformasi liturgi sudah muncul sebelum Misa Novus Ordo diresmikan pada 1969 — bukan setelahnya. Ini penting : klaim bahwa segala sesuatu baru rusak akibat ensiklik Humanae Vitae tahun 1968 soal kontrasepsi tidak tahan uji jika kita melihat data kehadiran Misa yang sudah menurun sejak pertengahan 1960-an.

Beberapa pelajaran konkret dari periode ini layak digarisbawahi :

  • Partisipasi aktif umat tidak otomatis meningkat hanya karena bahasa liturgi diganti ke bahasa sehari-hari.
  • Transisi yang berlarut-larut dari 1964 hingga 1970 justru menciptakan kelelahan dan disorientasi spiritual.
  • Mengejek umat yang keberatan bukan strategi pastoral — ini hanya memperparah luka.

Sosiolog-imam Andrew Greeley yang sangat antusias menyambut Vatikan II pun akhirnya mengakui kekecewaannya. Fr. John Sheerin, peritus Konsili dari Amerika, menyatakan bahwa bangku-bangku gereja semakin kosong meski reformasi sudah berjalan. Fakta ini keras dan tidak bisa diabaikan.

Bagi siapa pun yang meninggalkan Katolikisme karena kekecewaan terhadap perubahan liturgi, memahami konteks sejarah 1964 ini bisa membuka perspektif baru. Enam puluh tahun berlalu, dan pluralisme liturgi yang sehat — seperti yang pernah dibayangkan sejumlah pihak pada 1965 — kini mulai kembali hadir. Pertanyaannya bukan lagi apakah tradisi lama layak dipertahankan, melainkan bagaimana mengintegrasikannya secara permanen dalam kehidupan Gereja masa kini.

Pelajaran 1964 : apa yang dipelajari Katolik

Rian Pratama
Scroll to Top